
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI :
1 US Dollar = Rp.9116
PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono membutuhkan zaken kabinet, sebuah kabinet yang diisi kalangan profesional, yang tidak hanya memudahkan kerja pemerintahan, tapi juga membentuk nilai positif bagi publik.
Presiden tentu memiliki pandangan soal kabinet ahli itu. Di tengah kompleksitas masalah yang dihadapi bangsa ini, jelas kabinet ahli merupakan kebutuhan untuk mengatasi persoalan.
Pekan ini, Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II bakal diumumkan Presiden SBY. Ada yang menilai kabinetnya kali ini kompromistis. Ada pula yang melihatnya sebagai kabinet konservatif. Tapi yang tepat barangkali adalah Kabinet Jalan Tengah. Mengapa?
Masyarakat sebenarnya sejak awal sangat menginginkan agar pos menteri bidang ekonomi diisi kalangan profesional dan memiliki pengalaman di bidangnya.
Namun karena merupakan kabinet koalisi dengan 24 parpol, maka SBY harus mengambil jalan tengah untuk merangkul politisi maupun profesional. Jadi tak salah kalau kita menyebutnya Kabinet Jalan Tengah.
Yudhoyono akan dicatat sebagai presiden yang berani melaksanakan prinsip the right man in the right place jika berhasil membentuk kabinet ahli. Prinsip pertama dan utama kabinet hanyalah meritokrasi. Yang dibela kalangan profesional adalah kepentingan rakyat, bukan partai atau kelompok tertentu.
Kabinet SBY ke depan sudah memiliki modal cukup besar dari segi SDM dan berbagai kemajuan dalam pembangunan selama ini. Dengan berbagai kelemahan yang masih ada, pembangunan lima tahun ini sudah menunjukkan pencapaian.
Bahkan studi Pricewaterhouse Coopers (The World in 2050 yang diperdalam dengan Banking in 2050) kembali menempatkan Indonesia dalam jajaran perekonomian elit di percaturan perekonomian global.
Dengan berkembangnya persepsi semacam itu, minat para investor berinvestasi di Indonesia menjadi semakin berkembang. Selain bank-bank Inggris yang secara berturut-turut melakukan akuisisi di Indonesia beberapa waktu terakhir, perbankan Indonesia memperoleh perhatian investor yang semakin besar dari seluruh penjuru dunia.
Sampai hari ini masih saja terdengar minat yang serius dari investor maupun bankir asing untuk melakukan akuisisi perbankan di Indonesia.
Demikian juga di berbagai sektor ekonomi lain, minat itu mirip dengan apa yang timbul setelah maraknya perhatian orang pada negara-negara BRIC (Brasil, Rusia, India, China) . Perkembangan inilah yang akhirnya akan melahirkan self fulfilling prophecy karena minat investor itu akhirnya akan mampu merealisasi prediksi Morgan Stanley tentang prospek pertumbuhan Indonesia 2011 dan sesudahnya. Semua itu menunjukkan prospek ekonomi ke depan.
Kita harus bersyukur bahwa di bawah kepemimpinan Presiden SBY, Indonesia termasuk satu dari sedikit negara yang ekonominya mampu tumbuh positif sepanjang 2009.
Mungkin hanya China dan India yang tumbuh melebihi Indonesia. Negara-negara lain, termasuk negara yang lebih maju, tidak berdaya terpukul krisis.
Beberapa laporan bahkan kemudian menyandingkan Indonesia dengan Brasil, Rusia, China, dan India. Indonesia turut dipandang sebagai kekuatan baru yang mampu meningkatkan perannya secara signifikan dalam geliat perekonomian dunia.
Waktu yang lebih tepat menilai seberapa sesuai penilaian di atas sebenarnya dimulai dari sekarang, pada saat ekonomi dunia mulai menunjukkan pemulihan. Akankah ketangguhan ekonomi Indonesia di kala krisis dapat berlanjut? Misalnya, dengan meningkatkan penetrasi pangsa pasar ekspor, atau dengan merebut lebih banyak porsi dana investasi global yang selama ini mengalir ke negara-negara yang lebih menjanjikan sebagai sentra investasi?
Semua itu merupakan tantangan yang harus dihadapi pemerintahan SBY-Boediono ke depan. Kita yakin akan berhasil meraih kemajuan pada masa depan dengan berbagai upaya dan pelajaran dari masa lalu.
Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) periode II merupakan kabinet koalisi, yang bertekad membentuk kabinet kerja yang profesional. Kita dukung kinerja itu dengan seluruh potensi yang ada.
Masyarakat ingin kesejahteraan dan keadilan. Dan percaya, pemerintah berusaha keras ke arah sana, dengan kontrol demokratis (checks and balances) dari civil society di Indonesia. [mor]
- Istana dan Solusi Atas Kasus Bank Century
- Golkar Terjerat Cek Pelawat?
- Polemik Industri Rokok
- Bebas dari Terorisme Butuh Peran Rakyat
- Mewaspadai Terorisme
- KPK Terpecah Soal Bank Century
- Indonesia Negeri Terkorup
- Menyoal Barter Perkara
- Sesudah Kemenangan Opsi C
- Sandhyakala Ning Neolib
- Soal SBY Bertanggung Jawab atas Bailout Century
- Pansus Century dan Perpecahan Parpol
- Menunggu Jawaban Istana
- Masa Depan Koalisi SBY
- Giliran Langkah Penegak Hukum












