Minggu, 14 Maret 2010
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI : 1 Euro = Rp.12561.9
 
Politik
 
20/11/2008 - 17:44
FPI Mulai Menyodok SBY
Ahluwalia
Susilo Bambang Yudhoyono
(inilah.com/Abdul Rauf)

INILAH.COM, Jakarta – Front Pembela Islam (FPI) membuktikan janjinya beroposisi terhadap pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Mereka mendatangani KPK, mendesak agar Aulia Pohan, besan SBY, tersangka skandal BI, segera ditahan.

Massa FPI, organisasi yang cenderung radikal, Kamis (20/11) mendatangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Agak jarang FPI 'main-main' ke KPK. Domain mereka, biasanya, adalah wilayah hukum yang cenderung menyeret-nyeret keagamaan dan perilaku masyarakat.

Jika FPI mendatangi KPK, maka itu adalah bentuk perwujudan janji mereka yang beroposisi terhadap SBY. Sikap ini mereka ambil sejak pemerintahan SBY menahan dan menjatuhkan hukuman terhadap Ketua FPI, Habib Rizieq. Kalau Habib Rizieq langsung diiperiksa, ditahan, disidang, dan divonis, kenapa Aulia Pohan, tersangka kasus skandal BI, bebas berkeliaran?

Mereka pun geram. Mereka melihat ada ketidak-adilan. Karena itu, mereka mendesak KPK untuk menahan Aulia. Bukan pulakah sebagian tersangka lain dalam skandal aliran dana BI dan YPPI ini sudah ditahan, bahkan divonis? Kenapa Aulia masih bebas?

Bahwa aksi FPI ini erat kaitannya dengan perlakuan yang diterima pemimpin mereka, Habib Rizieq, disepakati sejumlah pemerhati. "Aksi FPI itu terkesan merupakan tindakan geram atau balas dendam mereka terhadap SBY sejak penahanan Habib Rizieq. Dan memang Habib Rizieq memiliki kekuatan massa di dalamnya," kata pengamat politik Abas Jauhari MS dari Institute for Civil Society Studies, Jakarta.

Relasi antara Islam politik radikal dan SBY memang kurang mesra belakangan ini. Itu bermula sejak pemerintahan SBY bersikap moderat dan demokratis terhadap Ahmadiyah. Padahal, FPI, MMI, dan kaum garis keras Islam lainnya mendesak agar pemerintah membubarkan Ahmadiyah.

Puncak konflik dan ketegangan terjadi ketika Habib Rizieq ditahan polisi menyusul bentrokan kekerasan oleh FPI dan Laskar Komando Islam terhadap barisan pluralis (Pancasila) yang mengadakan pawai Hari Kesaktian Pancasila, 1 Juni lalu di Jakarta.

Hubungan Islam radikal dan negara juga sempat tegang di masa lalu karena rasa kurang sreg dari tentara terhadap umat Islam akibat adanya kelompok DI /TII yang menuntut negara Islam. Di pihak lain, umat Islam di era Soekarno dan Soeharto itu juga merasa dimarginalisasi oleh Pemerintah.

Analis International Crisis Group (ICG) Sidney Jones melihat, fenomena kebangkitan Islam politik yang radikal belakangan ini merupakan buah dari reformasi. Kebebasan juga dimanfaatkan oleh elemen-elemen Islam untuk membangun dirinya, termasuk elemen radikal.

Itulah yang tergambar saat sekitar 30 anggota FPI dan LPI menyambangi KPK. Massa Islam yang tertahan di luar pagar Gedung KPK itu meneriakkan yel-yel yang mengecam kenapa Aulia Pohan, besan Presiden SBY, tak kunjung ditahan.

Aura kemarahan mereka terhadap SBY diperlihatkan dengan aksi protes yang penuh gelora politik itu. Aulia Pohan telah menjadi tersangka kasus aliran dana BI, namun mantan Deputi Gubernur BI itu belum ditahan. FPI pun memprotes KPK dan meminta besan Presiden SBY itu segera ditahan.

"Habib Rizieq (Ketua Umum FPI) saja langsung ditangkap. Sedangkan Aulia Pohan, besannya presiden sudah menjadi tersangka, tapi belum ditangkap juga," cetus Ketua Bidang Ekonomi dan Keuangan FPI, Mustafa M Bong dalam aksi demo itu.

FPI sudah merambah politik Istana untuk menekan besan Presiden SBY ditahan secepatnya. Sebuah manuver simbolik bahwa realsi keduanya sudah tidak lagi mesra. [I4]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi disini atau akses mobile langsung http://M.inilah.com via ponsel dan Blackberry !