Shin Tae-yong dan PSSI Mulai Tak Harmonis?

RA
Oleh Reza Adi Surya
Kamis 18 Juni 2020
share
(PSSI)

INILAHCOM, Jakarta - Hubungan antara pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong dengan PSSI tampaknya mulai tidak harmonis. Hal itu terungkap dalam sesi wawancara Shin dengan media Korea Selatan.

Shin merasa PSSI mulai mengingkari janjinya untuk memberikan dukungan penuh kepadanya untuk membangun timnas Indonesia. Eks pelatih Korsel di Piala Dunia 2018 itu juga berani menyebut PSSI "bermuka dua".

Shin Tae-yong resmi menjalin kontrak dengan PSSI pada 28 Desember 2019. Dalam kesepakatannya dengan Ketum PSSI, M Iriawan, Shin didapuk sebagai pelatih timnas U-20, U-23 dan juga timnas Senior. Ia diberi kontrak jangka panjang, empat tahun.

Shin menerima pinangan PSSI saat itu karena tertarik dengan visi PSSI yang ingin memperbaiki sepak bola Indonesia dari akarnya, dibandingkan bicara hasil dan prestasi jangka pendek. Hal ini jugalah yang kemudian membuatnya menolak klub Tiongkok yang menawarkan gaji tiga kali lipat dari yang didapatnya di PSSI.

Sayang, hubungan harmonis Shin-PSSI tidak berlangsung lama. Enam bulan berselang, Shin menyebut PSSI mengingkari janjinya dan bersikap tidak profesional.

Diawali dari pemotongan gaji yang dilakukan secara sepihak. Shin mengaku tidak diajak berdiskusi terkait keputusan PSSI memangkas 50 persen gajinya dengan alasan covid-19. Padahal, secara pribadi Shin telah mendonasikan 20 ribu Dolar AS untuk membantu penanganan covid-19 di Indonesia.

Selain itu, pembayaran gaji bulan April dan Mei yang tidak tepat waktu telah merusak kepercayaan Shin atas komitmen profesional PSSI.

Di luar permasalahan gaji, Shin juga mengeluarkan unek-uneknya soal agenda Training Camp (TC) timnas U-19. Dalam road map yang telah dipresentasikannya pada Mei 2020, Shin meminta dukungan PSSI untuk menggelar TC di luar negeri (Korsel) mulai bulan Juli hingga September.

Selama 6-8 minggu TC, Shin berencana menggelar sejumlah laga uji coba melawan tim-tim Korea yang levelnya di atas Timnas U-19. Tujuan Shin sangat jelas. Pemain dan tim bisa berkembang ketika melawan tim-tim yang lebih kuat.

Namun, PSSI yang dulu memberikan dukungan penuh, kini berbalik arah. Shin diminta membatalkan rencana tersebut dan kembali ke Indonesia untuk menggelar TC di Indonesia, dengan melawan klub-klub lokal. Padahal, saat ini Indonesia tengah jadi sorotan lantaran melonjaknya kasus positif covid-19.

"Di Indonesia, ada 1.000 orang yang dinyatakan positif Covid-19 per harinya. Tapi, PSSI meminta kami untuk menggelar TC di sana," dikutip dari Naver Sports.

Satu lagi poin kekecewaan Shin Tae-yong kepada PSSI adalah terkait target yang dibebankan kepadanya. PSSI yang tadinya berkomitmen untuk menggambar masa depan sepak bola Indonesia bersama-sama, justru memasang target yang sulit untuk direalisasikan.

PSSI menuntut Shin untuk membawa Timnas U-19 melaju hingga babak empat besar atau final di Piala Asia U-19 2020 di Uzbekistan. Sementara timnas senior ditargetkan menjadi juara pada Piala AFF 2020, bulan November nanti. Padahal, dalam road map yang dibuat Shin, Timnas senior ditargetkan menjadi juara AFF pada 2022.

"Di Piala Dunia U-20 yang akan digelar di Indonesia tahun depan (2021), mereka (PSSI) memasang target minimal lolos babak perempat final," tambah mantan pelatih Timnas Korea Selatan.

Sejauh ini, Shin Tae-yong masih berada di Korea dan masih terus memantau perkembangan para pemainnya lewat TC yang digelar secara virtual.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA