Ekonomi
25/08/2008 - 06:01
Waspadai Setiap Gerak IHSG
Prediksi IHSG, Senin (25/8)
Jagad Ananda

(inilah.com/Abdul Rauf)

INILAH.COM, Jakarta - Jangan lantas terpesona oleh peningkatan IHSG. Sebab, kendati menguat tajam dan menclok di level 2.120 pada perdagangan terakhir, itu belum berarti terjadi pembalikan dari bearish menuju bullish.

Pernyataan itu dikemukakan sejumlah analis dan kepala riset di perusahaan sekuritas. Mereka yakin penguatan yang terjadi selama tiga hari itu hanya rebound kecil setelah terjadi koreksi yang cukup tajam.

Kemungkinan terjadi penguatan pada perdagangan pekan ini, memang, terbuka. Tapi, diperkirakan tidak akan terlau tebal. Tiga analis dan dua kepala riset yang dihubungi INILAH.COM hanya berani memasang target IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) bakal bergerak di level 2.100 - 2.150. Artinya, kemungkinan indeks menurun juga terbuka.

Faktor utama yang akan jadi pemicu tetap yang itu-itu juga, yakni harga minyak mentah di pasar global. Perhitungannya, jika harga si ‘emas hitam’ turun, dipastikan harga komoditas pertambangan dan perkebunan juga merosot.

Harga saham-saham berbasis dua sektor yang selama ini jadi lokomotif di Bursa Efek Indonesia (BEI) praktis juga menciut. Begitu pula sebaliknya.

Para pelaku pasar sendiri percaya penguatan minyak masih akan terjadi. Itu lantaran akan adanya pengurangan produksi oleh OPEC dan Venezuela. Sementara penurunan cadangan bensin AS terbukti jauh lebih besar dari yang diperkirakan.

Itu sebabnya, saham-saham tambang dan kebun awal pekan ini masih mendapat rekomendasi beli. Investor bisa mengambil saham Bumi Resources (BUMI) yang di akhir tahun diperkirakan bakal mencapai harga Rp 7.000 dan TINS di level Rp 3.250 per unit.

Di luar itu, masih ada ITMG dan ANTM yang diyakini bakal memberikan gain menarik. Dari sektor kebun yang mendapat rekomendasi adalah AALI, LSIP, dan UNSP.

Tapi, sekali lagi, tetaplah waspada. Sebab, melambatnya ekonomi dunia secara langsung akan mengempiskan permintaan minyak. Dan, itu jelas ancaman terhadap saham tambang dan kebun.

Sebagai ‘cadangan’, para analis menyarankan agar investor mempertimbangkan mengoleksi efek-efek di luar komoditas. Di sektor telekomunikasi, misalnya, sahamTelkom (TLKM) dan ISAT diyakini bakal menguat hingga 20%.

Saham-saham perbankan juga memperoleh rekomendasi buy. Pemodal bisa mengambil saham BCA (BBCA), BMRI, BBRI, dan BBNI.

Tertarik? Silakan mulai mengoleksi. Asal jangan sekaligus. Lakukan bertahap. Sebab, selain harga minyak, BEI juga rentan terhadap pergerakan di bursa regional yang bisa anjlok setiap saat. [I3]

KOMENTAR BERITA