
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI :
1 Euro = Rp.12429.6
INILAH.COM, Jakarta – Penghentian perdagangan bursa selama tiga hari dinilai merugikan Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun, potensi kehilangan itu tidak ada artinya bila dibandingkan bila pasar bursa tetap dibuka.
Ekonom senior Danareksa Sekuritas Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan potensi kerugian yang dialami BEI selama tiga hari penutupan perdagangan tidak begitu besar. Justru penutupan berfungsi untuk menahan agar kerugian itu tidak bertambah besar.
"Keputusan BEI merupakan kebijakan yang tepat. Market tidak rasional, padahal mereka tidak terganggu lagi oleh persoalan fundamental ekonomi," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat(10/10).
Menurutnya, dari sisi nilai nominal potensi kerugian BEI hanya dari sisi tiadanya transaksi. Tapi kerugian itu, tidak seberapa dibandingkan dengan proteksi yang diberikan kepada investor-investor biasa dengan menutup sementara perdagangan di bursa.
Bagaimana potensi kerugian dari penutupan BEI akhir pekan lalu?
Kalau potensi kerugian, mungkin lebih banyak potensi kerugian yang tidak hilang. Karena kalau market dibuka, turunnya akan dalam. Artinya, banyak kerugian investor-investor yang pasif.
Jadi, keputusan itu bijak untuk menutup sementara perdagangan di bursa di saat marketnya tidak rasional. Padahal mereka tidak terganggu lagi oleh persoalan fundamental ekonomi. Maka, saatnya mungkin ditunggu sampai keadaannya lebih normal.
Berapa nilai nominal kerugiannya?
Potensi kerugian BEJ adalah kerugian karena tidak adanya transaksi, yaitu karena tidak mendapat fee dari transaksi itu. Itu secara nominalnya. Total kerugian nominalnya mungkin miliaran, tapi harus dicek lagi. Tapi kerugian itu tidak seberapa dibanding proteksi yang yang diberikan kepada investor-investor biasa. Fee itu tidak seberapa dibandingkan hilangnya kredibilitas pasar modal.
Tutupnya bursa berarti kredibilitas bagi pasar modal. Artinya ada tidak proteksi terhadap investor, terutama investor domestik yang bukan spekulator. Yang nggak main tiap hari berdasarkan sisi teknikal. Mungkin kerugian BEI dihitung 4 triliun kali berapa persen dari setiap transaksi dan mungkin itu tidak terlalu besar-besar amat. Tapi, yang paling penting, penutupan ini bisa mengurangi koreksi yang tidak perlu. Kalau memang sudah kembali ke level yang rasional mungkin tidak apa-apa, terkoreksi juga.
Lalu, bagaimana kerugian dari pajak?
Pasti dari sisi pajak rugi, tapi tidak banyak-banyak amat. Dan dampaknya ke pemerintah Indonesia mungkin lebih kecil dibanding loss yang ada jika BEI dibuka terus. Itu loss -nya akan ke mana-mana. Ke kredibilitas pemerintah dan mungkin bisa membahayakan pemerintah juga kalau jatuhnya terlalu dalam.
Untuk investor dalam keadaan seperti sekarang, kerugiannya lebih besar jika indeks dibuka. Untuk BEI lebih untung kalau dibuka, begitu juga untuk pajak. Tapi, in the long run , ketika semua orang kapok di pasar modal BEI dan pajak akan mendapatkan fee yang lebih sedikit di tahun-tahun mendatang. Artinya, merugikan sekali untuk BEI, in the longer run, untuk pajak juga sama.
Seberapa besar kontribusi indeks terhadap perekonomian nasional?
Sebenarnya kontribusi langsungnya kecil. Karena investor di Indonesia tidak banyak, dibanding total populasi penduduk di negeri ini yang 200 juta. Jadi, tidak membuat orang menjadi tidak belanja gara-gara indeks jatuh. Tapi, kalau indeks terpuruk, biasanya merembet ke mana-mana. Kalau sentimen saham negatif, maka sektor finansial jatuh. Artinya, kalau imbasnya tidak dijaga, maka akan menular ke rupiah, merembet ke bond market, akan merembet juga ke suku bunga, merembet juga ke perbankan dan akhirnya ke sektor riil.
Tapi, kalau dihitung, ruginya orang kalau indeksnya jatuh tidak banyak.Orang yang main di pasar modal sedikit hanya 1% atau kurangdibanding jumlah populasi kita. Tapi rembetannya itu harus dijaga.
Lalu, bagaimana kontribusi kapitalisasi bursa terhadap PDB?
Kalau kita lihat kapitalisasi bursa terhadap PDB, mungkin sekitar 40-50%. Tapi, bukan berarti sumbangannya terhadap PDB sebesar itu. Pasalnya, seperti yang saya bilang tadi, orang-orang yang terekspos langsung ke indeks, tidak terlalu banyak dibandingkan dengan populasinya.
Meskipun IHSG ambruk, berarti tidak mencerminkan fundamental perekonomian nasional ambruk?
Tidak! Tidak mencerminkan perekonomian nasional ambruk. Tapi, kalau IHSG dibiarkan ambruk nantinya akan merembet ke mana-mana. Jadi mesti dijaga juga. Tapi, bukan berarti jatuhnya indeks ini mencerminkan atau gara-gara ekonomi nasional ambruk. Saat ini, ekonomi nasional masih cukup baik, dan tumbuhnya mungkin sekitar 6%, untuk bulan-bulan sekarang. Jadi, dari sisi fundamental, nggak ada yang perlu ditakutkan. Kemarin itu IHSG tutup karena kepanikan orang. Maka saya setuju indeks ditutup saja, sampai ekspektasi menjadi rasional. Pasalnya, tidak justified dengan fundamental ekonomi sekarang.(E2)
- Bayu Aji
BUMI Menguat Perlahan Tapi Pasti - Ukie Jaya Mahendra
Faktor Pajak, Tak Jadi Hambatan BUMI - Willy Sanjaya
Transaksi Tipis, BUMI Tetap Naik - Irwan Ibrahim
Asing Bertahap Akumulasi BUMI - Willy Sanjaya
BUMI Menuju Rp3.200 Hingga Juni - Gina Novrina Nasution
BUMI Menguji Level ‘Resistance’ Rp2.600 - Ukie Jaya Mahendra
BUMI Akan ‘Rally’ - Irwan Ibrahim
Target BUMI Rp3.200 Akhir Maret Ini - Willy Sanjaya
Valuasi BUMI Masih Sangat Murah - Arga Paradita Sutiono
Asing Mulai ‘Net Buy’ di BUMI - Gina Novrina Nasution
BUMI ‘Oversold’, Siap Menanjak - Ukie Jaya Mahendra
Pemakzulan Tak Tekan BUMI - Irwan Ibrahim
Pemakzulan SBY Picu BUMI Konsolidasi - Nugroho Setiadarma
Ekspansi dengan Investasi Termahal - Veronica Tjong
Pancious, Hanya Berbekal Hobi Makan












