Sabtu, 22 November 2008
Gaya Hidup - Kuliner
  BERITA
  INDEKS BERITA
14/08/2008 04:18
Menu Ayam Kremes dari Yogya
Entin Supriati, Kontributor INILAH.COM
 

(i.pbase.com)
 

INILAH.COM, Jakarta - Sampai sekarang ada yang tidak bisa dipahami dari menu ayam goreng di restoran. Jika ayam kampung asli Indonesia amat sangat sedap, mengapa potongan ayam gemuk bergelambir lemak dari negeri jauh lebih populer?

Alasan marketing atau strategi usaha lokal atau global sementara waktu mari kita sisihkan, lebih baik bersantap di restoran Ayam Goreng Mbok Berek Ny Umi di Metro Pondok Indah atau Jl Prof Supomo, Tebet, Jakarta Selatan.

Menu utama tentu saja ayam goreng kremes, sebaiknya jangan pesan setengah porsi, langsung satu ekor saja. Karena ini adalah ayam kampung langsing, yang disantap berdua atau bertiga sepertinya tidak akan bersisa kecuali berniat menyisihkan untuk dibawa pulang.

'Teman-temannya' ayam kremes ini ada tempe, tahu, gudeg, krecek, ati ampela, sayur lodeh, gado-gado, sayuran, sambal terasi hingga gurame goreng. Namun jagoannya tetap ayam goreng.

Sambil menunggu pesanan datang, tidak ada salahnya membaca silsilah klan bisnis ayam goreng Mbok berek, yang tersaji di lembaran menu.

Resep ayam ini aslinya dari Yogyakarta. Mulai keluar kandang menjelajah perut lain kampung sejak 30 tahun lalu. Memasak ayam kremes ala Mbok Berek tidak terlalu sulit.

Mula-mula ayam muda dibumbui tumbuhan bawang merah, bawang putih dan garam plus lengkuas, daun salam dan santan. Digodok hingga airnya habis, ayamnya empuk. Diamkan beberapa waktu lalu goreng dengan minyak yang sangat panas.

Terlihat simpel. Namun lain tangan lain pula rasa yang dihasilkan. Termasuk kremes yang merupakan campuran tepung beras itu.

Menyantap ayam goreng Mbok Berek sebaiknya waktu makan siang, dan jangan ragu untuk mencicipi sambal yang tidak terlalu pedas itu. Perut kenyang senyum mengembang lagi pula harganya tidak terlalu jauh dengan 'gerombolan' ayam gemuk ala restoran cepat saji.

Jika dua orang mampir ke restoran Ayam Goreng Mbok Berek Ny Umi, paling-paling seorang merogoh Rp50.000, sudah termasuk minum.

Sedikit lebih mahal dibanding ayam goreng di restoran cepat saji yang pucat, gemuk banyak garam. Namun soal rasa, sekali lagi, ini masalah selera yang tidak bisa dibodohi oleh cara pemasaran apapun.

[L1]

[ Kirim ke teman ]



Layanan Mobile | RSS | Tentang Kami | Kontak kami
Copyright © 2007-2008 Inilah.com. All rights reserved Inilah.com