Sabtu, 22 November 2008
Ekonomi - Keuangan
  BERITA
  INDEKS BERITA
27/08/2008 08:13
BI Beraksi, Rupiah Terlindungi
Prediksi Nilai Tukar Rupiah, Rabu (27/8)
Asteria & Natascha
 

(inilah.com/Subekti)
 

INILAH.COM, Jakarta - Nilai tukar dolar AS tiba-tiba menguat. Rupiah pun agak tertekan. Itu bisa terjadi lagi pada perdagangan Rabu (27/8) ini. Untungnya, BI terus beraksi melindungi rupiah. Kalaupun merosot, angkanya tak seberapa.

Analis UOB Bank Dwita mengatakan, dolar AS berpotensi kembali menguat. Positifnya data-data konsumen seperti penjualan rumah di AS Juli yang naik 3,1% dibandingkan bulan sebelumnya jadi pemicu.

Penguatan dolar AS jelas bisa menyebabkan perdagangan overnight rupiah (NDF) di pasar luar negeri tertekan. Dan itu berimbas pada perdagangan domestik yang bakal mendorong rupiah berfluktuasi.

Tapi, pasar tidak perlu kelewat risau. BI akan terus beraksi melindungi pergerakan rupiah di level 9.200 per dolar AS. "Saya prediksikan rupiah berada di kisaran 9.190-9.200 per dolar AS," kata Dwita.

Menurut Dwita, BI menjaga rupiah dengan tidak menaikkan BI Rate. Pasalnya, dengan kenaikan tingkat bunga, biaya pembayaran bunga Surat Utang Negara (SUN) dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) jadi tinggi.

Hal itu terlihat dari tingkat inflasi tahunan per Juli yang sudah di posisi double digit, yaitu di angka 11,9% dan BI belum juga menaikkan suku bunga acuannya. Padahal, tingkat suku bunga deposito sudah di atas 10%. "Ini berarti rupiah sudah tidak menarik bagi investor jika BI tidak menaikkan suku bunganya," tutur Dwita.

Yang membuat investor masih bertahan melakukan transaksi di rupiah adalah karena aktifnya BI melakukan sterilisasi. Mekanisme ini adalah langkah BI menstabilkan posisi rupiah. Caranya, melakukan pembelian lewat bank-bank BUMN.

Meski real interest rate negatif, dengan BI Rate 9% dan inflasi 11,9%, tetap tidak ada forex loss dari nilai tukar rupiah. "BI lebih memilih menjaga volatilitas rupiah dengan mekanisme sterilisasi sehingga pelaku valas masih tertarik," tukas Dwita.

Hal senada diungkapkan Direktur Retail Banking Bank Mega Kostaman Thayib. Menurutnya, dolar AS masih diburu pelaku pasar lokal karena penurunan harga minyak mentah dunia akan berlanjut.

"Harga minyak mentah mengakibatkan pelaku asing memburu dolar AS sehingga mata uang asing itu di pasar global menguat terhadap mata uang utama Asia lain," jelas Dwita.

Rupiah berpeluang mencapai angka 9.200 per dolar AS pada pekan ini kecuali BI masuk ke pasar mengantisipasi dengan tekanan negatif itu. "BI akan masuk pasar jika tekanan terhadap rupiah menguat. Saat ini, BI hanya melihat situasi pasar," ucap Dwita lagi.

Sementara kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar valas kemarin melemah 15 poin ke 9.170 per dolar AS. Sementara nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing lainnya ditutup bervariasi.

Rupiah terhadap dolar Singapura menguat di 6.445,95, atas dolar Hong Kong turun ke 1.176,96 , terhadap dolar Australia menguat di 7.815,17, dan atas euro melemah di posisi 13.404,53. [E1/I3]

Tags : rupiah, dwita

BERITA TERKAIT
load in : 0.004436970 "

[ Kirim ke teman ]



Layanan Mobile | RSS | Tentang Kami | Kontak kami
Copyright © 2007-2008 Inilah.com. All rights reserved Inilah.com