Ulama Al-Jarh Wa Tadil, Penjaga dan Pembela Agama

IN
Oleh inilahcom
Kamis 19 November 2015
share
(Foto: Ilustrasi)

Oleh : Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari

INILAHCOM, Jakarta -- Abu Ghalib berkata: "Ketika didatangkan kepala orang-orang Azariqah1 dan dipancangkan di atas tangga Damaskus, datanglah Abu Umamah Al-Bahili. Ketika melihat mereka, air matanya pun mengalir dari kedua pelupuknya.

"Anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka!" kata Abu Umamah. "Mereka ini sejelek-jelek orang yang dibunuh di bawah naungan langit ini. Dan sebaik-baik orang yang terbunuh di bawah naungan langit ini adalah orang-orang yang mereka bunuh," lanjutnya.

Kata Abu Ghalib: "Ada apa denganmu hingga mengalir air matamu?""Karena kasihan terhadap mereka, dulunya mereka itu termasuk ahlul Islam," jawab Abu Umamah. Abu Ghalib berkata: Kami bertanya: "Apakah engkau mengatakan mereka itu anjing-anjing neraka dengan pendapatmu sendiri atau perkataan yang engkau dengar dari Rasulullah?"

"Kalau aku mengatakan dengan pendapatku sendiri, maka sungguh betapa beraninya aku. Tapi perkataan seperti itu aku dengar dari Rasulullah tidak hanya sekali, bahkan tidak hanya dua tiga kali," jawab Abu Umamah.

Hadits di atas diriwayatkan Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya (5/253). Guru kami Asy-Syaikh Muqbil setelah membawakan hadits ini, beliau berkata: "Hadits ini jayyid, Abu Ghalib adalah rawi yang hasanul hadits." (Al Jamiush Shahih, 1/201)

Dalam riwayat At-Tirmidzi (Sunan At-Tirmidzi no. 4086), Abu Ghalib berkata: "Abu Umamah melihat kepala-kepala yang dipancangkan di atas tangga (masjid) Damaskus, ia pun berkata:"Anjing-anjing neraka. Mereka ini sejelek-jelek orang yang terbunuh di bawah naungan langit ini. Dan sebaik-baik orang yang terbunuh adalah orang yang mereka bunuh."

Kemudian Abu Umamah membaca ayat:"Pada hari yang di waktu itu ada wajah-wajah yang putih berseri dan ada pula wajah yang hitam muram". Sampai akhir ayat.

Abu Ghalib berkata kepada Abu Umamah: "Apakah engkau mendengar perkataan seperti itu dari Rasulullah ?"

"Kalau aku tidak mendengarnya dari beliau, tidak hanya sekali, dua kali, atau tiga, empat kali Abu Umamah sampai menyebut tujuh kali niscaya aku tidak akan menyampaikannya kepada kalian."Hadits ini dihasankan Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jamius Shahih,1/201.

Ulama Al-Jarh wat Tadil Penjaga Agama Allah

Al-Imam Ahmad bin Hambal berkata: "Segala puji bagi Allah yang menjadikan adanya ahlul ilmi pada setiap zaman fatrah2 dari para rasul, yang mereka ini mengajak orang yang sesat kepada petunjuk dan bersabar atas gangguan yang mereka terima dari manusia. Mereka menghidupkan kitabullah yang telah ditinggalkan manusia dan menjadikan orang yang buta (akan kebenaran) dapat melihat dengan cahaya Allah. Berapa banyak korban yang dibunuh oleh Iblis telah mereka hidupkan dan berapa banyak orang yang sesat lagi tidak mengerti jalan telah mereka bimbing. Alangkah bagusnya apa yang mereka perbuat terhadap manusia namun alangkah jeleknya apa yang diperbuat manusia terhadap mereka.

Mereka adalah orang-orang yang menolak penyimpangan orang-orang yang berbuat ghuluw terhadap kitabullah, demikian pula keyakinan orang-orang yang batil dan takwilnya orang-orang jahil, di mana orang-orang sesat ini telah mengikat bendera bidah dan melepaskan tali kekang fitnah. Orang-orang yang sesat ini berbeda-beda dalam memahami Kitabullah, dan menyelisihi Kitabullah akan tetapi mereka bersepakat meninggalkan Kitabullah.

Mereka ini berucap terhadap Allah, tentang Allah dan tentang Kitabullah tanpa ilmu. Mereka berbicara dengan pembicaraan yang samar/ rancu dan bermaksud menipu orang-orang yang bodoh dari kalangan manusia dengan apa yang mereka samarkan. Kepada Allah semata kita berlindung dari fitnahnya orang-orang yang menyesatkan." (Ar-Raddu ala Az-Zanadiqah wal Jahmiyyah, hal. 1)

Berkaitan dengan ucapan Al-Imam Ahmad di atas, maka kita mengetahui bahwa ulama al-jarh wat tadil termasuk sisa ahlul ilmi yang Allah tempatkan di umat ini untuk menjaga dan membela agamanya (Aimmatul Jarhi wat Tadil Hum Hummatud Din min Kaidil Mulhidin, wa Dhalalil Mubtadiin wa Ifkil Kadzdzabin, Asy-Syaikh Rabi Al-Madkhali hafizhahullah, hal. 3)

Dengan keberadaan ulama ini, terbongkarlah kedok dan borok para penyesat umat, sehingga tidak tersisa satu tempat persembunyian pun bagi mereka melainkan telah diketahui dan telah diporak-porandakan. Sehingga umat tidak lagi mudah ditipu oleh mereka bahkan mereka dapat tertangkap basah oleh umat, dilucuti, dan dibuka aib yang mereka miliki.

Demikianlah gambaran ahlul ahwa (para pengekor hawa nafsu) dan ahlul bidah yang telah dikritik pedas dan dibabat habis oleh ulama al-jarh wat tadil, sehingga tidak heran bila ahlul ahwa dan bidah ini sangat antipati dan benci sampai ke ulu hati terhadap ulama al-jarh wat tadil yang ada di tengah umat ini. Berbagai tuduhan, ucapan kotor dan keji mereka lemparkan pada sang alim untuk menjatuhkan kehormatannya dan menjauhkan umat darinya.

Namun pada akhirnya mereka harus gigit jari melihat hasil perjuangan mereka. Karena Allahlah yang memberikan penjagaan terhadap agama-Nya. Dan Dia terus melahirkan dan memunculkan di tengah-tengah umat ini ulama yang membela agamanya, Dia terus menampilkan dan memenangkan orang-orang yang mengawal agamanya, karena memang Dialah yang menghendaki agar Ath-Thaifah Al-Manshurah (kelompok yang ditolong) ini tetap ada sampai saat berhembusnya angin sewangi misik yang tidak meninggalkan satu jiwa mukmin pun melainkan akan meninggal ketika menciumnya (hal ini terjadi menjelang datangnya hari kiamat3), sebagaimana disabdakan oleh Rasul yang mulia:

"Akan ada terus menerus sekelompok dari umatku dalam keadaan dzahir/ menang di atas al haq, tidak memudharatkan terhadap mereka orang yang menyelisihi mereka. Demikian keadaan mereka sampai datangnya perkara Allah." (HR. Al-Bukhari no. 7311 dan Muslim no. 1920)

Dalam riwayat Al-Bukhari (Shahih Al-Bukhari no. 71) disebutkan dengan lafadz:"Umat ini terus menerus akan menegakkan agama Allah4, tidak memudharatkan mereka orang yang menyelisihi mereka hingga datang perkara Allah."

Ath-Thaifah Al-Manshurah, termasuk di dalamnya ulama al-jarh wat tadil tentunya sebagai orang yang masuk paling pertama karena mereka orang yang terdepan di dalam ilmu dan penjagaan/ pembelaan terhadap agama ini.

Al-Imam Al-Bukhari mengatakan bahwa Ath-Thaifah Al-Manshurah adalah ahlul ilmi. Sehingga beliau membuat bab tersendiri dalam masalah ini dalam kitab Shahih-nya, dengan judul bab Qaulin Nabi : "La Tazalu Thaifatun min Ummati Zhahirina alal Haq wa Hum Ahlul Ilmi" (bab Sabda Nabi : "Akan terus menerus ada sekelompok dari umatku dalam keadaan zahir/ menang di atas al-haq" mereka adalah ahlul ilmi).

Al-Imam Ahmad bin Hambal berkata: "Kalau mereka itu bukan ahlul hadits maka aku tidak tahu siapa lagi mereka5". Al-Qadhi Iyyadh berkata: "Yang dimaksud Al-Imam Ahmad adalah Ahlus Sunnah Wal Jamaah dan mereka yang meyakini madzhab ahlul hadits." (Syarah Shahih Muslim, 13/66-67, Fathul Bari 1/206, 13/306).

Al-Hakim berkata: "Alangkah bagusnya penafsiran Al-Imam Ahmad bin Hambal terhadap kabar ini bahwa Ath-Thaifah Al-Manshurah yang selalu diberikan pertolongan oleh Allah sampai hari kiamat adalah ashabul hadits (ahlul hadits). Karena siapa lagi manusia yang paling berhak untuk dimasukkan ke dalam thaifah ini terkecuali suatu kaum yang menempuh jalannya orang-orang shalih dan mengikuti atsarnya salaf dari kalangan orang-orang terdahulu, mematahkan dan menghancurkan ahlul bidah serta orang-orang yang menyelisihi sunnah-sunnah Rasulullah." (Marifah Ulumil Hadits, hal. 2) Al-Hakim juga berkata memuji ahlul hadits: "Akal-akal mereka digenangi kelezatan As Sunnah, jantung-jantung mereka yang dipenuhi keridhaan terhadap ahwal (segala keadaan) mereka makmurkan, mempelajari sunnah-sunnah adalah kebahagiaan mereka, majelis ilmu adalah kegembiraan mereka. Ahlus sunnah seluruhnya adalah saudara-saudara mereka sementara ahlul ilhad (orang yang menyimpang) dan ahlul bid`ah seluruhnya adalah musuh mereka." (Marifah Ulumil Hadits, hal. 3)

Guru kami Allamatul Muhaddits Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadii berkata: "Hadits ini walaupun tidak secara lafadz menunjukkan terhadap perkataan Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Ahmad, namun sesungguhnya Ahlul Hadits-lah yang seharusnya dimasukkan paling awal dalam thaifah ini karena kekokohan mereka diatas Al-Haq, pengabdian mereka dan pembelaan mereka terhadap Islam. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan kebaikan yang banyak atas apa yang mereka sumbangkan terhadap Islam dan muslimin." (Al-Jamius Shahih, 1/11)

Mereka pula yang dikatakan Al-Firqatun Najiyah (kelompok yang selamat) sebagaimana tersebut dalam sabda Rasulullah tentang perpecahan umat ini menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu, ketika ditanyakan kepada beliau:"Siapa mereka wahai Rasulullah?" "Mereka adalah al-jamaah," jawab beliau. (HR. Ahmad 4/102, Abu Dawud no. 3981, Ibnu Abi Ashim no. 63, dan selainnya. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Zhilalul Jannah fi Takhrij As Sunnah, hal. 49)

Sejak terjadinya fitnah dan bercabangnya kelompok hawa nafsu di tengah umat hingga mereka mencapai jumlah yang disebutkan6, thaifah ini terus menerus menegakkan perkara Allah, mereka menyeru kepada al haq, menyebarkan dan menjaga ilmu-ilmu nubuwwah, membelanya dan menolak tipu daya orang-orang yang melakukan tipu daya, menolak kepercayaan orang-orang yang batil dan tahrifnya orang-orang bodoh. Tidak menggoyahkan mereka sama sekali gangguan, tipu daya orang-orang yang membuat makar, dan rencana jahat orang-orang yang berkuasa. Kesempitan, gangguan dan ujian yang mereka terima tidak akan menambah penderitaan bagi mereka terkecuali membuat mereka semakin kokoh di atas al haq dan akan membungkam kebatilan, sebagaimana ini terjadi pada masa Al-Imam Ahmad, Abdul Ghani Al-Maqdisi dan pada masa Ibnu Taimiyyah. (Manhaj Ahlis Sunnah wal Jamaah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawaif, hal. 18)

Sikap tegas terhadap ahlul bidah ini merupakan sikap yang diwarisi dari As-Salafush Shalih. Dan As-Salafush Shalih menganggap sikap keras terhadap ahlul ahwa dan bidah merupakan suatu kelebihan/ keutamaan dan merupakan sikap terpuji, di mana seseorang akan dipuji karenanya. Berapa banyak para imam Ahlus Sunnah, ketika disebutkan biografinya, ia dipuji karena sikap kerasnya terhadap ahlul ahwa dan bidah dan betapa kokohnya dia dalam memegang As Sunnah. Tidak ada yang mendorong mereka untuk bersikap yang demikian kecuali karena kecemburuan terhadap agama Allah ini dan dalam rangkaian nasehat kepada Allah, Rasul-Nya, dan para pemimpin kaum muslimin serta orang awamnya. Sebagaimana Ibnul Jauzi berkata tentang Al-Imam Ahmad : "Al-Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hambal, karena sangat kuatnya beliau memegangi As Sunnah dan melarang/ mencegah dari kebidahan, beliau tidak segan membicarakan tentang sekelompok orang-orang yang baik apabila tampak di hadapannya bahwa mereka menyelisihi As Sunnah. Ucapan beliau yang demikian itu disampaikan kepada mereka tentunya dalam rangka nasehat untuk agama Allah ini." (Ijmaul Ulama alal Hajri wat Tahdzir min Ahlil Ahwa, hal. 42)

Ahlul Hadits adalah Ulama Al-Jarh wat Tadil

Ulama al-jarh wat tadil adalah ulama ahlul hadits yang mengilmui dan memahami hadits, mengagungkan, dan menjaganya. Mereka adalah orang yang mengikuti para shahabat dan tabiin dalam berpegang teguh dengan Al Quran dan As Sunnah. Mereka menggigitnya dengan gigi geraham mereka. Mereka kedepankan keduanya di atas setiap ucapan dan petunjuk, sama saja apakah hal itu dalam masalah aqidah, ibadah, muamalah, akhlak ataupun dalam masalah politik dan kemasyarakatan. Mereka sangat kokoh di dalam pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya sesuai dengan apa yang diturunkan Allah dan diwahyukan-Nya kepada hamba-Nya dan Rasul-Nya Muhammad . Mereka menegakkan dakwah dengan segala kesungguhan, kejujuran dan ketegaran. Merekalah pembawa ilmu nubuwwah. Dengan ilmu tersebut, mereka sangat menentang tahrif orang-orang yang ghuluw, kepercayaan orang-orang yang batil dan takwil orang-orang jahil. Merekalah orang-orang yang selalu berdiri mengintai setiap kelompok/ golongan yang menentang manhaj islami seperti Jahmiyyah, Mutazilah, Khawarij, Rawafidh, Murji`ah, Qadariyyah dan setiap yang menyimpang dari manhaj Allah dan mengikuti hawa nafsunya pada setiap zaman dan tempat. Celaan orang-orang mencerca, sama sekali tidak menyurutkan langkah mereka dalam membela agama Allah U." (Aimmatul Jarhi wat Tadil, hal. 4)

Merekalah yang meletakkan firman Allah ini di hadapan mata mereka:"Berpegangteguhlah kalian semuanya dengan tali Allah dan janganlah kalian berpecah-belah." (Ali Imran: 103)

Dan firman-Nya:"Maka hendaklah berhati-hati orang-orang yang menyelisihi perkara/ perintah Rasulullah untuk ditimpakan kepada mereka fitnah atau ditimpakan pada mereka azab yang pedih." (An-Nur: 63)

Sehingga mereka adalah orang yang paling jauh dari menyelisihi perintah Rasulullah dan paling jauh dari fitnah. Merekalah yang menjadikan firman Allah sebagai dustur mereka: "Maka sekali-kali tidak demi Rabbmu, mereka tidaklah beriman sampai mereka menjadikanmu sebagai hakim dalam pertikaian yang terjadi di antara mereka, kemudian mereka tidak dapatkan di dalam jiwa mereka rasa berat terhadap apa yang engkau putuskan dan mereka tunduk dengan setunduk-tunduknya." (An-Nisa`: 65)

Mereka memuliakan nash-nash Al Qur`an dan As Sunnah dengan sebenar-benar pemuliaan, mengagung-agungkannya dengan sebesar-besar pengagungan dan mengedepankannya di atas ucapan manusia seluruhnya. Mereka berhukum kepada nash-nash tersebut dalam segala sesuatu dengan rasa ridha yang sempurna dan dada yang lapang, tanpa rasa sempit dan berat. Mereka tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya dengan ketundukan yang sempurna dalam aqidah mereka, ibadah dan muamalah mereka. Kepada merekalah pantas ditujukan firman Allah:"Hanyalah ucapan kaum mukminin bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar diputuskan perkara di antara mereka, mereka pun menyatakan kami mendengar dan kami taat , mereka itulah orang-orang yang beruntung." (An-Nur: 51) [Aimmatul Jarhi wat Tadil, hal. 5]

Di antara nama ulama ahlul hadits yang bisa kita sebutkan di sini, di antaranya:

- Semua shahabat Nabi, dengan pimpinan mereka Al-Khulafa`ur Rasyidin

Tokoh tabiin (murid para shahabat): Said ibnul Musayyab, Urwah bin Az-Zubair, Ali bin Al-Husain Zainul Abidin, Muhammad ibnul Hanafiyyah, Ubaidullah bin Abdillah bin Utbah bin Masud, Salim bin Abdillah bin Umar, Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar Ash-Shiddiq, Al-Hasan Al-Bashri, Muhammad bin Sirin, Umar bin Abdil Aziz, dan Muhammad bin Syihab Az-Zuhri.

Atbaut tabiin (murid para tabiin), paling terdepan dari mereka adalah Malik, Al-Auzai, Sufyan bin Said Ats-Tsauri, Sufyan bin Uyainah, Ismail bin Ulayyah dan Al-Laits bin Saad.

Murid-murid atbaut tabiin, paling utama adalah Abdullah ibnul Mubarak, Waki ibnul Jarrah, Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafii, Abdurrahman bin Mahdi, Yahya bin Said Al-Qaththan, Affan bin Muslim.

Mereka yang berguru kepada murid-murid atbaut tabiin, yang terdepan adalah Al-Imam Ahmad bin Hambal, Yahya bin Main dan Ali ibnul Madini.

Murid-murid mereka yang masuk dalam kelompok di atas, di antaranya Al-Bukhari, Muslim, Abu Hatim, Abu Zurah, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasai.

Generasi berikutnya yang berjalan seperti jalan mereka, di antaranya Ibnu Jarir, Ibnu Khuzaimah, Ad-Daraquthni, Al-Khathib Al-Baghdadi, Ibnu Abdil Bar An-Namri, Abdul Ghani Al-Maqdisi, Ibnu Qudamah, Ibnu Shalah, Ibnu Taimiyyah, Al-Mizzi, Adz-Dzahabi, Ibnu Katsir7 dan para imam setelah mereka seperti Ash-Shanani, Asy-Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab serta kalangan imam dari anak-anak dan cucunya.

Mereka memiliki banyak sekali karya tulis dengan jumlah yang tak terhitung yang berisi bantahan terhadap ahlul bidah wa ahwa dan kitab-kitab al-jarh wat tadil serta kitab al-jarh secara khusus yang penuh dengan keterangan tentang keadaan ahlul bidah seperti kitab Ar-Rad alal Jahmiyyah karya Al-Imam Ahmad, Ar-Rad alal Jahmiyyah dan Ar-Rad ala Bisyr Al-Marisi karya Utsman bin Said Ad-Darimi, kitab-kitab Al-Imam Ahmad dalam masalah rijal, kitab-kitab Ibnu Main, kitab-kitab Al-Bukhari, Al-Al-jarh wat tadil karya Ibnu Abi Hatim, kitab-kitab An-Nasa`i dan Ad-Daraquthni, Al-Kamil karya Ibnu Adi, kitab Al-Majruhin karya Ibnu Hibban, Marifatur Rijal karya Jauzajani, Muqaddimah Al-Madkhal karya Al-Hakim, Muqaddimah Al-Mustakhraj karya Abu Nuaim dan selainnya dari kitab-kitab rijal sebagaimana mereka memiliki banyak karya tulis ilmiah dalam perkara aqidah/ manhaj seperti kitab As-Sunnah karya Ibnu Abi Ashim, Asy-Syariah karya Al-Ajurri, Al-Iman karya Ibnu Mandah, At-Tauhid karya Ibnu Khuzaimah, Syarah Ushulus Sunnah karya Al-Lalikai, serta kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya dan lain-lainnya, yang tidak bisa kami sebutkan semuanya di sini.

Kritikan Ulama Al-Jarh wa At-Tadil Penjagaan terhadap Agama Allah

Apa yang dilakukan oleh ulama al-jarh wat tadil berupa kritikan dan bantahan kepada ahlul bidah dan ahwa bukanlah perkara yang mereka ada-adakan atau mereka buat-buat sendiri tanpa pendahulu yang shalih. Tidak pula menunjukkan kotor dan jahatnya hati, maksud dan lisan mereka, sebagaimana hal ini banyak disebarkan dan diserukan oleh duatul makirin wal ahdzabul hizbiyyin (para penyeru dan pembuat makar serta para dai hizbiyyun) yang sangat khawatir dan takut dengan kritikan karena akan mematikan mereka dan membinasakan langkah dan keinginan mereka yang busuk. Akan tetapi apa yang mereka serukan sama sekali tidak demikian, wallahi.

Bahkan jauh sebelum ulama al-jarh wat tadil, hal ini telah dilakukan oleh sebaik-baik manusia setelah para nabi dan rasul, yaitu para shahabat Rasulullah r ash-shadiqinash shalihin, dan di antara mereka adalah Abu Umamah Al-Bahili sebagaimana ditunjukkan dalam hadits dan riwayat di atas. Ketika Abu Umamah melihat kepala orang-orang yang terbunuh dari kelompok ahlul bidah yang bernama Khawarij yang dipancangkan di atas tangga masjid Damaskus, ia pun mengatakan: "Anjing-anjing neraka!" (Tuhfatul Ahwadzi, 8/279). Ketika melemparkan gelaran jelek kepada pemilik kepala-kepala yang telah terpenggal tersebut, beliau tidak mencukupkan sekali, bahkan beliau mengulangnya sampai tiga kali.

Kemudian, apabila ini adalah perkara yang mereka ada-adakan atau mereka buat-buat sendiri tanpa pendahulu yang shalih dan menunjukkan kotor dan jahatnya hati, maksud dan lisan mereka, apakah boleh dan diperkenankan bagi kita untuk mengatakan shahabat ini mulutnya kotor, jahat hati, maksud, dan lisannya? Naudzubillah min dzalik, semoga Allah menjaga hati, lisan dan perbuatan kita dari mencerca shahabat Rasulullah !

Apa yang dilakukan oleh Abu Umamah Al-Bahili ini telah dicontohkan oleh Rasulullah murabbina wa muallimuna. Beliaulah yang menggelari Khawarij dengan anjing-anjing neraka, sebagaimana dinyatakan oleh Abu Umamah: "Perkataan seperti itu aku dengar dari Rasulullah tidak hanya sekali, bahkan tidak hanya dua, tiga kali!" Dalam riwayat At-Tirmidzi disebutkan sampai tujuh kali.

"Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang-orang mengharapkan pertemuan dengan Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah." (Al-Ahzab: 21)

Bila demikian adanya, berarti apa yang dilakukan oleh ulama al-jarh wat tadil ini telah dicontohkan oleh sebaik-baik hamba Allah yaitu Rasulullah, beliau menjarh, mengkritik, dan mentahdzir orang yang pantas mendapatkannya.

Demikian pula halnya dengan anak paman Rasulullah, orang yang didoakan oleh Rasulullah dengan kefakihan di dalam agama Allah dan ahli di dalam menafsirkan Al Qur`an, imam para mufassirin, Ibnu Abbas ketika menjarh kelompok bidah yang bernama Qadariyyah.

Atha berkata: "Aku mendatangi Ibnu Abbas yang sedang berada di sumur Zam-zam dalam keadaan bagian bawah pakaiannya basah terkena air.

"Telah muncul orang-orang yang membicarakan (yakni mengingkari -ed) takdir (Qadariyah, pen.)," kataku kepada Ibnu Abbas.

"Apakah mereka benar telah melakukannya?" tanya Ibnu Abbas.

"Iya," jawabku.

"Demi Allah, tidaklah turun ayat:"Rasakanlah oleh kalian azab neraka Saqar. Sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan dengan ketetapan takdir." (Al-Qamar: 48-49) melainkan ditujukan kepada mereka. Mereka itu adalah sejelek-jelek umat ini, jangan kalian jenguk orang yang sakit dari kalangan mereka, jangan kalian shalati orang yang mati dari kalangan mereka. Bila aku melihat salah seorang dari mereka, niscaya aku akan mencungkil kedua matanya dengan dua jariku ini." (Syarhus Sunnah, Al-Lalikai 4/712, As-Sunanul Kubra, Al-Baihaqi 10/205, sebagaimana dinukil dalam Ijmaul Ulama alal Hajri wat Tahdzir min Ahlil Ahwa`, hal. 23)

Asy-Syaikh Rabi hafizhahullah berkata: "Membantah ahlul bidah, men-jarh mereka dan memperingatkan (tahdzir) manusia dari mereka merupakan perkara pokok dalam Islam, karena hal ini termasuk bab amar maruf nahi mungkar yang paling penting dan juga termasuk bab nasihat yang terpenting kepada Islam dan muslimin. Orang yang pertama kali men-jarh dan men-tahdzir mereka yang menyimpang adalah Rasulullah, di mana beliau mentahdzir Khawarij dalam beberapa hadits dan menyifati mereka sebagai sejelek-sejelek makhluk, beliau mencela Dzul Khuwaishirah (nenek moyangnya Khawarij) dan dalil-dalil yang menunjukkan tentang perkara ini banyak sekali." (Aimmatul Hadits wa Man Sara ala Nahjihim Hum Alamun Nasi bi Ahlil Ahwa wal Bida wa Masyruiyyatul Jarh wat Tadil Minal Akfa Lam Tanqathi, hal. 2)

Lebih dari itu, mencela dan memberi gelaran buruk kepada orang yang menyimpang dari kebenaran telah pula dinyatakan oleh Dzat yang Maha Tinggi dan Maha Suci keberadaan-Nya dari segala makhluk-Nya, seperti dalam ayat-ayat berikut ini: "Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab). Kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu ia diikuti oleh syaitan sampai dia tergoda. Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menuruti hawa nafsunya yang rendah, maka permisalan dirinya seperti anjing, bila engkau menghalaunya dijulurkannya lidahnya dan bila engkau membiarkannya, anjing itu tetap menjulurkan lidahnya. Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami." (Al-Araf: 175-176)

"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami. Dan mereka memiliki mata namun tidak dipergunakannya untuk melihat. Dan mereka punya telinga tetapi tidak diperguna-kannya untuk mendengar. Mereka itu seperti binatang ternak bahkan mereka lebih bodoh lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (Al-Araf: 179)

"Apakah engkau (Muhammad) mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak bahkan mereka lebih sesat jalannya daripada binatang ternak itu." (Al-Furqan: 44)

Sehingga kita katakan di sini, orang-orang yang mengingkari perkara ini adalah orang yang tidak faham sama sekali apa yang dia baca di dalam Al Quran yang dia baca setiap harinya dan di dalam hadits-hadits yang shahih atau memang dia tidak pernah membacanya sehingga dengan kejahilannya menjadikannya jahil murakkab? Wallahul mustaan.

Para imam al-jarh wat tadil tidak hanya memberikan jarh kepada ahlul bidah wa ahwa` namun mereka juga menjaga agama ini dengan menjaga hadits Rasulullah r dari pemalsuan dan kedustaan, membicarakan perawi-perawi hadits dan menjelaskan keadaan mereka, sehingga bila perawi itu lemah terlebih seorang pendusta, maka mereka membicarakannya, mengkritiknya dan menolak haditsnya. Namun apabila dipelajari dan diteliti, para perawi keadaanya tidak demikian, bahkan merupakan rawi yang pantas diterima periwayatannya, maka diterima haditsnya dan periwayatannya. Di antara kritikan mereka:

1. Yahya bin Main berkata tentang seorang perawi hadits yang bernama Talid bin Sulaiman Al-Muharibi: "Dia tidak teranggap, dia seorang pendusta yang mencerca Utsman . Dan setiap orang yang mencela Utsman atau Thalhah atau salah seorang dari shahabat Nabi, maka dia dajjal, tidak ditulis haditsnya, dan dia akan memperoleh laknat Allah, para malaikat dan manusia." (At-Tarikh, 2670)

Al-Hakim berkata: "Madzhabnya jelek, mungkarul hadits." (Al-Madkhal, 1/174)

2. Ishaq bin Rahawaih berkata: "Negeri Khurasan mengeluarkan tiga orang yang tidak ada tandingannya dalam kebidahan dan kedustaan yaitu Jahm bin Shafwan, Umar bin Shabh, dan Muqatil bin Sulaiman."

3. Ahmad ibnu Hanbal berkata: "Habib bin Abi Hilal matruk (ditinggalkan)." (Bahrud Dam hal. 105). Demikian juga Al-Imam Ahmad berkata tentang Al-Hasan ibnu Dzakwan: "Hadits-haditsnya batil." (Bahrud Dam hal. 114)

4. Al-Imam Al-Bukhari : "Dawud ibnu Al-Muhabbir mungkarul hadits, keberadaannya seakan-akan tidak teranggap/ ternilai." (Adh-Dhuafa` Ash-Shagir hal. 18. Al-Hafidz berkata tentangnya: "Matruk, dan kebanyakan kitabul aql yang dia tulis hadits-haditsnya palsu." (At-Taqrib hal.140)

5. Al-Imam An-Nasai mengatakan tentang Asyats ibnu Said As-Samman: "Tidak punya nilai." (Adh-Dhuafa` wal Matrukin hal.56). Wallahu taala alam bish-shawab.[ ]

Sumber : asysyariah

1 Satu kelompok dari Khawarij yang dinisbatkan kepada Nafi bin Al-Azraq, salah seorang tokoh Khawarij.

2 Zaman terputusnya wahyu dan tidak adanya rasul yang diutus di tengah umat

3 Kiamat tidak akan ditimpakan kecuali pada sejelek-jelek makhluk. Adapun orang yang memiliki iman semuanya telah meninggal ketika mencium angin sewangi misik yang berhembus menjelang datangnya hari kiamat (Fathul Bari, 1/206).

Rasulullah bersabda:"Termasuk sejelek-jelek manusia adalah orang yang hari kiamat menemui mereka dalam keadaan mereka masih hidup." (HR. Al-Bukhari no. 7067)

Dalam riwayat Muslim (no. 2949) disebutkan dengan lafadz:"Tidak akan datang hari kiamat kecuali (menimpa) atas sejelek-sejelek manusia."4 Sebagian umat ini akan tetap di atas al-haq selama-lamanya (Fathul Bari, 1/206)

5 Asy-Syaikh Rabi bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah berkata: "Imam-imam Islam seperti Ibnul Mubarak, Yazid bin Harun, Ibnul Madini, Ahmad bin Hambal, Al-Bukhari dan para imam yang lain di antaranya Al-Khathib Al-Baghdadi, Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Rajab telah menafsirkan Al-Firqatun Najiyah dan Ath-Thaifah Al-Manshurah ini adalah ahlul hadits dan orang yang bermadzhab ahlul hadits." (Manhaj Ahlis Sunnah wal Jamaah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawa`if, hal. 18)

6 Rasulullah r bersabda:"Yahudi akan terpecah menjadi 71 atau 72 golongan dan umatku akan berpecah menjadi 73 golongan." (HR. Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah, dihasankan sanadnya oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah fi Takhrij As Sunnah, hal. 50)

7 Dan kami tambahkan ulama ahlul hadits dan para imam al-jarh wat tadil pada zaman ini baik itu yang masih hidup mudah-mudahan Allah mengokohkan mereka dan diberikan umur yang panjang di dalam pembelaan agama-Nya ataupun yang telah Allah panggil disisi-Nya, semoga Allah merahmati mereka semuanya dengan rahmat-Nya yang lapang sesuai yang kami ketahui dan penyebutan kami disini bukan sebagai pembatasan, di antaranya:

Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdurahman Al-Muallimi Al-Yamani, Asy-Syaikh Al-Muhaddits Ahmad Syakir, Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh, Al-Allamatusy Syaikh Abdullah Ibnu Humaid, Asy-Syaikh Al-Muhaddits wal Mufassir Muhammad Amin Asy-Syinqithi, Asy-Syaikh Al-Allamatu Abdurrahman As-Sadi, Syaikhul Islam Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Asy-Syaikh Imamul Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Asy-Syaikh Al-Mujahid As-Salafi Hamud Tuwaijiri, Allamatud Dunya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Al-Allamatusy Syaikh Muhammad Aman Al-Jami, Guru kami Al-Muhaddits Imam Ahlis Sunnah fil Yaman Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadii, Al-Allamah Shahibul Manhaj Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, Asy-Syaikh Al-Muhadditsul Faqih Ahmad bin Yahya An-Najmi, Al-Allamah Asy-Syaikh Al-Mujahid Zaid bin Muhammad Al-Madkhali, Imam Al-Jarh wat Tadil Syaikhul Muhaddits Rabi Ibnu Hadi Al-Madkhali, Al-Allamah Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-Abbad, Mufti Mamlakah As-Suudiyah Allamatus Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Alusy Syaikh, Al-Maali Al-Allamah Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh, Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad bin Hadi Al-Madkhali, Shahibul Manhajis salim Al-Allamah Asy-Syaikh Ubaid Al-Jabiri, dan ulama ahlil hadits lainnya.

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA