Sabtu, 22 November 2008
Ekonomi - Keuangan
  BERITA
  INDEKS BERITA
26/08/2008 07:44
Rupiah Hari Ini Terjepit
Asteria dan Natascha
 

(inilah.com/Subekti)
 

INILAH.COM, Jakarta – Nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa (26/8) diperkirakan masih dalam tekanan. Penguatan dolar terhadap mata uang lain serta tren melemahnya harga minyak membuat posisi rupiah terjepit.

Analis Integral Investama Tony Mariano pergerakan rupiah pekan ini masih dipengaruhi pergerakan harga minyak dunia. Oleh karena itu, ia menyarankan agar investor mencermati pergerakan harga minyak.

“Jatuhnya harga minyak dan komoditas dapat mendorong dolar terapresiasi,” ujarnya. Ia pun mengatakan titik support rupiah hari ini ada di level 9.140 sedangkan level resistan di posisi 9.160 per dolar AS.

Sedangkan analis HSBC Ruben mengatakan, dolar AS pekan ini cenderung bergerak menguat karena merosotnya harga minyak mentah dunia. Sementara secara teknikal mata uang yen dan euro sudah dalam posisi overbought.

Lebih lanjut ia menilai, pasar saat ini sudah masuk dalam periode konsolidasi. “Saya prediksikan rupiah hari ini akan diperdagangkan di level 9150-9180 per dolar AS,” papar Ruben.

Selain itu, mata uang euro kembali mengalami pelemahan, terutama karena adanya kemungkinan pembatalan kenaikan suku bunga oleh bank sentral Eropa (ECB). Ini terkait indikasi perlambatan ekonomi yang terjadi di kawasan Eropa, terutama Jerman, salah satu negara dengan ekonomi paling kuat.

“Hal ini menguntungkan dolar AS karena pelaku valas merealisasikan keuntungan pada euro dan yen. Dolar pun berpotensi menguat,” tambahnya. Namun, penguatan dolar hanya sementara karena tidak didukung oleh adanya pemulihan fundamental ekonomi negara Paman Sam tersebut.

Selain itu, dolar belum mendapat dukungan dari suku bunga The Fed. Apalagi bank sentral AS itu diperkirakan masih belum akan menaikkan suku bunganya. “Jadi penguatan dolar kali ini lebih banyak ditopang oleh harga minyak,” tandas Ruben.

Meski dolar menguat, Ruben masih optimistis rupiah tetap stabil. Hal ini karena BI masih akan tetap menjaga rupiah di kisaran aman di level 9.160-9.165 per dolar AS. BI akan mengintervensi pasar, apalagi cadangan devisa per Juli cukup banyak, mencapai US$ 60 juta. “BI akan menjaga rupiah, sehingga rupiah tidak kemana-mana,” jelasnya.

Di sisi lain, pengamat pasar valas Edwin Sinaga mengatakan, peluang rupiah untuk kembali naik masih tetap tinggi, meski penawaran obligasi pemerintah melalui ORI Seri 005 kepada masyarakat cenderung kurang ramai yang menunjukkan permintaan masyarakat agak lesu.

Masuknya perusahaan dari Timur Tengah, Qtel di PT Indosat diperkirakan akan diikuti perusahaan lain dari kawasan itu. “Hal ini akan membuat posisi rupiah kembali membaik. Rupiah pun kembali berpotensi menguat mendekati kisaran harga 9.000 per dolar AS,” ujarnya.

Kurs rupiah di pasar valas kemarin ditutup melemah 20 poin ke level 9.155 per dolar AS setelah pada akhir pekan lalu diperdagangkan di level 9.135. Dolar AS menanjak hingga level 1.8416 terhadap poundsterling. Selain itu, dolar AS juga mengalami penguatan terhadap tiga mata uang utama dunia yaitu euro, swiss franc, dan yen. [E1]

[ Kirim ke teman ]



Layanan Mobile | RSS | Tentang Kami | Kontak kami
Copyright © 2007-2008 Inilah.com. All rights reserved Inilah.com