Orang Desa dan Kekuatan Hati Memegang Tradisi

KA
Oleh KH Ahmad Imam Mawardi
Selasa 04 Februari 2020
share
(Ilustrasi)

PADA masyarakat desa yang masih sangat sederhana dalam banyak hal, sertifikat tanah bukan menjadi sebuah kebutuhan. Sertifikat itu menjadi suatu kebutuhan saat kemungkinan terjadinya konflik akan kepemilikan mulai terbuka lebar.

Demikian penjelasan Henry Maine dalam sebuah tulisannya tentang sosiologi hukum. Dalam masyarakat tradisional sederhana, kata-kata nenek moyang tentang pembagian warisan tanah milik sudah sucuk kuat untuk tidak diperselisihkan.

Hadirnya "orang-orang baru" dan kepentingan-kepentingan baru dalam masyarakat tradisional membuat masalah baru. Orang-orang baru yang saya maksud bisa jadi adalah masyarakat yang baru paham cara mengakali sesuatu atau mempermasalahkan sesuatu dan bisa juga adalah orang-rang cerdas yang ketulusan tradisionalnya teracuni oleh obsesi ingin kaya dan menang sendiri. Kepentingan baru artinya adalah munculnya gaya hidup yang di atas kebiasaan kebutuhan masyarakat tradisional.

Tadi pagi datanglah orang desa yang dicurangi, dibohongi, atau ditipu oleh seorang sarjana yang penampilannya relijius sekali. Ada selisih uang Rp5 juta yang tak diakui oleh sang sarjana berpenampilan relijius ini. Lima juta adalah jumlah uang yang cukup banyak bagi orang desa petani seperti beliau. Mencangkul sawah sehari penuh hanya dibayar 65 ribu rupiah.

Yang membuat saya terharu dan menuliskan kisah ini adalah kalimatnya: "Saya memang tak memiliki bukti tertulis, namun banyak saksi yang tahu persis. Dia juga tetap tidak mengakui. Biarlah tak mengapa, itu urusan Allah, bukan urusan saya. Sumpah atas nama Allah jangan dipermainkan. Kakek nenek mengajarkan bahwa kebohongan atas nama Allah itu akan memakan korban yang penyumpah sendiri."

Lelaki desa ini hanyalah lulusan MI madrasah ibtidaiyah setingkat SD. Pendidikan tradisi keikhlasan dan kejujuran yang menjadi nilai bersama dalam masyarakat tetaplah dipegang kuat. Katanya, "lebih baik saya mati kelaparan ketimbang menahan dan mengambil hak orang lain." Luar biasa lelaki ini. Lalu beliau bertanya pandangan saya tentang kasus ini.

Saya katakan bahwa saya juga sering tertipu. Rata-rata yang menipu saya, dalam masalah keuangan, adalah orang-orang yang sepertinya terhormat dan beragama serta berpendidikan tinggi. Dia terkaget-kaget sambil bertanya lirih: "Pak Kiai juga ditipu?" Saya mengangguk pelan.

Jangan tertipu penampilan. Ada banyak orang yang tampilan luarnya beragama, namun hatinya kosong dari nilai-nilai agama. Bagi saya, ukuran terbaik keberagamaan seseorang adalah kemampuannya membahagiakan orang lain, membantu orang lain, menolong orang lain. Agama itu adalah akhlak, saudaraku, sahabatku. Salam, AIM. [*]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA