Senin, 22 Maret 2010
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI : 1 Euro = Rp.12429.6
 
Ekonomi
 
03/07/2009 - 08:15
BI Rate Konservatif, Rupiah Fluktuatif
Natascha dan Ahmad Munjin

(inilah.com/ Agung Rajasa)

INILAH.COM, Jakarta – Rupiah pada perdagangan Jumat (3/7) masih akan bergerak fluktuatif. Ini akibat masih tingginya permintaan dolar AS serta ekspektasi pemangkasan suku bunga BI rate yang cenderung konservatif.

Brancoe Windoe, analis valas dari Bank Central Asia memprediksi rupiah di akhir pekan ini masih akan melanjutkan pelemahannya terhadap dolar AS.

"Untuk jangka pendek, rupiah masih volatilite di level 10.000-10.300 per dolar AS," ujarnya kepada INILAH.COM.

Rupiah pada perdagangan kemarin ditutup melemah tipis, akibat meningkatnya permintaan dolar AS dari korporat lokal. Investor juga lebih suka memegang dolar AS sebagai safe haven menjelang libur panjang di AS.

"Mereka memilih dolar AS karena tidak mau ambil risiko jangka panjang,”katanya.

Tertekannya rupiah juga disebabkan sentimen dari dalam negeri, seperti antisipasi terhadap Pilpres 8 Juli. Ini berarti, volatilitas rupiah akan terjadi hingga pilpres usai. Oleh karena itu, ia berharap agar pilpres dapat rampung lebih cepat.

Bila hal itu terealisasi, maka bursa saham Indonesia akan melambung tinggi dan bisa menarik dana asing yang saat ini wait and see.

"Hal serupa terjadi pada Pemilu India yang pemilunya berlangsung cepat sehingga bursa sahamnya melesat," paparnya.

Lebih lanjut Brancoe menuturkan, potensi pelemahan rupiah juga berasal dari antisipasi pasar terhadap kinerja korporat semester pertama 2009, yang akan memberi gambaran tentang pertumbuhan ekspor dan impor Indonesia.

Menurutnya, faktor ekspor dan impor ini mendominasi neraca perdagangan Indonesia dan menentukan arah rupiah.

"Ini berarti pasar masih harus mecermati pemulihan ekonomi global," imbuhnya.

Kalau dilihat dari kegiatan investasi, Indonesia memang masih menarik. Terlihat dari investasi di instrumen SBI, obligasi dan saham yang masih lebih tinggi imbal hasilnya dibanding negara lain. "Terlihat masih ada katalis untuk penguatan rupiah, terutama investasi di pasar valas," katanya.

Untuk jangka pendek, rupiah masih menunggu RDG BI, karena pasar sudah berekspektasi BI akan memangkas suku bunga di tengah rendahnya inflasi. Menurutnya, penurunan sebesar 25 bsp, akan membawa imbas biasa-bisasa saja ke pasar saham dan rupiah. Berbeda kalau suku bunga dipangkas 50 bsp. "Penurunan sebesar 50 bsp, akan terefleksi pada pergerakan harga saham dan surat utang serta menarik dana jangka pendek yang masih wait and see," ujarnya.

Namun, Branco meragukan BI akan memangkas suku bunga lebih agresif, karena BI tidak mau membuat fluktuasi lebar. Ia menilai, kalau turun terlalu besar, maka penguatan rupiah bisa terlalu cepat sehingga dikhawatirkan koreksi setelah pilpres akan besar juga. "Sebaiknya turunkan suku bunga tidak terlalu banyak karena tidak ada urgensinya," pungkasnya.

Di sisi lain, Head of Trading Bank Mega Yolanda Moesa mengatakan pergerakan rupiah akhir pekan ini berpotensi menguat, seiring penjagaan Bank Indonesia terhadap mata uang lokal ini. "Rupiah akan diperdagangkan di kisaran 10.200 dan 10.350," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta.

Menurutnya, pergerakan rupiah dipengaruhi faktor teknikal. Mengingat mata uang lokal ini berada dalam tren konsolidasi, maka rupiah akan bertahan agak lama pada kisaran saat ini.

"Namun dalam jangka panjang rupiah bisa menguat hingga di bawah 10.000," ujarnya.

Kurs rupiah di pasar spot valas antarbank Jakarta, pada perdagangan Kamis (2/7) melemah 40 poin terhadap dolar AS menjadi 10.220/10.240. Nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing lainnya ditutup bervariasi. Rupiah terhadap dolar Singapura menguat ke Rp7.041,33, atas dolar Hong Kong turun menjadi Rp1.316,74, terhadap dolar Australia menguat ke Rp8.207,88 dan atas Euro ditutup melemah ke level Rp14.388,44 .

Sementara itu, mata uang kawasan mendominasi pelemahan terhadap dolar AS. Hanya empat mata yang menguat. Dolar Hong Kong naik 0,0003% menjadi 7.750, dolar Australia terdongkrak 0,60% ke angka 0.803, dolar New Zealand terapresiasi 0,49% ke level 0.636, dan yuan China terangkat 0,01% terhadap dolar AS ke posisi 6.831.

Selebihnya, mata uang kawasan melemah terhadap dolar AS. Yen Jepang turun 0,03% menjadi 96.690, dolar Singapura merosot 0,40% ke level 1.449, dolar Taiwan terkoreksi 0,41% ke angka 32.905, won Korsel melandai 0,15% ke posisi 1.269, peso Filipina terkerek turun 0,09% menjadi 48.150, rupee India merambat turun 0,06% ke angka 47.922, ringgit Malaysia terdepresiasi 0,02% ke level 3.520, dan baht Thailand terdepak 0,16% ke posisi 34.097 per dolar AS. [E2/L1]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi disini atau akses mobile langsung http://M.inilah.com via ponsel dan Blackberry !