Senin, 22 Maret 2010
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI : 1 Euro = Rp.12429.6
 
Ekonomi
 
09/10/2008 - 05:59
Beralihlah ke Investor Timur Tengah
Ahluwalia
Jusuf Kalla
(inilah.com)

INILAH.COM, Jakarta – Krisis finansial AS, mau tak mau, ikut menggerus Indonesia. Tujuan ekspor dan sumber pinjaman jadi berkurang. Saatnya Indonesia mengalihkan perhatian kepada pasar dan investasi Timur Tengah.

Sebenarnya, peringatan untuk berbagi perhatian ke Timur Tengah, bukan lagi hal baru. Wakil Presiden Jusuf Kalla, suatu ketika pernah bertanya: mengapa Indonesia terseok dan tersedak oleh krisis AS, sementara Malaysia tampak lebih kuat dan tegak?

Kalla menjawab pertanyaannya sendiri. Katanya, karena sekitar 40-50% investasi asing langsung (foreign direct investment) Malaysia berasal dari investor Timur Tengah. Orientasinya lebih pada jangka panjang. "Malaysia adalah contoh emerging market yang bisa bertahan menghadapi krisis keuangan global," kata Kalla.

Kini dengan mendalamnya krisis finansial di AS menyusul tumbangnya Lehman Brothers --yang berdampak ke pasar modal di Jakarta, sudah waktunya investasi Timur Tengah dipercepat dan dipermudah oleh pemerintah. "Apalagi investasi dari Timteng tak terkontaminasi kepentingan AS atau Barat," kata Kalla.

Kalla sendiri sudah menegur Menko Perekonomian/Menkeu Sri Mulyani yang dianggap lambat, tak responsif, dan tak antisipatif terhadap dampak krisis finansial AS ke Indonesia. "Saya perintahkan Menkeu cepat bertindak untuk mencegah dampak krisis finansial AS ke Indonesia bisa diminimalkan. Untuk itu, jangan mempersulit investasi Timur Tengah masuk kemari," kata Kalla sebagaimana disampaikan sumber di Istana Wapres kepada INILAH.COM.

Dari perspektif antropologi, Sri Mulyani yang berkultur 'abangan dan priyayi', cenderung anti-investasi Timteng. Sadar atau tidak, dia lebih memilih investor AS dan Barat akibat mispersepsi dirinya mengenai investor Timteng. Padahal, hakikat modal hanya kenal satu 'agama': untung atau rugi. Jadi, sejatinya tak ada masalah apakah investasi berasal dari Timteng, China, India, atau Barat sekalipun.

Investasi Timteng yang akan masuk ke Indonesia dalam waktu dekat hingga tahun 2009 mencapai US$ 10 miliar. Namun hal tersebut sangat tergantung dengan kemudahan yang diberikan pemerintah terhadap para investor.

"Investasi yang mau masuk dari Timur Tengah sudah ada US$ 10 miliar. Investasi itu bisa masuk jika kita responsif terhadap rencana tersebut," kata Komisaris Utama PT Telkom yang juga merupakan salah seorang Dewan Penasehat World Islamic Economic Forum (WIEC), Tanri Abeng.

Wapres juga merasa kesal karena Sri Mulyani tak mempercepat dan mempermudah akses pengusaha asal Timteng di Indonesia untuk menanamkan investasi US$ 3-10 miliar di negeri kita ini.

Rencana investasi Timteng yang sudah disepakati dilakukan di Tanjung Api-Api dan Bukit Asam, Sumatera, sudah sekitar US$ 1-2 miliar. Lainnya, Emaar Properties di Lombok Tengah minimal menginvestasikan dananya US $ 600 juta. Menyusul di Bintan (Kepulauan Riau), Bali, dan Jakarta yang sedang dalam perundingan.

Rencana investasi itu dijaring Utusan Khusus Kerja Sama Indonesia-Timteng, Alwi Shihab. Mantan Menlu di era Presiden Abdurrahman Wahid itu tidak hanya menggaet Emaar Properties, tetapi juga pengusaha lain dari Uni Arab Emirat dan Qatar. Bahkan perbankan pun ikut merespon, yakni Islamic Development Bank, Ras Al Kheimah Investment Authority, Asian Finance Bank, dan Q-Tel dari Qatar.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Anggito Abimanyu menyatakan ada sekitar 150 investor kelas kakap dari negeri-negeri Timteng yang kaya minyak tersebut, berminat investas di di sini. Anggito menyebutkan beberapa investor yang datang di antaranya Saudi Bank, Dubai Investment Bank, Qatar Investment Bank serta bank-bank dengan reputasi yang baik.

Kelompok usaha dari Arab Saudi, Bin Ladin Group, juga tertarik menanamkan modalnya di Jawa Barat, Sulawesi dan Papua dalam bidang agrobisnis. Bidang itu dipilih karena keamanan pangan tak hanya sedang menjadi perhatian Arab Saudi, tetapi juga tingkat internasional.

Data Komite Timteng dan OKI Kamar Dagang dan Industri Indonesia menunjukkan selama tahun 2007 nilai investasi Timteng di Indonesia mencapai US$ 500 juta. Sebaliknya, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Timteng mencapai US$ 2 miliar.

Pengamat ekonomi Christianwo Wibisono mengungkapkan, investor Timteng lebih suka ke Singapura dan Malaysia ketimbang Indonesia. Pasalnya, para pejabat Indonesia lebih suka minta sedekah ke Timteng, bukan investasi untuk menciptakan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi. Padahal jika dana Timteng masuk ke Indonesia, jika terjadi krisis finansial global, dampaknya ke Indonesia bisa diminalisasikan.

Jadi, tidak repot kan Bu Menteri Sri Mulyani? [I4]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi disini atau akses mobile langsung http://M.inilah.com via ponsel dan Blackberry !