
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI :
1 US Dollar = Rp.9116

INILAH.COM, Jakarta – Di tengah sepinya transaksi saham di lantai bursa, sektor infrastruktur menjadi pilihan yang bisa dicermati investor. Saham PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM), misalnya, yang menarik terkait prospek pada bisnis New Wave-nya.
Pada perdagangan Jumat (3/7) sesi siang, saham berkode bursa TLKM ini ditransaksikan menguat 200 poin (2,43%) ke level Rp8.400. Pada sesi kemarin, emiten telekomunikasi ini menguat Rp300 ke Rp8.200/unit dan tercatat sebagai saham teraktif di bursa.
Tim riset Asia Securities melihat, kinerja Telkom masih dapat meningkat ditunjang potensi bisnis new wave yang masih besar. Bisnis yang tumbuh cukup tinggi ini, menitikberatkan pada layanan broadboand, enterprise solutions, IT services, dan business portal.
"Kami masih rekomendasikan hold untuk TLKM dengan target harga bisa mencapai Rp8500 dalam 12 bulan ke depan," katanya dalam riset yang dipublikasikan Jumat (3/7).
Valuasi saham Rp8.500 menggunakan metode Discounted Cash Flow, serta asumsi WACC 9,9%, long term growth (LTG) rate 5%, risk premium 6%, serta Beta 0.828. Harga TLKM saat ini dinilai cukup menarik dibandingkan perusahaan sejenis di Tanah Air.
Saat ini harga terhadap laba per saham atau price earning (P/E) TLKM mencapai 16,8 kali. Angka ini paling rendah dibanding kompetitor, mengindikasikan harga saham masih murah. Lihat saja PE Indosat (ISAT) 59.09 kali dan PE Bakrie Telecom (BTEL) 128 kali.
Sedangkan return on equity (ROE) Telkom mencapai 26,72%. Angka ini sangat tinggi dibanding kompetitornya. ROE Indosat dan Bakrie Telecom masing-masing hanya 2.73% dan 0,46%. ROE mencerminkan return atas modal yang ada di suatu perusahaan tanpa dipengaruhi harga pasar sahamnya. Dengan ROE tinggi, maka pertumbuhan modal pada suatu perusahaan akan tinggi pula.
Pengembangan bisnis TLKM kini dijalankan dengan dua model bisnis, yaitu legacy dan new wave. Legacy untuk layanan basic communication dan memiliki nilai tambah relatif rendah, seperti dalam bisnis telepon kabel dan seluler. Sedangkan new wave adalah layanan advanced communication sekaligus solusi.
Meskipun kontribusi bisnis new wave belum mencapai 10% dari pendapatan 2008 dan kuartal pertama 2009, namun tren pertumbuhan terbilang sangat tinggi. Sepanjang 2008, bisnis ini tumbuh 42,9% atau Rp1.669 miliar year on year (YoY).
Sedangkan pada kuartal pertama 2009, bisnis new wave tumbuh Rp562 miliar (74,4%) YoY dan menyumbang 9% dari total pendapatan usaha. Kenaikan pendapatan dari bisnis new wave mengkompensasi penurunan pendapatan dari bisnis legacy yang sepanjang 2008 merosot Rp419 miliar (0,8%) YoY, dan pada kuartal pertama 2009 turun Rp892 miliar (6,2%) YoY.
TLKM menyiapkan anggaran belanja modal (capex) selama 2009 ini US$2,1 miliar. Sekitar 70% capex akan digunakan menambah kapasitas segmen seluler. Sedangkan 30% untuk pengembangan bisnis new wave seperti infrastruktur backbone, satelit dan broadband.
"Porsi capex untuk bisnis new wave ke depannya diperkirakan akan semakin besar seiring fokus TLKM pada bisnis ini,”katanya.
Untuk membiayai ekspansi, TLKM mengandalkan pinjaman bank, kas internal dan vendor financing. Saat ini TLKM dan Telkomsel sedang menjajaki pembiayaan melalui obligasi dolar dan rupiah senilai Rp1-3 triliun yang direncanakan terbit paling cepat akhir 2009 atau awal 2010. [L1]
Berita terkait tidak ada, silahkan klik tab 'Berita Lainnya' di atas
- MI Usul Batas KPD Rp5-15 M
- Inilah Daftar 10 Top 'Foreign Buy' Saham
- Fuad: Investor Harus Hati-hati
- Laba Bersih Bank Mandiri Tembus Rp7,16 T
- Kim Eng Securities Lepas 14 Jt Saham GJTL
- Awal Pekan, Tiga Sektor Jatuhkan IHSG
- Matahari Gelar RUPS Independen Jumat Ini
- Laba Bersih SGRO Anjlok 35,89%
- Bapepam Resmi Restui RUPS Independen MPPA
- Tertekan Suku Bunga, IHSG Makin Turun 40,5 Poin
- ITMG Alokasikan 'Capex' US$100 Jt di 2010
- BEI Harap XL Axiata 'Disclosure' Harga Teoritis
- BUMI Tergelincir Kasus Pidana Pajak
- TPIA Bagi Dividen Rp50 per Saham
- Rekomendasi ANTM Positif Meski Kinerja Merosot












