
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI :
1 Euro = Rp.12429.6

INILAH.COM, Jakarta - KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur merupakan sosok penting bagi perjalanan politik kaum santri Nahdlatul Ulama (NU). Melalui Gus Dur, NU memfasilitasi pembentukan PKB.
Menurut Dekan FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Bachtiar Effendi, sepeninggal Gus Dur yang paling berat menerima konsekwensi adalah Partai Kebangkian Bangsa (PKB). Menurut dia, PKB tidak bisa dilepaskan dari figur Gus Dur yang juga menjadikan partai itu sebagai tempat gagasan politiknya.
“Paling berat memikul konsekwensi meninggalnya Gus Dur adalah PKB. Karena PKB didirkan Gus Dur, walaupun lima tahun terakhir muncul konflik. Tetapi saya kira PKB tidak bisa memungkiri bahwa faktor Gus Dur cukup penting,” tegasnya kepada R Ferdian Andi R, wartawan INILAH.COM di Jakarta, Kamis (31/12). Lalu apa yang harus dilakukan PKB? Berikut analisis pengamat politik Islam ini:
Bagaimana masa depan politik NU pasca meninggal KH Abdurrahman Wahid yang telah melembaga di tubuh NU?
NU tidak bisa lagi mencari orang seperti Gus Dur, tidak bisa tergantikan. Saya kira, masa depan politik NU akan melanjutkan apa yang sekarang ini sedang berjalan. Bahwa orang-orang NU banyak yang berpolitik ya, tetapi NU tidak lagi menjadi partai politik.
Gus Dur bisa dimaknai sebagai figur perekat di tubuh NU. Apakah dengan meninggalnya Gus Dur, kekuatan politik NU akan terpecah?
Saya kira NU akan sama saja dengan Muhammadiyah. Akan tetap menjadi lembaga sosial kelembagaan, dimana organisasi ini akan membebaskan kadernya berpolitik apakah di PPP, PKB, PDIP, atau Golkar. Jadi, kita tidak bisa mengatakan tercacah-cacah, tetapi memang konsekwensi dari dibebaskan para anggota untuk memilih partai politik.
Lalu bagaimana dengan warga NU yang kita ketahui sebagai kelompok tradisional bertumpu kepada Gus Dur dan menjadikan sebagai rujukan politik?
Memang Gus Dur menjadi tokoh paling dominan di tubuh NU, tetapi dalam lima tahun terakhir ini pengaruhnya mulai menurun, dalam artian tidak semua politisi NU berusaha mengikuti apa yang dilakukan Gus Dur.
Seperti Muhaimin Iskandar, Suryadharma Ali, Nusron Wahid, adalah orang NU tetapi mereka mempunyai pilihan politik yang berbeda. Bahkan Muhaimin mengesankan ada konflik politik dengan Gus Dur.
Bagaimana dengan PKB sendiri dengan meninggalnya Gus Dur sebagai tokoh sentral di partai tersebut?
Memang yang paling berat memikul konsekwensi meninggalnya Gus Dur adalah PKB. Karena PKB didirikan Gus Dur, walaupun lima tahun terakhir muncul konflik. Tetapi saya kira PKB tidak bisa memungkiiri bahwa faktor Gus Dur cukup penting. Karena konflik dengan Gus Dur-lah, perolehan suara PKB dalam Pemilu 2009 lalu turun.
Sekarang semuanya berpulang kepada orang PKB apakah yang berseberangan dengan Gus Dur, masih setia untuk melakukan semacam rekonsiliasi mengembangkan partai dan meneruskan apa yang dulu dicita-citakan pendirinya.
Sebab PKB-lah yang menjadi manifestasi gagasan politik Gus Dur, bukan PPP, atau partai-partai lain. Jadi kalau petinggi PKB tidak mampu melakukan rekonsiliasi dan menghimpun kembali kekuatan yang berserakan, saya kira masa depan PKB akan suram.
Jadi ini terpulang terutama pada Muhaimin Iskandar, apakah akan melakukan rekonsiliasi dengan elit politik PKB lainnya, termasuk para kyai-kyai yang berseberangan dengan Gus Dur. Kalau ini tidak bisa dilakukan, pada Pemilu 2014 saya kira perolehan PKB akan merosot. Yang lebih penting adalah kekuatan regional PKB terutama di Jatim berat tanpa Gus Dur.
Artinya, melembagakan organisasi politik secara kuat jauh lebih taktis daripada mencari figur pengganti Gus Dur?
Gus Dur tidak tergantikan. Saya kira Gus Dur menjadi orang paling berpengaruh di NU, mungkin baru mendapatkan orang serupa pada 100 tahun lagi. Menurut saya Gus Dur sejajar dengan kakeknya KH Hasyim Asyari dan KH Idham Chalied, bahkan beliau jauh lebih besar dari ayahnya sendiri KH Wahid Hasyim.
Gus Dur merupakan tokoh fenomenal yang hampir tidak mungkin bagi orang NU untuk menemukan tokoh seperti Gus Dur, Hasyim Asy’ari dan Idham Calid. Ini tiga tokoh besar di NU, yang saya kira agak sulit mencari padanannya. [mdr]
- Masdar F Mas’udi
Kembalikan NU pada Khittah-nya - Sony Arianto Kurniawan
Saya Apresiasi Terhadap Sony Corp - Ahdian Hussaini
Anggap Saja Obama Sebagai Tontonan - Dynno Chressbon
Teroris Bersiap Serang Obama - Al Khatat
Kami Tolak Sampai Obama Datang - Bachtiar Effendi
Penghinaan Buat Para Tokoh - Umar Juoro
Awas! Implikasi Ekonomi Boikot Menkeu -
Tifatul: Bahkan Abu Jahal Saja Dihormati - Mukhamad Misbakhun
'Masyarakat Panggil Saya Pak Pansus' - Mahfud MD
Boediono Bisa Diberhentikan - Sjamsu Rahardja
Indonesia Jangan Sampai Alami Filipinanisasi - Prof Ahmad Suhelmi PhD
Century Gate Jadi Pertarungan Kekuasaan - Irman Putra Sidin
Arah Pansus Bukan ke Menkeu - Prof Ron Chepesiuk
Korupsi Jadi Tantangan RI -
Istri Sunan: Jennifer Dunn Bukan Siapa-siapa












