BERITA
INDEKS BERITA
![]() | |
(Istimewa) |
INILAH.COM, PBB – Bersikap terbuka, menjaring banyak kawan, pasti lebih banyak manfaat ketimbang mudaratnya. Itu, akhirnya, disadari oleh pemerintah Myanmar. Dahsyatnya terjangan topan Nargis meluluhkan arogansi mereka.
Saat pertama topan Nargis menyapu kawasan delta Sungai Irrawaddy di Myanmar, awal Mei, pemerintah Myanmar ngotot menangani sendiri segala urusan. Mereka seperti ogah menerima bantuan internasional.
Ketika dunia internasional mengirimkan bantuan, pemerintah junta militer Myanmar tidak mau menerimanya. Ketika relawan internasional berdatangan, pihak imigrasi Myanmar menolak menerbitkan visa buat mereka.
Begitulah keadaan Myanmar di awal bencana. Kebodohan, kecongkakan, dan ketakutan terhadap apapun yang berbau asing, membuat mereka akhirnya tidak berdaya mengatasi akibat terjangan topan Nargis yang begitu dahsyat.
Jumlah korban terus bertambah, bahkan korban tewas mencapai 100.000 jiwa lebih. Tekanan internasional pun kian menggebu. Sudah seperti itu, barulah pemerintah Myanmar terbelalak. Sadar bahwa mereka telah bersikap konyol.
Melalui berbagai negosiasi dan pendekatan, sedikit demi sedikit sikap para jenderal penguasa Myanmar melunak. Mereka mulai mengizinkan bantuan asing masuk meski belum untuk tim relawan asing.
Myanmar hanya mau bantuan internasional itu tersalurkan jika melalui ASEAN, sesuai posisi mereka sebagai anggota organisasi ini.
Untungnya, menghadapi sikap keukeuh para jenderal itu, terutama Jenderal Than Shwe yang memimpin junta militer Myanmar, organisasi internasional tidak lantas patah hati.
Sekjen PBB Ban Ki-moon, misalnya. Pria asal Korea Selatan itu terus berjuang meyakinkan para jenderal Myanmar bahwa bantuan internasional tidak akan disusupi atau disisipi sesuatu yang dapat mendorong rakyat memberontak dan menggulingkan pemerintahan militer.
Ban juga tak henti-hentinya menelepon Than Shwe, meski tak pernah dijawab, untuk meyakinkan bahwa bantuan ini untuk rakyat Myanmar yang saat ini sangat menderita akibat kelaparan dan penyakit pascatopan Nargis.
Setelah beberapa kali gagal meluluhkan hati para jenderal itu, Ban memutuskan terbang ke Myanmar, Rabu (21/5), melalui Bangkok. Di sana, ia langsung menuju lokasi bencana dan menyapa para korban selamat. Ia menyaksikan betapa ratusan ribu rakyat Myanmar begitumenderita dan butuh bantuan.
Bantuan internasional boleh melimpah, tapi yang tersalurkan ternyata hanya 25%. Ini yang membuat Ban bertindak. Ia langsung menemui Than Shwe di Nyapyidaw, ibukota baru Myanmar, Sabtu (24/5).
Ban melakukan pertemuan hampir dua jam dengan Than Shwe, pemimpin junta militer Myanmar. Hasilnya: Than Shwe akhirnya mengizinkan relawan asing masuk ke Myanmar dan bekerja menolong para korban amukan topan Nargis.
Sangat melegakan, tentu. Dan, itulah yang dirasakan Ban. Kini, muncul harapan baru terkait upaya mengurangi jatuhnya korban lebih besar. Ban juga langsung berkoordinasi dengan badan-badan di PBB dan ASEAN untuk menggerojokkan bantuan kepada Myanmar.
Untuk itu pula, Minggu (25/5), lebih dari 45 negara dan organisasi regional bertemu di Yangon. Mereka akan memobilisasi bantuan bagi para korban selamat.
Pertemuan negara-negara donor yang disponsori PBB dan ASEAN itu membahas mekanisme penyaluran bantuan dan penggalangan dana untuk membantu 2,5 juta rakyat Myanmar yang kini sangat membutuhkan uluran tangan dalam mengatasi penderitaannya.
Juru bicara deputi PBB Marie Okabe mengatakan, konferensi ini akan fokus pada penyegeraan penyaluran bantuan dan saat bersamaan juga mengkaji apa yang dibutuhkan Myanmar untuk jangka menengah dan panjang.
PBB sebelumnya meminta penggalangan dana US$ 187 juta, kemudian meningkat menjadi US$ 201 juta. Angka itu kemungkinan bertambah lagi setelah tim ahli internasional mengkaji wilayah terparah akibat sapuan topan Nargis di delta Sungai Irrawaddy.
Dana itu nantinya disalurkan melalui 10 badan PBB dan sembilan organisasi non-pemerintah. Saat ini, PBB sudah menerima US$ 50 juta dana bantuan dan US$ 42,5 juta dalam bentuk komitmen. PM China Wen Jiabao, bahkan, berkomitmen membantu US$ 10 juta.
Apa yang dilakukan dunia internasional ini jelas meringankan penderitaan rakyat dan pemerintah Myanmar. Kerelaan dunia internasional ini adalah bentuk kepedulian terhadap bencana alam dan kemanusiaan, bukan intervensi atau pun tujuan-tujuan negatif lainnya.
Inilah berkah dari terbukanya hati dan pikiran Than Shwe. [I3]
[ Kirim ke teman ]