Ekonomi
07/08/2008 - 15:44
Mari Ngegas Saham PGAS
Asteria

(inilah.com/Bayu Suta)

INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) patut diperhitungkan. Kendati menurunkan target penjualan, kinerja yang positif dan kewenangan menentukan harga jual gas membuat saham ini mampu membetot perhatian investor.

Saham emiten utilitas gas PGAS pada perdagangan Kamis (7/8) sesi siang ditutup melemah 25 poin ke level Rp 2.450 per lembarnya. Sehari sebelumnya, saham itu mencatatkan rebound 250 poin di level harga Rp 2.475.

Analis pasar modal, Haryajid Ramelan mengatakan, meski saham PGAS kini melemah, ia meyakini tren penguatan yang sudah terjadi dalam dua hari terakhir, masih akan terus berlanjut.

Pasalnya, harga PGAS saat ini dinilainya masih cukup murah setelah perseroan melakukan stock split dengan rasio 1:5. Sehingga mulai awal pekan ini, saham PGAS meluncur dengan harga baru di Rp 2.325 per lembar. “Saya rekomendasikan beli dengan target harga Rp 2.800 per lembarnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyarankan untuk mewaspadai aksi profit taking. Hal ini disebabkan adanya tekanan terhadap nilai jual saham pasca perseroan menurunkan estimasi penjualannya sebesar 16% menjadi 600 juta kaki kubik gas per hari (mmscfd), di bawah estimasi awal 716 mmscfd.

Revisi ini dilakukan setelah adanya penundaan kurang lebih sebulan dalam penyelesaian jaringan pipa ke pembangkit listrik Muara Tawar, Jawa Barat. Sambungan pipa tersebut memungkinkan PGN menjual 200 juta kaki kubik gas per hari ke PT Perusahaan Listrik Negara. “Revisi target penjualan menyebabkan tekanan terhadap saham,” katanya.

Menurutnya, harga saham PGAS melejit pesat dalam empat bulan terakhir, setelah JP Morgan Chase & Co menyatakan target harga yang direkomendasikan sudah mencerminkan masalah teknis di tubuh BUMN tersebut.

Sementara riset Trimegah Securities mengestimasikan volume penjualan PGAS di 2008 adalah 683 mmcfd. Hingga kuartal I 2008, penjualannya suah mencapai 526 mmcfd. Dengan menggunakan asumsi penjualan gas 550-600 mmcfd di 2008, laba bersih PGAS diestimasi berada di Rp 2,3 triliun dari proyeksi Rp 3,2 triliun.

Saat ini PGAS ditransaksikan dengan support pertama di 2.375 dan 2.275. Sedangkan level resistan di 2.575 dan 2.675. “Rekomendasi trading buy dengan peluang gerak pada kisaran 2.450-2.650,” ulas riset Trimegah.

Sementara analis PT Paramitra Alfa Sekuritas, Gina Novrina Nasution mengatakan, indikator teknikal mengindikasikan penguatan PGAS dengan level resistan pertama di Rp 2.325 dan level resistan kedua di Rp 2.475. Adapun titik support di angka Rp 2.125. “Saya rekomendasikan beli untuk PGAS dengan target harga Rp 3.750,” ujarnya.

Sedangkan kebijakan pemerintah membebaskan PGAS menentukan harga jual gasnya sendiri tanpa campur tangan pemerintah, berpotensi besar mendorong penguatan saham infrastruktur ini. Investor melihat tren positif harga komoditas internasional.

Dirjen Migas Departemen ESDM, Evita Legowo menyatakan akan mengganti peraturan mengenai ketentuan harga jual gas PGN yang selama ini masih diatur oleh pemerintah.

Menurut Evita, langkah itu memungkinkan masyarakat umum dan industri memanfaatkan bahan bakar gas secara maksimal, di tengah lonjakan harga minyak dunia. Ketentuan pemerintah mensyaratkan harga jual gas PGN maksimal sebesar US$ 11,4 per juta Btu.

"Harga jual gas seharusnya didasarkan pada kesepakatan business to business (B to B)," katanya.

Analis bursa dari PT Reliance Securities, Andrew Sihar Siahaan mengatakan harga komoditas energi akan selalu mengalami kenaikan. Ketentuan baru yang memungkinkan PGN menjual gas sesuai dengan harga pasar akan mendorong perusahaan tersebut mencatat kinerja keuangan yang lebih baik.

Kendati demikian, kebijakan PGAS menetapkan harga gas untuk industri melalui mekanisme B to B dinilai merugikan dunia usaha. Hal ini ditunjukkan dari penolakan lima asosiasi industri yang mewakili lima sektor manufaktur, yaitu industri sarung tangan karet, keramik, kaca lembaran, industri bahan kimia, dan kertas.

Pasalnya, kinerja sektor manufaktur sangat bergantung pada pasokan energi, termasuk listrik dan gas. Untuk itu, produsen meminta kenaikan tidak lebih dari 20% menjadi maksimal US$ 6,2 per mmbtu dari harga saat ini US$ 5,5 per mmbtu.

Sedangkan kepala riset Samuel Sekuritas Indonesia, Christine Salim mengatakan, saat ini PGAS ditransaksikan pada price earning (P/E) 2008-2009 sebesar 16,9 kali dan 12,4 kali. Ia melihat PGAS masih bisa ditahan untuk jangka pendek, sedangkan jangka panjang disarankan untuk beli. “Target harga kami untuk PGAS adalah Rp 3.140,” ucapnya. [E1/I4]

KOMENTAR BERITA