Selasa, 9 Februari 2010
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI : 1 Euro = Rp.12841.4
 
Politik
 
10/05/2008 - 05:57
Sisi Lain Kehidupan Marimutu Sinivasan (2-Habis)
Habis Terang Terbitlah Gelap
Ahluwalia

(cncdesign.com.au)

INILAH.COM, Jakarta – Kerja keras menjadi kunci sukses Marimutu Sinivasan. Berawal dari tekstil, bisnisnya merambah ke berbagai bidang, termasuk engineering. Tapi, sejumlah predikat negatif sempat mampir padanya.

Hampir 71 tahun lalu, seorang keturunan Tamil India lahir di Medan, Sumatera Utara. Bayi yang lahir pada 17 Desember 1937 itu diberi nama Marimutu Sinivasan. Di kota itu, dia menempuh pendidikan dasar hingga universitas.

Tak lama dia duduk di bangku kuliah Universitas Islam Sumatera Utara. Dia keburu bekerja di sebuah perusahaan perkebunan. Di sini pun dia sebentar saja. "Saya merasa tak cocok jadi pegawai," katanya. Maka, ia pun terjun ke dunia bisnis.

Laksana keturunan India lainnya, dia memasuki bisnis tekstil. Itu diawalinya pada 1958. Dua tahun kemudian, dia pindah ke Jakarta. Pada 1962, dia membuka pabrik pembuatan polekat --bahan sarung-- yang pertama di Jakarta. Lima tahun berselang, Sinivasan bisa mendirikan perusahaan batik dan membuka pabrik penyelupan. Bisnisnya makin membesar setelah membeli pabrik batik di Batu, Jawa Timur, pada 1972.

Sinivasan membangun pabrik polyster di Semarang pada 1977. Berikutnya, dia bisa mendirikan pabrik polimer lagi pada 1985/86. Setahun kemudian, sebuah pabrik garmen miliknya berdiri di Ungaran dan sempat dikelola adiknya, Marimutu Manimaren.

Karier Sinivasan sebagai pebisnis makin menjulang tatkala kawasan pabrik Texmaco berdiri di lahan seluar 1.000 hektar di Subang, Jawa Barat. Pabrik itu dilengkapi sekolah politeknik mesin. Menteri Perindustrian saat itu, Ir. Hartarto yang meresmikannya.

Di sini pulalah, pabrik alat berat dan mesin Texmaco dipusatkan. Salah satu produknya, truk Perkasa, dipesan 800 unit oleh TNI. Di Karawang, sebelah timur Jakarta, Texmaco juga membangun kompleks pabrik tekstil seluas 250-an hektar.

Produk tekstilnya, merek Simfoni dan Texana, dikenal luas. Selain untuk kebutuhan dalam negeri, juga banyak dipesan beberapa perusahaan terkenal, seperti Mark & Spencer dari Inggris atau Tomy Hilfiger dari Amerika Serikat.

Sinivasan memang termasuk salah seorang pengusaha nasional yang sangat sukses. Penggemar membaca ini, kala itu, menempati rumah kontrakan di Jalan Pasuruan 4 Menteng, Jakarta Pusat. Rumah bertingkat dua itu ditinggalinya bersama istrinya. Sementara itu, rumahnya sendiri di Jalan Tulungagung, tak jauh dari rumah kontrakannya, tidak ditempati. Tidak jelas apa alasannya.

Di garasi rumah yang lumayan besar itu, terparkir tiga Mercedez Benz tipe 300 E dan satu BWM seri 740 iL. Sinivasan lebih suka mengendarai Volvo 960 hitam nomor B1142NO ketimbang empat mobil lainnya itu.

Ada kebiasaan menarik dari keseharian Sinivasan: ia harus tidur minimal enam jam sehari. "Kalau kurang tidur, konsentrasi saya menurun," katanya. Rupanya, kebiasaan itu sudah bawaan sejak remaja. Bahkan, dulu lebih dahsyat lagi. Lelaki yang sempat memimpin 30-an perusahaan ini biasa tidur sampai delapan jam sehari.

Toh, ia tidak pernah kekurangan waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya. "Kuncinya adalah memanfaatkan jam kerja sebaik mungkin," katanya. Pukul 7.30 WIB, ia sudah asyik di ruang kerja dan baru pulang setelah larut malam.

Berbagai Predikat

Berbagai predikat negatif sudah diberikan kepadanya. Sebut saja pengusaha hitam, pengusaha edan, tukang suap, kriminal, pendiri pabrik rongsokan, dan sebagainya. Tapi, Sinivasan tampak tetap tegar.

Di masa lalu, Sinivasan tidak terlalu ambil pusing atas berbagai penilaian itu. Dia merasa apa dibuat adalah untuk kepentingan bangsa dan negara. Sinivasan berobsesi membangun industri engineering demi kemajuan bangsa dan negara. Pengusaha yang tak sempat main golf dan tenis ini yakin, suatu saat, bisnis engineering yang dibangunnya akan menjadi andalan.

Industri engineering, khususnya otomotif di tanah air adalah killing field. Manakala Indonesia ingin membangun industri otomotif nasional selalu dibantai. Seperti halnya sedan Timor yang sempat menurunkan harga mobil, tapi dibantai kiri-kanan.

Meski ladang pembantaian, Sinivasan tak surut. Jika Jepang dan Korsel mampu mandiri dalam bidang industri barang modal dan otomotif, Indonesia juga bisa. Indonesia tak perlu inferior. "Bung Karno bilang, kita bukan bangsa tempe, dan saya ingin mewujudkan kebenaran pandangan itu," ujarnya.

Sinivasan bukan bangsa tempe. Tapi, dia terantuk. Dia tak mampu mengembalikan setumpuk utang perusahaannya. Akibatnya, dia masuk daftar pencarian orang (DPO) dan namanya masuk red notice interpol. [Habis/disarikan dari TokohIndonesia.com dan sumber lain/I4]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi disini atau akses mobile langsung http://M.inilah.com via ponsel dan Blackberry !