
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI :
1 Euro = Rp.12841.4

(Istimewa)
INILAH.COM, Jakarta - Angka patah tulang pinggul telah turun di kalangan orang yang berusia lanjut karena bermacam sebab. Namun luka yang melumpuhkan itu masih menjadi ancaman utama kesehatan karena usia penduduk bertambah.
"Penurunan tetap dari tahun ke tahun angka patah tulang tersebut sejak 1985 menunjukkan penggunaan luas obat-obatan yang digunakan untuk mengobati osteoporosis dan memelihara kepadatan tulang," kata para peneliti di Kanada, Selasa (25/8)
"Saya tidak sejujurnya berpendapat hanya ada satu faktor yang menjadi penyebab semua ini," kata Dr William Leslie dari University of Manitoba di Winnipeg, yang memimpin studi yang telah disiarkan di dalam Journal of the American Medical Association.
Per 1985-2005, lebih dari 570.000 orang Kanada dirawat karena menderita patah tulang pinggul. Selama dua dasawarsa itu, angka orang yang menderita patah tulang pinggul turun 32% pada perempuan, dan 25% pada pria, dan penurunan terbanyak terjadi pada orang dewasa berusia 55-64.
Patah tulang pinggul dapat mengakibatkan komplikasi akibat operasi seperti infeksi, radang paru-paru, dan pembekuan darah yang terjadi akibat kekurangan gerak. Satu dari lima orang yang berusia lanjut dan menderita patah tulang pinggul meninggal dalam waktu satu tahun.
Meskipun angka patah tulang telah turun sejak 1985, jumlahnya secara keseluruhan di Amerika Utara dan Eropa naik karena usia penduduk bertambah.
Di seluruh dunia, ada sembilan juta kasus baru patah tulang yang berhubungan dengan menurunnya kepadatan tulang setiap tahun kata laporan itu.
"Intinya ialah tak ada waktu untuk merasa puas dengan diri sendiri," kata Leslie kepada Reuters.
"Kami dapat mengidentifikasi melalui pemeriksaan kepadatan tulang orang yang memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami patah tulang, dan pengobatan buat orang yang cocok sangat membantu dalam mengurangi resiko tersebut," katanya.
Beberapa faktor yang mungkin dalam menurunnya angka patah tulang meliputi gizi yang lebih baik sepanjang hidup yang memiliki dampak langgeng pada kesehatan tulang, perhatian lebih besar bagi risiko terjatuh, peningkatan diasnotik dan pilihan perawatan bagi mereka yang mengalami penipisan tulang, dan angka kegemukan yang lebih tinggi.
Orang yang kelebihan berat badan cenderung tak mengalami osteoporosis karena mereka memiliki lebih banyak hormon yang menguatkan tulang dan beredar di dalam tubuh mereka dan lebih terisi guna melindungi pinggul saat terjatuh. Orang yang bertubuh kurus menghadapi risiko lebih besar terserang osteoporosis.
"Kami sama sekali tak menganjurkan orang agar berbadan gemuk," kata Leslie. "Orang yang tak bergerak cenderung kehilangan kekuatan otot dan keseimbangan, sehingga mereka lebih menghadapi risiko lebih besar saat terjatuh."
Obat yang digunakan untuk memperkuat tulang meliputi satu klas produk yang dikenal sebagai "bisphosphonate". Di antaranya adalah Fosamax, buatan Merck & Co, Boniva dari Roche Holding AG, Reclast dari Novartis AG, Actonel produksi Procter and Gamble Co, Skelid dari Sanofi Aventis dan Aredia serta Zometa produksi Novartis. [L1]
Berita terkait tidak ada, silahkan klik tab 'Berita Lainnya' di atas
- Deteksi Dini Kanker Serviks Kurang 5%
- Efektif Turunkan Berat Badan, Inilah Caranya...
- Obatilah Kanker ke China
- 40% Kanker Bisa Dicegah
- Apel dan Banyak Manfaat Kesehatan
- Air Antioksidan Penjaga Kesehatan
- Pengalaman Sakit Giring 'Nidji'
- Prinsip Shahnaz Haque Demi Kesehatan Anak
- Gangguan Pendengaran Generasi Muda Kini Berkurang
- Susah Tidur? Konsumsi Bawang Putih
- Gaya Sehat dan Bugar Carissa Putri
- Pemetaan Genetik untuk Malaria Tawarkan Harapan
- Disfungsi Ereksi Gejala Penyakit Jantung?
- Kehilangan Indera Penciuman Gejala Awal Alzheimer
- Wih! Pusing Kepala Bisa Sebabkan Kematian












