Sabtu, 22 November 2008
Ekonomi - Sektor Riil
  BERITA
  INDEKS BERITA
28/08/2008 20:32
Beresi Jalur Distribusi Elpiji
Ahmad Munjin
 

(inilah.com/Bayu Suta)
 

INILAH.COM, Jakarta – Elpiji terutama ukuran 3 kilogram langka di sejumlah daerah. Pemerintah baru mau melakukan verifikasi pada September 2008. Jangan-jangan elpiji dengan harga subsidi ini salah sasaran dan digunakan orang-orang mampu.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Evita Herawati Legowo mengatakan pihaknya akan melakukan pengecekan (verifikasi) bulan depan terkait kelangkaan elpiji 3 kilogram. Verifikasi juga menyangkut apakah alokasi elpiji 3 kg kepada konsumen sudah tepat sasaran.

“Kami akan melakukan verifikasi sejauh mana target konversi minyak tanah ke gas sudah tercapai. Berapa kilo liter minyak tanah yang harus diganti gas kan sudah dihitung tinggal dilihat apakah tercapai atau tidak?” katanya usai di Gedung DPR Jakarta, Kamis (28/8).

Ekonom Iman Sugema menilai fenomena kelangkaan elpiji sebetulnya akibat perpindahan konsumen elpiji dari yang tidak disubsidi yakni tabung 12 kg ke tabung 3 kg yang bersubsidi. Kelangkaan ini kemudian ikut mendorong kenaikan harga.

“Persoalannya berpangkal kepada pengawasan konversi minyak tanah ke elpiji yang tidak efektif,” papar Direktur International Center for Applied Finance and Economics (InterCAFE) itu. Ia menegaskan, seharusnya pemerintah sudah melakukan antisipasi karena disparitas harganya sangat tinggi. Seperti yang selama ini terjadi pada komoditas minyak tanah.

Anggota Komisi VII DPR Alvin Lie memastikan, dengan adanya kesenjangan harga subsidi dan tidak bersubsidi akan mendorong aksi borong elpiji 3 kg. Sehingga keluarga miskin yang seharusnya bisa menikmati subsidi pemerintah di elpiji 3 kg pun terpaksa kehabisan dan bisa terjadi kelangkaan.

"Karena kesenjangan harga, maka akan terjadi aksi borong. Kalau 3 kg diborong, maka keluarga miskin malah nggak bisa beli. Apalagi sampai sekarang belum ada mekanisme untuk mengamankan aksi borong sepert itu," ujarnya.

Tabung gas elpiji isi 3 kg saat ini memang menjadi primadona. Apalagi setelah harga tabung isi 15 kg terkerek. Hukum pasar pun akhirnya berjalan. Makin banyak permintaan, makin sulit pula barang itu dicari.

Warga Srengseng, Jakarta Barat misalnya mengakui kelangkaan elpiji ini. Tabung isi 3 kg seperti ditelan bumi. Anna salah satu pemilik agen gas elpiji di Srengseng, mengaku kewalahan memenuhi permintaan pasar. Terlebih setelah pasokan ke agennya berkurang dari 70 menjadi 60 tabung per minggu.

Di lain pihak, agen besar pun mengaku kewalahan. Produksi mereka sangat terbatas. Agen besar hanya bisa melayani pesanan 5.000 hingga 7.000 tabung sedangakan sisanya menunggu.

Evita kembali memaparkan, sistem distribusi elpiji memang belum dilakukan perbaikan. Rencananya, pemerintah akan membuat sistem distribusi tertutup supaya mirip dengan distribusi minyak tanah dengan satu kendali. ”Itu salah satu, tapi itu masih dalam wacana dan kita belum bikin mekanismenya,” katanya.

Untuk 2008, Evita memaparkan, pemerintah menargetkan program konversi dapat mengalihkan volume minyak tanah bersubsidi sebesar empat juta kiloliter dengan 1,6 juta ton elpiji. Dengan pengalihan tersebut maka konsumsi minyak tanah bersubsidi pada 2009 ditargetkan hanya 5,8 juta kiloliter.

Evita juga mengatakan, target pengalihan minyak tanah tahun 2009 itu lebih tinggi hampir dua juta kiloliter dibandingkan perkiraan realisasi pengalihan minyak tanah tahun ini mencapai 2,013 juta kiloliter dengan konsumsi elpiji 1,144 juta ton. [E1]

Tags : elpiji, evita herawati legowo

BERITA TERKAIT
load in : 0.004395008 "

[ Kirim ke teman ]



Layanan Mobile | RSS | Tentang Kami | Kontak kami
Copyright © 2007-2008 Inilah.com. All rights reserved Inilah.com