Sabtu, 22 November 2008
Ekonomi - Keuangan
  BERITA
  INDEKS BERITA
26/08/2008 18:46
Wajah Rupiah Kali Ini Muram
Asteria
 

(istimewa)
 

INILAH.COM, Jakarta – Seiring jatuhnya pasar bursa, nilai tukar rupiah sore ini juga ditutup melemah. Hal ini dipicu oleh beberapa sentimen negatif seperti penguatan dolar AS dan naiknya minyak mentah dunia.

Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antar bank Jakarta, Selasa (26/8) melemah 15 poin menjadi 9.170 per dolar AS dibanding penutupan hari sebelumnya di 9.155.

Direktur Retail Banking PT Bank Mega Tbk, Kostaman Thayib mengatakan rupiah tertekan karena pelaku lokal masih melakukan aksi beli dolar AS meskipun jumlahnya berkurang. "Pembelian dolar AS oleh pelaku pasar lokal masih berlanjut terpicu pemain asing yang masih memburu dolar AS di pasar global," katanya.

Menurut Kostaman, rupiah masih tertekan oleh negatifnya pasar eksternal, akibat merosotnya harga minyak mentah dunia yang mencapai US$ 114 per barel setelah sebelumnya sempat menguat ke level US$ 120 per barel.

“Harga minyak mentah mengakibatkan pelaku asing memburu dolar AS, sehingga mata uang asing itu di pasar global menguat terhadap mata uang utama Asia lainnya,” ujarnya. Kenaikan dolar AS itu, lanjutnya, juga didukung keluarnya data penjualan rumah bekas AS pada Juli yang mengalami kenaikan 3,1%.

Sementara itu, analis pasar uang dari Bank Century Frans Darwin Sinurat mengatakan, melemahnya rupiah juga disebabkan tingginya kebutuhan korporat akan dolar menjelang akhir bulan. Sedangkan hasil lelang tiga seri Surat Utang Negara (SUN) dan penerbitan sukuk, tidak mampu menolong penguatan rupiah.

Dalam lelang SUN, pemerintah menyerap dana sebanyak Rp 3,95 triliun dari penawaran yang masuk sebesar Rp 5,685 triliun. Untuk seri SPN20090731 (reopening) yang jatuh tempo pada 31 Juli 2009, penawaran mencapai Rp 2,056 triliun, namun hanya diserap Rp 1,7 triliun dengan yield tertimbang 10,7%.

Sedangkan seri FR0036 (reopening) dengan tingkat bunga tetap (fixed rate) 11,5% dan jatuh tempo 15 September 2019, jumlah penawaran yang masuk mencapai Rp 2,680 triliun namun yang dimenangkan Rp 1,5 triliun dengan yield 12,2%.

Terakhir adalah seri FR0050 (reopening) dengan tingkat bunga tetap (fixed rate) 10,50% dan jatuh tempo pada 15 Juli 2038. Jumlah penawaran seri ini tercatat Rp 949 miliar sementara penawaran yang diterima Rp 750 miliar dengan yield 12,5%.

Di sisi lain, total permintaan investor terhadap Surat Berharga Syariah Negara (SBSN/Sukuk Negara) mencapai Rp 8,07 triliun, lebih tinggi dari target indikatif yang ditetapkan agen penjual sebesar Rp 5 triliun. Namun jumlah penawaran yang dimenangkan pemerintah hanya sebesar Rp 4,699 triliun.

Penawaran yang masuk untuk SBSN Seri IFR-0001 dan IFR-0002 masing-masing Rp 4,839 triliun dan Rp 3,231 triliun, sedangkan jumlah penawaran yang dimenangkan kedua seri tersebut masing-masing Rp 2,714 triliun dan Rp 1,985 triliun.

Sementara yield tertinggi yang masuk untuk IFR-0001 dan IFR-0002 sebesar 13,50% dan 12,75%. Yield tertinggi yang dimenangkan masing-masing seri SBSN tersebut adalah 11,80% dan 11,95%.

Dolar saat ini masih terpantau perkasa terhadap mata uang kuat lain. Poundsterling turun 0,3% menjadi 1,8468 dollar. Sedangkan terhadap yen, dolar masih kokoh dan mencatat kenaikkan sebesar 0,2% menjadi 109,47 yen.

Sementara itu, mata uang kawasan di Asia terhadap dolar didominasi pelemahan. Mata uang won Korea anjlok 1,35%, rupee India turun 0,8%, peso Filipina jatuh 0,79%, dolar Singapura merosot 0,51%, bath Thailand turun 0,41%, yen Jepang melemah 0,4%, dan Dolar Hong Kong terkoreksi 0,01%. [E1]

[ Kirim ke teman ]



Layanan Mobile | RSS | Tentang Kami | Kontak kami
Copyright © 2007-2008 Inilah.com. All rights reserved Inilah.com