
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI :
1 Euro = Rp.12429.6

(inilah.com/ Wirasatria)
INILAH.COM, Jakarta - Keinginan polisi membatasi gerak-gerik Noordin M Top dengan mengawasi pelaksanaan dakwah selama ramadhan dianggap tidak akan berhasil. Karena lebih banyak negatifnya ketimbang positifnya.
"Mengawasi dakwah adalah pilihan yang tidak jitu. Karena teknik yang dipakai para teroris adalah brainwashing. Bukan dengan ceramah-ceramah umum," cetus Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum kepada INILAH.COM di Jakarta, Minggu (23/8).
Karena itu, menurut mantan anggota KPU ini mengawasi dakwah merupakan pilihan yang cenderung mubazir. Apalagi, lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya.
"Justru polisi perlu melengkapi kerjanya dengan pendekatan sosiokultural. Bekerjasama dengan ormas-ormas Islam, para ulama, dan para dai adalah pilihan yg bijak dan tepat," imbuh Anas.
Bahkan, tutur manta Ketua Umum PB HMI ini, polisi perlu melakukan pendekatan kepada tokoh dan komunitas yang cenderung dimanfaatkan para teroris sebagai semacam 'habitat'.
"Dengan cara tersebut, di samping tindakan keamanan yang keras, ruang gerak para teroris makin sempit, karena orang-orang atau komunitas yang 'membiarkan' bergeser posisi pada barisan anti terorisme," pungkas Anas. [jib]
- NU Jatim: Antara Gus Solah dan Ahmad Bagja
- Burnap Meninggal Dunia Usai Main Golf
- Politisi Golkar Burhanuddin Napitupulu Wafat
- NU Jatim Minta PBNU Tegas Terhadap PKB
- Susno: Jenderal Markus Belum Terbukti Benar
- Peserta Muktamar NU Mulai Penuhi Makassar
- Polisi Selidiki Terbaliknya Perahu di Suramadu
- Spanduk Dukungan Gus Solah Pimpin NU Bertebaran
- Puan Diusulkan Jadi Wakil Ketua Umum PDIP
- Amankan Muktamar, Banser NU Diisi Ilmu Kebatinan
- Ribuan Massa PKS NTB Bakar Bendera Israel
- SBY: Ibu Nasution Cinta Kaum Lemah
- NU Jatim Mulai Berangkat ke Makassar
- PKS: Perseteruan Polri-Susno Memalukan!
- Boediono Minta Generasi Muda Teladani Bu Nas












