
BERITA
INDEKS BERITA
![]() | |
(Istimewa) |
Akumulasi pergerakan rupiah kemungkinan berada di 9.160-9.180 per dolar AS. Untuk jangka pendek, memegang rupiah dijamin aman. Apalagi, rupiah pun sudah sangat teruji. Fluktuasinya tak jauh-jauh amat.
Berdasarkan kajian itu, dealer valas Bayu Aini berani memberikan gambaran bahwa rupiah bakal kembali memperoleh apresiasi hari ini. Pasalnya, ia juga tahu pelaku valas enggan memegang dolar AS karena khawatir green back masih tertekan efek global.
Turunnya harga minyak di pasar Asia, Selasa (22/7), dinilai Bayu bisa menjadi sentimen positif yang mendorong penguatan rupiah. Tapi, menurutnya, harga minyak di level US$ 131 per barel bersifat sementara. Masih berpotensi melonjak lagi.
Di sisi lain, pengamat valas PT Integral Investama Tony Mariano mengatakan, komitmen BI untuk intervensi ke pasar valas ikut mendukung penguatan rupiah. Ia memperkirakan, hari ini rupiah akan berada di kisaran 9.130-9.180 per dolar AS. "Rupiah cukup kuat di level 9.180 untuk jangka pendek," ujarnya.
Apresiasi terhadap rupiah juga digambarkan Rully Nova, analis valas PT Bank Himpunan Saudara Tbk. Menurutnya, penguatan rupiah hari ini terkait sentimen positif pasar, terutama berkat masuknya aliran dana asing ke pasar domestik menyusul sukses pemerintah menerbitkan obligasi negara.
Dalam aksi lelang pembelian kembali (debt switching) Surat Utang Negara (SUN) kemarin, pemerintah menerima dana tunai Rp 724,672 miliar.
Dana itu diperoleh setelah menukar 19 seri SUN senilai Rp 4,425 triliun dengan obligasi seri FR0035 yang jatuh tempo 15 Juni 2022 dan memiliki tingkat suku bunga 12,90%.
Debt switching ini juga memperpanjang durasi portofolio utang sebanyak Rp 4,425 triliun jadi 10,79 tahun dari 3,13 tahun sebelumnya.
Lebih lanjut Rully mengatakan, pasar uang domestik masih memberikan keuntungan yang lebih baik kepada investor asing dengan disparitas suku bunga domestik dan The Fed mencapai 6,75%. "Itu yang membuat penempatan dana asing cenderung meningkat," ujarnya.
Rully juga mengatakan, pemerintah harus agresif mengundang investor asing agar mau menempatkan dananya untuk investasi jangka panjang. Masuknya dana asing diandalkan untuk mengurangi tingkat pengangguran sehingga daya beli masyarakat meningkat.
Pemerintah juga harus mampu memanfaatkan tingginya pertumbuhan ekonomi Asia seperti China dan India. Hal ini demi menyikapi pernyataan BI yang mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III 2008 bakal melambat.
"Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2008 berkisar 6,1-6,5% atau lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 6,51%," kata Rully lagi.
Nilai tukar rupiah pada perdagangan kemarin ditutup menguat empat poin ke level 9.143 per dolar AS. Terhadap mata uang asing lain, rupiah juga ditutup menguat.
Rupiah terhadap dolar Singapura naik di level 6.772,26, atas dolar Hong Kong menguat jadi 1.173,45, terhadap dolar Australia menguat di 8.951,9, dan atas euro menguat di 14.565,89. [E1/I3]
[ Kirim ke teman ]