Bila Perusahaan atau Majikan Terlambat Bayar Gaji

UA
Oleh Ustadz Afifuddin Rohaly MM
Selasa 23 Juli 2019
share
(Foto: ilustrasi)

DARI Abu Hurairah radliyallahu anhu, Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda, "Tiga jenis (manusia) yang Aku akan menjadi musuhnya kelak pada hari kiamat, yaitu: seseorang yang memberi dengan nama-Ku, kemudian ia berkhianat; seseorang yang menjual orang yang merdeka (bukan budak), kemudian memakan uangnya; dan seseorang yang mempekerjakan pekerja dan telah diselesaikan pekerjaannya, tetapi ia tidak memberikan upahnya,". (HR. Bukhari)

Menunda membayar upah pekerja adalah bentuk kedzaliman. Padahal pekerjaan yang menjadi kewajiban pekerja tersebut telah selesai. Apalagi bila penundaan pembayaran ini dibarengi dengan penambahan beban pekerjaan baru, baik lemburan atau pekerjaan bulan berikutnya. Semua ulama sepakat bahwa hal tersebut termasuk yang mendapat ancaman Rasulullah shalallahu alaihiwasallam sebagaimana hadits di atas.

Bila dibahas lebih dalam, jelas sudah seorang majikan, pengusaha, atau pemimpin yang menunda pembayaran gaji karyawannya adalah terhitung sebagai bentuk upaya menghalang-halangi seseorang dari menggunakan atau memanfaatkan haknya untuk kebaikan seperti menafkahi diri dan keluarganya. Jelas ini adalah perbuatan tercela lagi berdosa.

Maka dari itu, sebagai majikan, pengusaha atau pemimpin perusahaan, hendaknya seseorang menyampaikan amanah gaji dengan benar dan tepat waktu sebagaimana telah menjadi kesepakatan perusahaan dan karyawan di awal bekerja.

Lalu bagaimana bila penundaan pembayaran gaji dikarenakan kondisi keuangan perusahaan yang sedang tidak baik? Saudaraku, semoga Allah merahmatimu, hendaknya engkau sampaikan permohonan maaf (udzur) karena belum dapat menunaikan kewajibanmu yang menjadi hak mereka.

Semoga Allah memberi hidayah kepada kita dan memudahkan urusan kita. [*]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA