https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   30 July 2021 - 13:24 wib

Olimpiade di Tengah Pandemi Jadi Sandungan Atlet

berita-profile

Inilah

0

0

Pemandangan tidak lazim pertama kali terjadi di ajang Olimpiade Tokyo 2020, bagaimana tidak mulai dari isolasi, tes Covid-19 rutin, hingga tak bisa bertemu sahabat dan keluarga menjadi tantangan ekstra atlet di Olimpiade Tokyo 2020. Tantangan itu menimbulkan gangguan kecemasan dan menambah beban mental para atlet.

Tekanan besar di Olimpiade Tokyo juga dirasakan banyak atlet cabang lainnya, salah satunya peraih emas angkat besi 55 kilogram putri asal Filipina, Hidilyn Diaz (30). Dia tidak bisa menikmati Olimpiade itu karena terus menerus dibuat cemas oleh tes Covid-19.

”Setiap hari, kami harus menjalani tes saliva. Saya selalu cemas apakah hasilnya positif atau negatif. Kami tidak pernah tahu ada virus atau tidak di tubuh ini. Jadi, saya tak pernah bisa bahagia sampai benar-benar akan bertanding,” kata peraih emas Olimpiade pertama dalam sejarah Filipina tersebut dikutip dari reuters.

Beruntung, kecemasan itu tidak terbawa saat Diaz tampil. Meskipun demikian, perempuan bertubuh kekar ini merasa protokol kesehatan membuatnya bukan seperti manusia lagi. ”Kami sudah seperti robot karena harus menjalani hal-hal yang sama setiap hari dan menghindari orang-orang di sekitar,” pungkasnya.

Tak hanya protokol kesehatan, penyakit Covid-19 sendiri juga memengaruhi performa atlet. Atlet anggar Korea Selatan, Oh Sanguk (24), misalnya, sempat dirawat sebulan karena positif Covid-19 pada masa persiapan Olimpiade Tokyo. Sejak itu, ia merasa tubuhnya tidak lagi seperti dulu.

”Saya merasa kekuatan fisik ini melemah. Dan, setiap kali memikirkan hal itu, kepercayaan diri saya merosot,” ucap Sanguk, yang kalah di perempat final dari atlet Georgia, Sandro Bazadze.

Ben Miller, psikolog sekaligus Presiden Well Being Healt Trust—yayasan yang bergerak di bidang kesehatan mental—berkata, pandemi sangat berdampak pada atlet. Mereka kehilangan sosok penonton yang merupakan pemberi energi di setiap pertandingan.

”Jadi, ada hubungan sosial yang terputus di tengah pandemi ini. Tidak ada lagi penonton yang menyemangati Anda. Banyak sekali hal yang berubah akibat Covid-19. Saya rasa, ini menjadi alasan di belakang semua kejadian ini (masalah mental),” ucap Miller.

Kesulitan para atlet membuat pelatih dari pelari 1.500 meter asal Kenya, Bernard Ouma, mengapresiasi setiap perjuangan atlet di Olimpiade. Dia memuji setinggi langit semua atlet yang telah berjuang, meskipun pada akhirnya tidak berujung juara.

”Di podium, banyak orang melihat sosok atlet. Beberapa melihat mereka sebagai sosok mesin yang berlari untuk menjadi nomor satu. Di pikiran saya, mereka adalah seorang manusia yang datang untuk melawan tantangan sosial ini,” kata Ouma yang merupakan pelatih juara dunia nomor lari  1.500 meter, Timothy Cheruiyot.

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

Tidak Ada Berita yang Relevan