BERITA
INDEKS BERITA
![]() | |
(inilah.com/Wirasatria) |
INILAH.COM, Jakarta - Membuka lahan pertanian baru dianggap lebih terhormat dibandingkan program beras miskin (Raskin) dan Bantuan Langsung Tunai (BLT).
Selama ini program raskin dan BLT dianggap sebagai cara paling ampuh oleh pemerintah untuk membantu rakyat miskin.
Hal itu diungkapkan Ketua Dewan Penasihat Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Siswono Yudhohusodo usai seminar di Jakarta, Kamis (28/8).
"Saya kecewa kalau pemerintah menganggap raskin makin meningkat makin bangga. Salah itu, kalau bisa pada waktunya nggak ada raskin karena rakyat sudah makmur semua," ungkapnya.
Tidak ada pilihan lain bagi pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan kecuali dengan menyediakan lapangan kerja. "karena pekerjaan memuliakan diri. Tidak bisa pengentasan kemiskinan dengan BLT atau raskin," tambahnya.
Melihat kondisi yang sekarang ini, menurut Siswono, sebaiknya kebijakan (policy) yang diambil pemerintah seperti BLT dan raskin tidak dipertahankan untuk jangka panjang.
"Karena ini akan menyebabkan ketergantungan, maka harus dengan lapangan kerja," tegasnya.
Dengan kebijakan membuka lapangan pertanian baru, Siswono optimistis akan menyerap lapangan kerja yang luar biasa. Karena sekarang ini lapangan kerja pertanian tetap yang terluas.
"Banyak penyerapan tergantung jenis pertaniannya, tetapi tetap harus pakai state of the art pertanian melalui teknologi," ungkapnya.
Ironisnya, menurut dia, masih ada budaya pertanian Indonesia yang membuat rakyat tambah miskin, yaitu membagi tanah pertanian.
"Di negeri Belanda lahan pertanian tidak boleh dibagi. Harus by law. Sekarang Kita harus berani mengubah ini," paparnya.[L2]
[ Kirim ke teman ]