
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI :
1 Euro = Rp.12429.6

(indopos.co.id)
INILAH.COM, Jakarta - Partai Keadilan Sejahtera mengakui menjalin komunikasi dengan Partai Demokrat. Apalagi belum lama ini pimpinan Partai Demokrat berminat menyandingkan Hidayat Nur Wahid dengan SBY pada Pilpres 2009.
Pimpinan Partai Demokrat (PD) memang mengincar Hidayat untuk bersanding dengan SBY, jika kelak SBY merasa sependapat dengan rencana ini. Ketua Fraksi PKS Mahfudz Sidiq membenarkan bahwa PD mendekati PKS untuk kemungkinan meminang Hidayat Nurwahid sebagai cawapres SBY.
Namun tanda-tanda ke arah itu masih kelam. Mengapa? Sebab SBY justru berminat dengan Jusuf Kalla, karena kuatnya Golkar di parlemen. Pengalaman selama lima tahun terakhir, JK adalah wapres yang bisa diandalkan SBY dalam memecahkan persoalan ekonomi dan politik.
"Saya melihat Pak SBY berkepentingan berduet dengan Pak JK pada 2009 karena Golkar di parlemen relatif kuat menopang kepresidenan SBY dalam menggerakkan kebijakan dan penadbiran (governance)," kata Fachry Ali, pengamat politik.
Dalam hal ini, menurut Direktur The Global Nexus Christianto Wibisono, melanjutkan duet SBY-JK jelas memerlukan strategi berbeda dengan memenangkan Pilpres 2004. Saat itu figur dan pesona SBY merupakan rahasia sukses duet SBY-JK dalam mengalahkan partai yang lebih besar dari PD.
Ketika terpilih, SBY-JK merupakan 'calon independen' yang muncul dari blokade partai besar karena rakyat langsung memilih pasangan itu, yang justru tidak direstui oleh Partai Golkar.
SBY kemudian beradagium, My loyalty to my party ends when my loyalty to my country begins. Sementara Jusuf Kalla sebagai Wapres, merebut jabatan Ketua Umum Partai Golkar.
Duet SBY-JK sebetulnya memiliki prestasi terobosan luar biasa ketika menciptakan perdamaian di Aceh dan menghentikan konflik Ambon dan Poso, walaupun residunya masih tetap kait-berkait dengan kinerja keseluruhan.
Dalam konteks politik pekan ini, setelah tersiar kabar Megawati berencana menggandeng Jusuf Kalla, pekan ini pula terdengar kabar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berniat menggandeng Hidayat Nurwahid. Namun ternyata, PDIP tak jadi berkoalisi dengan Golkar, dan SBY juga belum memberikan sinyal ke PKS.
Situasi ini penting bagi SBY-JK dalam melangkah tenang ke depan. Apalagi, para pengamat politik menilai, duet SBY-JK masih merupakan the best team untuk mewujudkan 'Indonesia Bisa', suatu langkah maju dari 'Bersama Kita Bisa'.
Tim sukses SBY dan tim sukses JK harus cermat mengikuti dinamika politik yang terus berkecamuk. Sebagian pengamat politik menilai, jika SBY dan JK pecah kongsi, keduanya akan merugi dan sejarah dwitunggal Soekarno-Hatta berarti kembali berulang: pecah dan bergetah ke arus sejarah orang kalah. [L1]
- Bursa Kabinet Kian Liar
- Hatta Rajasa Ketua Umum PAN?
- SBY Tak Muncul, PKS Kecewa
- Menakertrans, Imin atau Jumhur?
- Dana Kampanye SBY-Boediono 'Clear'
- Pemerintahan Baru Hemat Rp 70 Triliun
- SBY Didesak Usut Jual-Beli Kursi Ketua DPRD
- Lebaran, Ajang Rekonsiliasi Nasional PKS
- PDIP-Golkar Gabung, PKS Tak Masalah
- PKS Usik Kesadaran SBY
- PKS Tak Rela Koalisi 'Dirusak' PDIP
- 'Komisioner KPU Wajar Dipolisikan'
- Fatwa Mulai 'Kampanye' Ketua DPD
- PDIP-Gerindra Terjebak Koalisi SBY?
- PKS & PDIP Tak Beda di Mata Demokrat












