Sabtu, 22 November 2008
Ekonomi - Keuangan
  BERITA
  INDEKS BERITA
27/08/2008 11:13
Bursa Komoditas Terpiuh-piuh
Yusuf Karim
 

(inilah.com/Bayu Suta)
 

INILAH.COM, Jakarta – Tak ubahnya dua sisi mata uang. Begitulah wajah bursa saham dan bursa komoditas di Indonesia saat ini. Yang satu menjulang tinggi, satunya lagi terpiuh-piuh. Bursa komoditas masih dilihat dengan sebelah mata.

Di perdagangan komoditas riilnya yang terjadi kebalikannya. Indonesia malah masih termasuk rajanya. Mulai kelapa sawit, emas, timah, kakao, atau pun minyak. Indonesia menempati deret 10 besar di daftar produsen komoditas yang sedang naik daun di pasar internasional.

Tapi, entah kenapa, popularitas bursa komoditas Indonesia justru tak kunjung melambung. Ibarat pepatah, mati segan, hidup pun enggan. Gambaran itu mewarnai bursa komoditas di Tanah Air.

Keberadaan bursa komoditas yang kuat bakal mendorong terbentuknya harga acuan di dalam negeri. Saat ini, harga komoditas masih mengacu pada harga transaksi di bursa luar negeri.

Kepala Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi) Deddy Saleh menyebut, harga acuan komoditas belum terbentuk karena peserta lelang selama ini sedikit. Padahal, pembentukan harga acuan ditentukan berdasarkan kekuatan pasar.

"Karena itu, kami akan gencar berkampanye demi memopulerkan lelang komoditas. Lelang yang baik adalah bisa bertransaksi dengan banyak pihak," kata Dedddy kepada INILAH.COM di Jakarta, Selasa (26/8).

Lembaga yang mengawasi BBJ ini mengakui, hingga kini bursa komoditas belum diminati investor. Padahal, BBJ sudah berdiri pada 2000 dan untuk Stock Index Future mulai 2002. Sebelumnya bernama Spot Index.

Jadi, selama 2000 hingga 2002, BBJ hanya berorientasi ke komoditi. Pengawas komoditas adalah Bappebti yang masih berada di bawah Departemen Perdagangan.

Deddy menilai, saat ini pasar lelang komoditas di Indonesia masih menghadapi kendala karena belum menerapkan standar baku dan kualifikasinya belum jelas. "Perlu sosialisasi agar diketahui standarnya," lanjutnya.

Saat ini, menurut Deddy, harga beberapa komoditas mengikuti harga transaksi di luar negeri. Misalnya, harga CPO berpatokan kepada Malaysia, harga timah mengacu ke Singapura, dan kopi mengikuti harga di London. Padahal, banyak negara tak memproduksi sendiri komoditas itu.

Deddy memaparkan, tidak mudah menciptakan harga acuan karena perlu grand scenario. Selain jumlah peserta lelang yang banyak, lelang komoditas perlu dikelola profesional. Ia berharap, penyelenggara lelang jadi badan usaha dan lelang dibuat komersial seperti di negara-negara maju.

"Jika demand lelang komoditas makin besar, tuntutan untuk mengelola secara profesional juga makin besar. Kami berencana mewajibkan penyelenggara lelang menawarkan jaminan kepada peserta untuk mengantisipasi gagal bayar atau gagal pengiriman," tegas Deddy.

Dalam situs resmi BBJ yang di-update Selasa (26/8), Bapepti mencabut beberapa izin wakil pialang. Di antaranya, PT Millenium Penata Futures, PT International Business Futures, PT Kontak Perkasa Futures, PT Solid Gold Berjangka, PT Rifan Financindo Berjangka, dan PT Valbury Asia Futures.

Pencabutan izin juga menimpa PT Goldmany Futures, PT Midtou Aryacom Futures, PT Buana Investment Global Futures, PT Jalatama Artha Berjangka, PT Century Investment Futures, PT Maxgain International Futures, PT Global Artha Futures, dan PT Masterpiece Futures. [I3]

Tags : bursa, komoditas, cpo, minyak

BERITA TERKAIT
load in : 0.004817009 "

[ Kirim ke teman ]



Layanan Mobile | RSS | Tentang Kami | Kontak kami
Copyright © 2007-2008 Inilah.com. All rights reserved Inilah.com