Ekonomi
20/08/2008 - 17:58
Rupiah Makin Perkasa
Asteria

(Istimewa)

INILAH.COM, Jakarta – Nilai tukar rupiah hari ini kembali menunjukkan keperkasaannya. Jatuhnya dolar AS terhadap mata uang utama dunia akibat kenaikan harga minyak mentah, menjadi angin segar yang membawa rupiah melayang tinggi.

Rupiah di pasar uang spot antarbank Jakarta, Rabu (20/8) menguat signifikan 28 poin ke level 9.155. Sehari sebelumnya, rupiah ditutup di posisi 9.183 per dolar AS.

Analis Currency Management Group, Farial Anwar mengatakan, sebenarnya penguatan dolar AS terhadap mata uang lain selama ini hanya bersifat teknikal. Dolar terapresiasi setelah beberapa bulan lalu terkoreksi cukup dalam.

Dalam posisi seperti itu, mata uang negara Paman Sam itu menarik untuk dikoleksi. Sehingga, investor berminat membeli dolar AS setelah profit taking di sektor komoditas.

Namun, ketika harga komoditas naik lagi, seiring menanjaknya harga minyak mentah, dolar pun terpuruk. “Hal ini yang mendasari penguatan rupiah sore ini,” tuturnya.

Harga minyak mentah untuk pengiriman September di perdagangan Nymex dini hari tadi ditutup naik 67 sen (0,6%) di level US$ 115,2 per barel. Kontrak minyak sempat menyentuh level terendah dalam 15 pekan di harga US$ 111,34 per barel pada 15 Agustus.

Investor melakukan aksi beli kembali atas minyak menyusul data ekonomi AS yang memburuk dan data pasokan gasoline AS yang diprediksi turun 3 juta barel pekan lalu dari 202,8 juta barel.

Departemen Energi akan melaporkan data stok minyaknya nanti malam. “Laporan stok minyak AS ini memastikan harga akan semakin mahal. Pasalnya minyak hasil penyulingan saat ini hampir tidak dapat memenuhi permintaan,” ujarnya.

Menurut Farial, penguatan rupiah juga dikarenakan upaya BI sebagai penjaga moneter yang melakukan serangkaian langkah-langkah menjaga stabilisasi rupiah. Tingginya inflasi, misalnya, akan mendorong BI menaikkan suku bunga BI rate. BI pun melakukan intervensi di pasar dengan cadangan devisanya yang pada akhir Juli mencapai US$ 60,53 miliar.

Investor saat ini, begitu Farial, banyak membeli rupiah karena imbal hasil yang ditawarkan lebih menarik. Disparitas suku bunga rupiah dengan dolar saat ini mencapai 7%, keuntungan pemegang rupiah dari forex gain pun lebih menjanjikan. “Memegang rupiah saat ini menguntungkan karena tidak bergerak volatil lebih dari level 9.200 ,” ulasnya.

Pergerakan dolar AS hari ini menunjukkan posisi melemah terhadap mata uang kuat lainnya paska penguatan harga minyak ke level US$ 115 per barel. Mata uang euro pada perdagangan hari ini terpantau naik 0,1% menjadi 1,4787 dollar setelah sempat menduduki level terendah kemarin di level 1,4630 dolar.

Sedangkan terhadap mata uang Jepang, dolar menguat tipis di posisi 109,76 yen. Hal ini dipengaruhi kebijakan bank sentral negara itu yang tetap menahan tingkat suku bungannya pada angka 0,5%. [E1/I4]

KOMENTAR BERITA