Minggu, 14 Maret 2010
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI : 1 Euro = Rp.12561.9
 
Wawancara
 
03/07/2009 - 00:08
Wisnu Martha Adiputra
Manuver Mallarangeng Bentuk Kepanikan SBY
R Ferdian Andi R
Wisnu Martha Adiputra
(Dok/Pribadi)

INILAH.COM, Jakarta – Mallarangeng bersaudara yang tergabung di Tim Kampanye Nasional SBY-Boediono kini menjadi newsmaker. Sayangnya, sumber berita yang muncul cenderung memanaskan suasana proses pesta demokrasi. Ada apa dengan Mallarangeng?

Menurut pengamat komunikasi politik dari UGM, Wisnu Martha Adiputra, sikap Rizal dan Andi Mallarangeng tidak terlepas dari bentuk kepanikan capres incumbent yang akhir-akhir ini popularitasnya semakin turun.

“Saya melihat langkah Rizal dan Andi bukan desain dari awal. Namun, karena situasinya tidak selancar yang dibayangkan, maka menggunakan pola demikian,” kata Wisnu kepada INILAH.COM, Kamis (2/7) di Yogyakarta.

Bagaimana model komunikasi Mallarangeng bersaudara dilihat dari perspektif komunikasi politik? Berikut ini wawancara lengkapnya:

Bagaimana komentar Anda atas pola komunikasi tim SBY-Boediono yang dilakukan oleh Rizal dan Andi Mallarangeng dengan isu yang cukup sensitif seperti SARA?

Ini semua murni bertujuan dalam rangka kompetisi politik. Saat ini semua pihak sibuk mencari dukungan. Maka segala cara, sebatas itu normal, diperbolehkan. Meski tidak ada standar, apa yang disebut kampanye elegan dan kampanye hitam. Namun karena tidak ada kesepakatan bersama, maka masyarakat melihatnya tergantung perpektif masing-masing.

Dengan tidak adanya kesepakatan bersama ini, semakin membebaskan para tim sukses untuk melakukan apa pun, termasuk melontarkan isu senitif sekalipun menyinggung SARA?

Seharusnya tidak terlalu terbuka dan bebas. Karena ada kultur kita yang membuat sangat tidak terbuka. Karena, di Indonesia masih ada rasa sungkan untuk menyerang terbuka. Tapi melihat indikasi saat ini, saya melihat model komunikaso politik itu muncul sebagai kebingungan tim capres. Karena semua cara sudah dilakukan, tetapi posisinya tidak begitu kuat, akhirnya cara negatif pun dipakai.

Maksudnya tim SBY-Boediono yang kebingungan terkait kondisi saat ini?

Ya, capres incumbent. Karena SBY-Boediono melihat tidak selancar apa yang dibayangkan, makanya cara seperti Andi Mallarangeng dan Rizal Mallarangeng dipakai. Saya melihat dari awal tidak ada tendensi seperti itu.

Saya melihat kasus Ruhut Sitompul saat awal kampanye itu hanya accident, Namun kasus Rizal dan Andi Mallarangeng itu by design karena kepanikan. Karena, SBY-Boediono tidak selancar yang dibayangkan, saat ini juga terlihat selisih satu capres dengan capres lainnya semakin tipis. Saya tidak berbicara konteks persentase.

Komunikasi yang dibangun oleh Rizal dan Andi Mallarangeng selalu berawal menyerang, namun pada akhirnya merasa diserang. Ini komunikasi model apa? Bagaimana pengaruhnya?

Saya yakin, masayarakat sekarang jauh lebih cerdas, karena cara-cara elegan akan lebih diingat oleh publik. Kecuali para pendukung fanatik yang tetap mendukung, meski cara kampanyenya kasar. Kalau misalnya tidak bisa diverifikasi soal isu-isu itu, ya kenapa harus menjadi pedoman? Seperti referensi dari SMS soal Sulsel. Itu tidak bisa diverifikasi. Di atas semua itu, saya melihat ini tidak lebih dari kepanikan dari capres incumbent. [P1]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi disini atau akses mobile langsung http://M.inilah.com via ponsel dan Blackberry !