Ekonomi
 
08/10/2008 - 20:55
Maut Mengintai Perusahaan Migas
Yusuf Karim

(istimewa)

INILAH.COM, Jakarta – Setelah menghajar finansial dan keuangan, krisis ekomi AS bakal menggulung sektor migas. Perusahaan migas berskala kecil, kabarnya, tinggal menunggu malaikat pencabut nyawa. Sebegitu parahkah?

Temponya hanya enam bulan. Tapi, waktu yang pendek itu telah menghadirkan surga dan neraka bagi industri migas. Penurunan harga minyak secara drastis akibat menurunnya konsumsi minyak AS, berujung pada seretnya cashflow pada perusahaan-perusahaan migas.

Semua datang begitu cepat. Padahal, baru enam bulan lalu, perusahaan-perusahaan migas dunia, menikmati bulan madu. Saat itu, forecast perusahaan minyak diwarnai hijaunya kenaikan harga minyak. Kala itu yang terbayang hanyalah bagaimana menyiapkan wadah penyimpan bagi pundi-pundi kekayaan perusahaan yang bakal berlimpah.

Perkembangan lanjutan menunjukkan krisis AS berdampak negatif pada perusahaan migas. Bahkan bagi perusahaan migas bermodal cekak, gejolak ekonomi ini bisa jadi malaikat pencabut nyawa yang ditakuti.

Kepala BP Migas R. Priyono mengakui, pihaknya menyadari betul potensi dampak krisis finansial global terhadap industri migas. Dampak itu, terutama akan terasa bagi perusahaan-perusahaan kecil.

"Kami akan melakukan pendekatan pada sumber-sumber pendanaan alternatif. Kami akan jajaki, apa mereka bisa membantu perusahaan-perusahaan perminyakan kelas menengah ke bawah," ujarnya di Jakarta.

Priyono menambahkan bahwa sebenarnya industri migas di Indonesia cukup didominasi oleh perusahaan-perusahaan besar atau major company. Namun kelangsungan usaha perusahaan-perusahaan kecil tetap diperlukan untuk mendorong peningkatan kinerja industri migas nasional.

Senada dengan Priyono, Wakil Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas), Abdul Muin mengatakan bahwa karakteristik industri migas yang padat modal, jelas akan terkena imbas krisis keuangan global. "Terutama perusahaan kecil, mereka akan sangat terganggu," lanjutnya.

Menurut Muin, selama ini perusahaan kecil banyak tergantung pada pendanaan luar. Padahal, kondisi industri keuangan saat ini tidak memungkinkan mereka untuk menyalurkan pendanaan dalam jumlah besar ke sektor migas yang tergolong industri berisiko tinggi.

"Karena keterbatasan dana, mereka tidak mungkin lagi mendapat dana murah. Untuk itu, mereka akan mengubah strategi. Misalnya dengan menunda atau menyetop kegiatan eksplorasi. Kemungkinan mereka juga akan menjual aset-aset di luar core business. Untuk itu, mereka butuh konsolidasi, atau bahkan diakuisisi oleh perusahaan besar," imbuhnya.

Selain perusahaan produsen migas, industri jasa penunjang migas juga akan terimbas krisis keuangan global. "Intinya, semua perusahaan di sektor migas yang permodalannya kurang kuat akan terimbas. Untuk itu, harus di-set-up kembali semua komponen yang terlibat dalam industri ini," katanya.

Menurut Muin, dampak paling signifikan dari krisis saat ini adalah struktur industri migas yang akan makin dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar karena perusahaan kecil yang tidak memiliki pendanaan kuat bakal makin sulit bersaing. "Dengan makin berkuasanya perusahaan-perusahaan besar, bargaining position mereka akan makin kuat," tegasnya. [I4]