Mencari Ketenangan Hati

KA
Oleh KH Ahmad Imam Mawardi
Selasa 21 Januari 2020
share
 

ADA orang yang datang kepada kakek meminta pendapat dan saran bagaimana cara menemukan ketenangan hati. Rupanya, ketenangan hati itu sulit dicari dan sukar ditemukan. Rupanya, ketenangan hati menjadi barang langka yang tak dijual di toko-toko semewah dan selengkap apapun. Kakek bertanya ringan: "Kemana kau cari ketenangan hati itu dan apa yang telah engkau lakukan?"

Orang itu menjawab bahwa dia telah menjauhi banyak manusia yang dianggapnya menjadi penyebab kegelisahan. Dia telah menutup pintu bahkan juga menutup jendela demi untuk menolak kehadiran orang-orang ke dalam rumahnya. Dia mengaku bahwa dia menyendiri dan berupaya menikmati kesendirian itu ketimbang gelisah karena bertemu dengan manusia-manusia yang menyesakkan dadanya. Kakek mendengarkan dengan seksama dan sesekali mengangguk serta memadang ke atap langgar tua peninggalan Mbah buyutnya itu.

Kakek berkata: "Percuma kau tutup pintu rumahmu demi menolak kehadiran orang-orang itu, sementara pintu pikiranmu terus terbuka lebar menjadi jalan masuk mereka. Percuma kau tutup jendela rumahmu, sementara bayang-bayang mereka kau biarkan berkeliaran bebas dalam pikiran dan anganmu." Kakek terdiam sejenak setelah ungkapkan kalimat sastra filosofis tingkat tinggi itu.

Kakek melanjutkan petuah: "Uzlah yang menenangkan itu bukanlah menyendiri sendirian seperti yang kau lakukan. Kesendirian seperti yang engkau lakukan adalah kesendirian yang semakin membuat menderita, kesepian dan mati segera. Kesendirian yang membahagiakan adalah membersihkan hati dan pikiranmu dari selain Allah, dan engkau hanya bersama Allah. Siapa yang selalu ingat kepada Allah dan bersama Allah, demi Allah, tak akan pernah tersiksa, sedih menderita, seperti yang engkau alami kini."

Orang itu mulai mengangguk dan istighfar, menyadari kekeliruannya. Lalu dia berbisik kepada kakek: "Amalan dan dzikir apa yang perlu diistiqamahkan demi menggapai ketenangan hati?" Kakek menjawab juga dengan berbisik: "Pahami dulu kata-kataku tadi, kapan-kapan datang lagi ke sini. Jangan lupa membawa ayam jantan atau burung bersuara merdu." Kakek tersenyum lalu masuk ke kamar pribadinya yang setengah unik itu. Salam, AIM. [*]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA