Mengenang 63 Tahun Tragedi Munich

IN
Oleh inilahcom
Sabtu 06 Februari 2021
share
 

6 FEBRUARI menjadi tanggal yang tidak akan pernah bisa dilupakan oleh klub raksasa Inggris Manchester United beserta fansnya.

Tepat 63 tahun lalu, yakni 6 Februari 1958, terjadi suatu peristiwa yang menjadi catatan kelam bagi klub, di mana pesawat British European Airway yang ditumpangi para pemain dan staf MU mengalami kecelakaan di Bandara Munich, Jerman, sesaat setelah lepas landas.

Untuk mengenang tragedi ini, MU kerap memasang jam di salah satu sudut stadion kebanggaan mereka, Old Trafford. Selain menunjukkan waktu kejadian, terdapat pula tulisan '6 Februari 1958, Munich'.

The Munich Clock, demikian julukan dari jam itu, merupakan cara untuk mengingat tragedi yang merenggut nyawa delapan pemain serta tiga staf MU. Tercatat 23 orang dari 44 penumpang meninggal dalam kecelakaan nahas tersebut.

Skuad MU yang saat itu dikenal dengan sebutan Busby Babes, baru saja usai menjalankan laga leg kedua perempat final Piala Champions melawan Red Star Belgrade di Yugoslavia.

Laga tersebut berakhir imbang 3-3, namun MU berhasil lolos ke semifinal dengan agregat 5-4 setelah di leg pertama, mereka berhasil memetik kemenangan 2-1.

MU pun harus segera kembali ke Manchester untuk melakoni pertandingan di Liga Inggris. Pihak klub menyewa pesawat Airspeed Ambassador milik British European Airways. Selain para pemain dan staf MU, terdapat pula sejumlah jurnalis dan suporter yang ikut serta dalam rombongan.

Karena keterbatasan kemampuan terbang, pesawat pun berhenti di Bandara Munich-Reim, Jerman Barat, untuk mengisi bahan bakar. Transit di Munich inilah yang menjadi awal dari tragedi.

Setelah mengisi bahan bakar, sang pilot dan co-pilot, James Thain dan Kenneth Rayment, berusaha untuk menerbangkan pesawat di tengah cuaca buruk seusai badai salju.

Dua kali percobaan lepas landas yang dilakukan berujung kegagalan karena gangguan mesin. Dan ketika hendak melakukan percobaan lepas landas yang ketiga, salju turun hingga menutupi landasan.

Menara pengawas pun sudah memperingatkan agar pesawat jangan terbang dan menginap satu malam di Munich. Namun sang pilot, kapten James Thain tetap bersikukuh untuk menerbangkan pesawat. Dan keputusan pilot yang mengabaikan anjuran menginap ini akhirnya berakibat fatal.

Ketika mencoba lepas landas untuk yang ketiga kalinya, pesawat tak mampu dikendalikan karena salju tebal. Salju tersebut menahan pesawat untuk mencapai kecepatan yang dibutuhkan untuk terbang hingga akhirnya menabrak pagar dan melewati landasan dalam kecepatan tinggi. Pesawat pun crash setelah menabrak beberapa bangunan dan pohon.

Dalam investigasi, kapten pilot James Thain sempat dinyatakan bersalah oleh otoritas penerbangan Jerman Barat. Tapi, investigasi lanjutan yang dilakukan pihak Inggris menyatakan sang pilot bebas dari tuduhan. Ini karena menurut pihak Inggris, salju yang mencair di landasan merupakan penyebab dari kecelakaan tersebut.

Akibat kecelakaan tersebut, tujuh pemain MU dinyatakan meninggal dunia di tempat kejadian. Satu pemain lainnya, Duncan Edwards, meninggal dunia dua minggu kemudian akibat cedera parah yang dialaminya.

Sementara, ada sembilan pemain lain yang selamat dari tragedi tersebut, termasuk sang legenda Sir Bobby Charlton yang saat itu baru menjalani debut 18 bulan. Adapun pelatih Sir Matt Busby juga turut selamat dari peristiwa nahas tersebut.

Tragedi tersebut tentu menggemparkan jagat sepak bola. Bagaimana tidak, MU harus rela kehilangan hampir separuh dari timnya. Mereka juga masuk ke dalam masa kelam dari segi prestasi dan finansial.

Dalam momen tersebut, klub asal Spanyol, Real Madrid, mengulurkan tangan untuk memberi bantuan kepada MU. Seperti yang diberitakan Independent, Madrid melakukan berbagai cara untuk membantu MU kala itu.

Saat itu, Real Madrid berhasil keluar sebagai juara Piala Champions, setelah mengalahkan AC Milan di final dengan skor 3-2. Kemenangan tersebut mereka dedikasikan kepada MU. Bahkan, mereka mencoba menawarkan trofi juara Piala Champions kepada MU, meski akhirnya ditolak.

Tak berhenti sampai di situ. Real Madrid juga sempat menawarkan untuk meminjamkan pemain bintang mereka, Alfredo di Stefano, kepada MU untuk musim 1958/1959. Namun, bantuan tersebut tak bisa diterima karena langkah FA yang memblokir transfer itu dengan alasan khawatir menghambat potensi pemain Inggris.

Tak putus asa, Real Madrid mencoba cara lain. Mereka pun membuat sebuah bendera dengan nama-nama korban meninggal pada Tragedi Munich. Diberi nama Champions of Honour, bendera-bendera itu dijual di Spanyol, kemudian dana yang terkumpul dialokasikan untuk MU.

El Real juga menawarkan pengobatan gratis pada korban yang terluka untuk memulihkan diri dengan fasilitas mewah milik mereka. Mereka juga menggelar pertandingan persahabatan untuk menggalang dana yang melibatkan kedua tim.

One cold and bitter Thursday in Munich, Germany,
Eight great football stalwarts conceded victory,
Eight men will never play again who met destruction there,
The flowers of English football, the flowers of Manchester

Penggalan lirik tersebut berasal dari lagu The Flower of Manchester yang dipersembahkan khusus untuk delapan pemain yang meninggal saat Tragedi Munich.

Adalah Gez Mason, salah satu fans MU yang menginisiasi peringatan tragedi tersebut dengan menyanyikan lagu The Flower of Manchester, tepat di waktu tragedi terjadi, yaitu pukul 15.04.

Geoff Bent, Roger Byrne, Eddie Colman, Duncan Edwards, Mark Jones, David Pegg, Tommy Taylor, dan Liam Whelan adalah delapan nama pemain MU yang harus direlakan pergi oleh klub dan fansnya. Delapan pemain tersebut merupakan anggota dari skuad legendaris MU yang dijuluki Busby Babes.

Busby Babes sendiri adalah julukan yang diberikan pada para pemain MU yang direkrut oleh pemandu bakat Joe Allen. Mereka kemudian naik ke tim utama dan berada di bawah asuhan pelatih legendaris MU, Sir Matt Busby.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA