Mengapa Saya Mengaguminya?

KA
Oleh KH Ahmad Imam Mawardi
Senin 13 Januari 2020
share
(Foto: Ilustrasi)

BAGAIMANA saya tidak kagum kepada orang ini, orang yang rutin setiap subuh menyempatkan dirinya berinfaq di kotak amal masjid walau hanya Rp1.000. Bukan Rp1.000 yang saya kagumi, melainkan semangat bersedekahnya dengan fakta bahwa penghasilan hariannya hanyalah antara Rp20.000 sampai dengan Rp50.000. Mata pencahariannya adalah penyedia layanan antar seberang anak SD di jalan raya depan sekolah.

Teringatlah saya pada sabda Rasulullah bahwa 2 dirham bisa jadi mengalahkan 100 dirham, yakni pada saat 1 dirham itu adalah jumlah uang yang dishadaqahkan dari 10 dirham yang dimiliki, sementara 100 dirham itu adalah jumlah uang yang dikeluarkan dari 1 juta dirham yang dimiliki. Bukan besaran jumlah yang dinilai, melainkan jumlah persentase kelegaan hati dalam bershadahnya.

Teringat pula saya pada dawuh para bijak: "Jangan engkau terburu-buru kagum pada seorang dermawan sebelum engkau tahu darimana asal muasal hartanya dan untuk apa digunakannya." Ada banyak cara mendapatkan harta, ada yang halal dan ada yang haram. Ada banyak jalan penggunaan harta, bisa di jalan yang disukai Allah dan bisa di jalan yang dimurkai Allah. Itu semua tidaklah sama, bukan?

Bagaimana saya tidak kagum kepada hansip yang satu ini, seorang lelaki yang paling setia menjaga parkir di setiap pengajian, pun juga aktif bertugas bagian keamanan sebuah masjid. Jabatan hansipnya adalah karena dipilih dan didukung semua masyarakat, bukan karena menyogok dan cara tipu menipu suara demi jabatan. Jabatannya "cuma" hansip, namun dia telah menenangkan perasaan semua orang yang beribadah.

Teringatlah saya pada dawuh para bijak: "Jangan lihat jabatannya. Lihatlah bagaimana cara mendapatkannya dan untuk apa jabatannya itu. Ketika semua berdasarkan aturan dan untuk kemaslahatan umum, maka itulah sebaik-baiknya jabatan." Salam, AIM. [*]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA