Ekonomi
19/08/2008 - 18:46
Pasar Lesu, Rupiah Stabil
Asteria

(istimewa)

INILAH.COM, Jakarta – Rupiah tak tergoyahkan. Meski dolar AS menunjukkan penguatan terhadap mata uang lain, rupiah tetap stabil pada perdagangan Selasa (19/8). Itu berkat konsistensi BI mengawal rupiah dan daya tarik suku bunga domestik.

Rupiah di pasar uang spot antarbank Jakarta, hari ini relatif stabil walaupun akhirnya melemah tipis 3 poin ke level 9.183 per dolar AS. Pada perdagangan akhir pekan lalu, rupiah berada di posisi 9.180.

Analis valas, Panji Irawan mengatakan stabilnya pergerakan rupiah hari ini disebabkan sentimen beberapa faktor. Salah satunya, turunnya harga komoditas seiring merosotnya harga minyak mentah. Selain itu, juga karena menguatnya mata uang dolar AS terhadap mata uang kuat lainnya serta masuknya dana asing ke instrumen investasi dalam negeri.

Yang terakhir, “Disebabkan imbal hasil menarik yang ditawarkan suku bunga di dalam negeri,” ujar Panji. Saat ini, suku bunga rupiah adalah 9%, jauh lebih baik ketimbang dolar AS yang 2%. Lebarnya disparitas suku bunga ini membuat rupiah menjadi investasi menarik.

Apalagi, berbagai instrumen lain mulai muncul. Sebutlah umpamanya obligasi pemerintah ORI yang ditawarkan hingga 29 Agustus mendatang. Meski dampak ORI terhadap rupiah sangat kecil, investor sudah banyak yang mengalihkan dana ke surat utang.

Analis pasar uang Bank Himpunan Saudara, Rully Nova mengatakan, pergerakan rupiah hari ini cenderung stabil karena lesunya permintaan pasar. Menurut Rully, pelaku pasar masih menikmati liburan panjang. “Mereka masih enggan masuk ke pasar uang melakukan transaksi membeli rupiah atau dolar AS,” katanya.

Stabilnya posisi rupiah berbeda dengan sejumlah mata uang lainnya. Mata uang euro melemah terhadap dolar AS di level 1,468. Dolar Australia berada pada 0,8674. Sementara yen turun tipis pada level 109,76.

Sedangkan mata uang Asia lainnya ditutup bervariasi terhadap dolar AS. Dolar Singapura melemah 0,31%, won Korea turun 1%, rupee India menyusut 0,18%, peso Filipina melemah 0,4%, sert bath Thailand melorot 0,68%. Hanya dolar Hong Kong yang menguat 0,01%.

Sementara itu pada perdagangan dini hari tadi, harga minyak mentah untuk pengiriman September ditutup turun US$ 0,9 menjadi US$$ 112,87 per barel, setelah sempat menyentuh level US$ 115,33. Ini adalah level terendah minyak sejak rekor tertingginya di level US$$ 147,27 per barel pertengahan Juli lalu.

Merosotnya harga minyak disebabkan serangan badai tropis Fay di pantai barat Florida yang berdampak terhadap persediaan minyak dari Teluk Meksiko. Hal ini menambah jatuhnya harga minyak di tengah indikasi berkurangnya permintaan dan melambatnya pertumbuhan ekonomi secara global. [E1/I4]

KOMENTAR BERITA