Dakwah yang Penuh Hikmah Ala Rasulullah

IN
Oleh inilahcom
Rabu 29 Januari 2020
share
(Ilustrasi)

HIKMAH adalah tepat dalam perkataan, perbuatan dan keyakinan, serta meletakkan sesuatu pada tempatnya yang sesuai. Allah Taala berfirman, "Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik." (QS. An-Nahl: 125)

Dua contoh hadits yang menunjukkan hikmah dalam berdakwah dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Dari Muawiyah bin Hakam As-Sulamiy radhiyallahu anhu, ia berkata, "Aku ketika itu shalat bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam lalu ada seseorang yang bersin dan ketika itu aku menjawab yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu). Lantas orang-orang memalingkan pandangan kepadaku. Aku berkata ketika itu, "Aduh, celakalah ibuku! Mengapa Anda semua memandangku seperti itu?" Mereka bahkan menepukkan tangan mereka pada paha mereka. Setelah itu barulah aku tahu bahwa mereka menyuruhku diam. Lalu aku diam. Tatkala Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selesai shalat, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu (ungkapan sumpah Arab), aku belum pernah bertemu seorang pendidik sebelum dan sesudahnya yang lebih baik pengajarannya daripada beliau. Demi Allah! Beliau tidak menghardikku, tidak memukul, dan tidak memakiku. Beliau bersabda saat itu, Sesungguhnya shalat ini, tidak pantas di dalamnya ada percakapan manusia, karena shalat itu hanyalah tasbih, takbir dan membaca Al-Quran." (HR. Muslim, no. 537)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, beliau berkata, "Ada seorang Arab Badui pernah memasuki masjid, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Lalu para sahabat menghardiknya. Namun Nabi shallallahu alaihi wa sallammelarang tindakan para sahabat tersebut. Tatkala orang tadi telah menyelesaikan hajatnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallamlantas memerintah para sahabat untuk mengambil air, kemudian bekas kencing itu pun disirami." (HR. Bukhari, no. 221 dan Muslim, no. 284)

Contoh hikmah dalam berdakwah:
- Meninggalkan perkara yang tidak membawa mudarat ketika ditinggalkan, seperti mengimami shalat dengan mengeraskan basmalah.
- Mengambil pendapat yang sesuai dengan masyarakat selama tidak bertentangan dengan dalil.
- Mengingatkan yang lain, tidak perlu menyebut nama langsung.
- Menghindari penampilan eksklusif.
- Pandai bersosialisasi dan menarik hati (taliful qulub).
- Kenek iwake, aja nganti buthek banyune.

[baca lanjutan]

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA