Ekonomi
13/08/2008 - 09:43
Prediksi BI Terlalu Muluk
Ahmad Munjin

(Istimewa)

INILAH.COM, Jakarta – Prediksi BI tentang pertumbuhan kredit mencapai 30% tahun ini dinilai terlalu muluk. Pasalnya, pertumbuhan kredit semester I 2008 yang mencapai 31,6% dinilai belum bisa menggerakkan seluruh sub-sistem perekonomian.

Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Bambang Soesatyo di Jakarta, Selasa (12/8), mengatakan, klaim BI bahwa pertumbuhan kredit berpotensi melampaui target terlalu subyektif. Pasalnya, pelaku usaha justru merasakan sebaliknya.

Menurutnya, pertumbuhan kredit semester-I 2008 yang mencapai 31,6% itu dirasakan belum bisa menggerakkan seluruh sub-sistem perekonomian nasional. Dalam mencapai target pertumbuhan kredit, BI dan perbankan jelas-jelas hanya bertumpu pada sektor atau sub-sektor ekonomi yang prospektif seperti perkebunan dan energi.

Sebelumnya, BI memprediksi kredit bisa tumbuh 30% hingga akhir 2008. Maraknya kegiatan ekspor menjadi pendorong permintaan kredit perbankan. Proyeksi BI ini jauh lebih tinggi dari target pertumbuhan kredit 15 bank besar yang ada di Tanah Air yang berkisar 24-26%.

Bambang menuturkan, kesan subyektif muncul karena klaim pertumbuhan kredit oleh BI hampir tak pernah disertai rincian. Misalnya, berapa yang diserap investasi baru, penyerapan kredit modal kerja, dan berapa yang diserap sektor konsumsi, serta berapa besar kredit UMKM atau kredit usaha rakyat (KUR) yang tepat sasaran.

Tumbuhnya permintaan kredit dari sektor energi dan perkebunan bukan karena kerja keras bank, melainkan karena harga produk perkebunan sedang tinggi dan kebutuhan energi yang memang meningkat. "Jadi, perbankan yang tidak kreatif itu justru tertolong oleh keadaan," tandas Bambang kepada INILAH.COM.

Kalau kinerja kedua sektor itu tetap baik, lanjut Bambang, target pertumbuhan kredit 2008 sebesar 24% mungkin tercapai. Tapi, kualitas penyerapannya mungkin tetap memprihatinkan karena lebih banyak untuk konsumsi.

Harapan untuk mencapai pertumbuhan 30% tahun ini juga akan sulit diwujudkan, karena kenaikan suku bunga kredit dan iklim berusaha yang tidak kondusif akibat defisit daya listrik.

Untuk itu, pelaku usaha berharap BI dan perbankan memberi perhatian lebih pada kredit mikro bagi UMKM guna memperkuat ketahanan ekonomi rakyat. "BI pun harus memastikan KUR tepat sasaran, jangan dibelokan untuk kredit konsumsi," katanya.

Dirut Bank Mandiri, Agus Martowardojo, secara terpisah mengungkapkan kenaikan BI rate dari 8,75% menjadi 9%, membuat Bank Mandiri merevisi target pertumbuhan kredit dari 22% menjadi 18% pada triwulan ketiga.

Namun, ia melihat melihat perolehan Bank Mandiri sampai dengan akhir semester I justru mengalami over target. Menurutnya, dari Juni ke Juli 2007 ke 2008, ekspansi kredit Bank Mandiri mencapai 28%.

Ekspansi kredit usaha mikro dan kecil, tumbuh sampai 60%, sedangkan kredit untuk sektor perusahaan dan kommersial tumbuh sampai 40%. Saat ini total penyaluran kredit mencapai Rp 149 triliun, sementara total pencapaian penghimpunan dana masyarakat mencapai Rp 236 triliun. [E1/I4]

KOMENTAR BERITA