Ekonomi
 
08/10/2008 - 13:44
Peran Bush di Balik Kolapsnya AS
Ahluwalia
George W. Bush
(istimewa)

INILAH.COM, Jakarta – Krisis keuangan tak hanya meluluhlantakkan AS. Bopeng wajah AS juga mulai terlihat. Terkuak pula, korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) ternyata marak di negeri yang mengaku 'mbahnya' good governance itu.

Lehman Brothers bangkrut. Paham ekonomi neoliberalisme AS pun kolaps. Yang mencuat justru merebaknya bau busuk KKN. Bahkan, KKN itu melilit keluarga Gedung Putih, tempat di mana Presiden George W. Bush sering berkoar-koar tentang pentingnya good governance dan HAM.

Oligarki ekonomi di AS, bobol sudah. Ini membenarkan pandangan sosiolog Robert Michels mengenai kuatnya oligarkisme dalam demokrasi di AS. Artinya, demokrasi di AS bukanlah laksana dewa. Dia, pada beberapa bagian, juga sekadar prosedural dan sarat korupsi para kapitalis yang berkuasa. Sesuatu yang juga pernah dialami Indonesia dan tak layak tiru.

Prof William Liddle dari Ohio State University,AS menyebut korupsi adalah penyakit demokrasi yang harus dibasmi dengan law enforcement yang tegas. Dalam kasus KKN lingkaran dalam Bush, bisakah penegak hukum menjangkau keluarga presiden AS itu?

Indikasi keterlibatan keluarga Bush makin terlihat ketika DPR AS mencecar Ketua dan Eksekutif Utama Lehman Brothers, Richard Fuld, di Capitol Hill, Washington, Senin (6/10). Penyidikan itu membuka tabir keterlibatan keluarga Bush di balik berbagai skandal korporasi AS. Sejumlah warga AS sudah menyampaikan protes dengan menuduh Richard Fuld sebagai penyebab kebangkrutan Lehman.

Elijah Cummings, anggota DPR dari Partai Demokrat, Maryland, membeberkan korespondensi antara George Walker, sepupu Presiden AS George W Bush, dan eksekutif Lehman. Isinya adalah permohonan dari Walker pada Komite Eksekutif Lehman soal pembagian bonus sepanjang 2008. Walker duduk sebagai pengelola aset Lehman.

Pertemuan DPR AS dengan Fuld juga membuka tabir kebobrokan keluarga Bush. Neil Bush, saudara kandung Presiden Bush, juga pernah dituduh menjadi otak di balik kebangkrutan sebuah lembaga keuangan Amerika Serikat pada dekade 1980-an.

Lehman Brothers bangkrut karena US$ 60 miliar dana dari investor, dialokasikan ke sektor perumahan AS. Investasi ke sektor perumahan itu terjebak kemacetan. Lehman dimintai tanggung jawab oleh para investor.

Kegagalan memenuhi kewajiban itu membuat klien Lehman Brothers melepas surat-surat berharga yang diterbitkan. Akibatnya, arus kas mengering. Apalagi, gaji seorang CEO (kepala eksekutif) di Lehman dan korporasi besar lainnya bisa mencapai US$ 2 miliar setahun atau setara dengan Rp 19 triliun!

Dengan ambruknya reputasi korporasi yang berkolusi dengan keluarga Bush itu, AS yang dikenal sebagai propagandis kapitalisme swasta, kini berubah jadi kapitalisme Negara. Negara mengambil alih beban swasta, layaknya model negara yang menganut sosialisme.

Imbas keguncangan kapitalisme AS itu ke Indonesia, mungkin serupa, meski tak sama. Negara bisa jadi melakukan bail-out lagi beban utang swasta yang tersedak ambruknya korporasi finansial Amerika. Jika ini terjadi, sesungguhnya krisis finansial ini mendekati krisis moneter 10 tahun yang lalu.

Semoga tidak demikian. Sehingga rakyat tak terus-menerus menanggung beban di luar batas kemampuan. [I4]