Laporan INILAHCOM dari Italia

Pengalaman Pertama Tonton Langsung Serie A

RA
Oleh Reza Adi Surya
Senin 27 Januari 2020
share
(Foto: inilahcom/Reza Adi Surya)

INILAHCOM, Milan - Bersama dengan empat jurnalis asal Indonesia lainnya, Inilahcom meliput langsung latihan Garuda Select di Italia. Di sela-sela tugas, saya mendapat kesempatan menonton langsung Serie A di Stadion San Siro.

Lima jurnalis dari Indonesia diundang Mola TV berangkat ke Italia untuk meliput langsung latihan dan pertandingan ujicoba Garuda Select. Kami menginap di hotel yang sama dengan skuad Garuda Select di Best Western, Albavilla, Como.

Agenda kami tentu saja meliput langsung latihan dan kegiatan para pemain Garuda Select di luar latihan, termasuk keseharian mereka saat tak ada latihan atau pertandingan.

Saat berlatih di Inggris, Garuda Select mendapat kesempatan menonton langsung pertandingan Aston Villa melawan Norwich City. Di Italia, mereka sudah tiga kali berkunjung ke stadion untuk menyaksikan laga Serie A (Juventus vs Udinese, AC Milan vs Udinese, Inter Milan vs Cagliari).

Saya dan empat jurnalis Indonesia lainnya hanya mendapatkan satu kesempatan menonton langsung laga Serie A antara Milan melawan Udinese, Minggu (19/1/2020) di San Siro. Bagi kami, ini merupakan pengalaman pertama menonton langsung Serie A, meskipun sebelumnya saya sudah pernah menonton langsung pertandingan Manchester United melawan FC Rostov di Old Trafford pada ajang Liga Europa di 2017.

Setelah tiba di San Siro, saya langsung masuk. Barang bawaan diperiksa sebelum masuk ke dalam stadion dan tentu saja tiket yang harganya sekitar 30 Euro (450 ribu Rupiah) untuk bangku di atas. Setelah melewati fase pemeriksaan, saya harus menaiki tangga yang kia-kira sama dengan naik ke lantai 10. Dengan fisik yang gemuk, tentu saja saya sempat kelelahan. Tapi, rasa lelah itu terbayar ketika mata langsung melihat ke sekitar San Siro dimana sudah banyak penonton yang hadir, terutama Curva Sud, tribun fans fanatik Milan.

Kemudian, saya merasa takjub melihat lapangan San Siro. Saya dan teman-teman yang lain masuk agak telat dimana pertandingan sudah dimulai sekitar 7 menit. Kami sempat terhambat saat ingin masuk ke stadion karena antrean sangat panjang dan tidak teratur alias saling berdesak-desakan.

Setelah berhasil menemukan tempat duduk, pandangan saya langsung melihat sekeliling stadion. Meskipun tidak penuh, tapi mungkin ada sekitar 50 ribuan penonton yang hadir. Sudah bisa ditebak, tribun Curva Sud yang paling vokal memberikan dukungan tanpa henti.



Selama pertandingan berjalan, banyak tukang jualan minuman dingin seperti bir dan soda. Ada juga yang menjual makanan kecil. Seperti layaknya orang-orang Eropa pada khususnya, biasanya bir adalah teman setia mereka ketika menonton pertandingan sepak bola di stadion, di bar, atau di rumah.

Babak pertama berakhir dengan skor 2-1 untuk keunggulan Milan. Penonton di San Siro sempat terdiam ketika Udinese unggul lebih dulu melalui gol Stryger Larsen. Tapi, Rossoneri bisa membalikkan skor berkat gol Ante Rebic dan Theo Hernandez.

Babak kedua tinggal beberapa menit, Udinese menyamakan skor melalui gol Kevin Lasagna. San Siro yang sempat terdiam kembali bergemuruh ketika Rebic mencetak gol keduanya di masa injury time. Atmosfer San Siro sangat meriah menyambut gol tersebut. Teriakan dan kibaran bendera menjadi pemandangan yang indah bagi fans Milan di seluruh dunia.

Kalau boleh jujur, saya tak terlalu memerhatikan pertandingan dengan seksama meskipun kelima gol yang tercipta tak luput dari pandangan saya. Saya lebih sibuk mengabadikan suasana di stadion dan merekam aksi-aksi fans fanatik di Curva Sud yang tak henti-hentinya bernyanyi.

Ketika wasit meniup peluit tanda laga usai, semua penonton mulai meninggalkan stadion. Sudah bisa ditebak dong, kami dari Indonesia tentu memilih tinggal lebih lama di stadion untuk sekadar melakukan swafoto atau berfoto bersama. Salah satu jurnalis dari Kompascom, Sadad, berencana mengabadikan foto dirinya mengenakan jersey Juventus, tapi dia mengurungkan niatnya karena tidak berani.

Oh iya, ada satu pengalaman lagi yang saya dapat di San Siro. Sebelum masuk ke staion, saya dan jurnalis Jawapos (Ali) dan Kompascom (Sadad) sedang asyik memainkan telepon genggam di sekitar stadion. Tiba-tiba ada imigran asal Senegal yang menghampiri dan menawarkan semacam gelang secara gratis. Awalnya kami menolak, tapi karena mereka bilang gratis, saya, Ali dan Sadad menerimanya. Dua imigran tersebut langsung memasangkan gelar di pergelangan tangan kami.

Alih-alih gratis, mereka malah langsung meminta Euro kepada kami. Kami bertiga sempat berdiskusi, sampai pada akhirnya sepakat memberikan mereka tiga Euro untuk enam gelang yang sudah dipasangkan di pergelangan tangan.

Well, kejadian kurang mengenakkan tersebut tidak mengurangi perasaan senang dan bahagia saya bisa menyaksikan Zlatan Ibrahimovic dkk. langsung di San Siro.

Arrivederci...

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA