Muslimah, Pernahkah Keluar Angin dari Kemaluanmu?

IN
Oleh inilahcom
Minggu 16 Februari 2020
share
(Foto: Ilustrasi)

ULAMA berbeda pendapat mengenai hukum angin yang keluar dari qubul wanita, apakah membatalkan wudhu ataukah tidak ada 2 pendapat di sana:

Pertama, keluar angin dari qubul wanita bisa membatalkan wudhu sebagaimana yang keluar dari dubur. Ini merupakan pendapat Syafiiyah dan Hambali. An-Nawawi mengatakan,

"Yang keluar dari qubul atau dubur lelaki dan wanita, menyebabkan batal wudhu. Baik bentuknya fases, air kencing, angin, cacing, nanah, darah, kerikil atau benda apapun lainnya. Tidak dibedakan antara yang sering mengalaminya atau yang jarang-jarang. Dan tidak dibedakan antara yang keluar dari qubul wanita atau lelaki atau yang keluar melalui duburnya. Demikian yang ditegaskan as-Syafii rahimahullah dalam al-Umm dan disepakati oleh ulama madzhab Syafiiyah." (al-Majmu, 2/4).

Ibnu Qudamah mengatakan, "Sholeh meriwayatkan dari ayahnya Imam Ahmad tentang wanita yang mengeluarkan angin dari farjinya. Lalu beliau memberi kaidah, Semua yang keluar dari dua dalam membatalkan wudhu. Al-Qadhi Abu Yala al-Farra bahwa keluarnya angin dari kemaluan lelaki dan qubul wanita bisa membatalkan wudhu." (al-Mughni, 1/125).

Kedua, angin yang keluar dari qubul tidak membatalkan wudhu. Ini merupakan pendapat Hanafiyah dan Malikiyah. Dalam Hasyiyah Ibnu Abidin Hanafiyah dinyatkan,

"Tidak membatalkan wudhu yaitu keluarnya angin dari qubul dan kemaluan lelaki. Karena terjadi secara refleks, artinya bukan kentut yang sejatinya. Jikapun yang keluar adalah angin, itu tidak muncul dari tempat fases, sehingga tidak membatalkan wudhu." (Rad al-Muhtar, 1/136).

Selanjutnya, dalam as-Syarh al-Kabir Malikiyah dinyatakan, "Ketika benda umumnya keluar dari badan manusia itu keluar dari selain tempatnya, seperti keluar dari mulut atau air kencing keluar dari dubur, atau angin yang keluar qubul, termasuk qubul wanita, atau dari pori-pori, maka ini tidak membatalkan wudhu." (as-Syarh al-Kabir maa Hasyiyah ad-Dasuqi, 1/118).

Dari penjelasan di atas, kita bisa memahami titik perbedaan antara Syafiiyah dan Hambali, dengan Hanafiyah dan Malikiyah, dan menilai najis yang keluar dari tubuh manusia.

[1] Menurut Syafiiyah dan Hambali, yang menjadi acuan adalah tempat keluarnya (al-Makhraj). Selama benda itu keluar dari lubang kemaluan depan dan belakang, maka membatalkan wudhu. Terlepas dari apapun benda yang keluar. Bahkan termasuk darah, cacing atau kelerang yang keluar dari dubur atau qubul.

[2] Sementara menurut Hanafiyah dan Malikiyah, benda yang keluar dari tempat keluarnya (ma kharaja minal makhraj). Air kencing keluar dari jalan depan, dan fases keluar dari dubur. Namun jika keluarnya dari mulut atau darah keluar dari dubur, maka ini tidak membatalkan wudhu.

Ada satu hadis yang bisa kita jadikan sebagai acuan dalam memilih pendapat yang paling mendekati. Hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Tidak ada wudhu karena kentut kecuali jika ada suara atau ada angin." (HR. Ahmad 10093, Turmudzi 74 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Dalam hadis ini, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan keluar angin, tanpa menyebutkan apakah dari jalan kemaluan depan atau belakang. Karena itu, sebagai dalam rangka mengambil sikap lebih hati-hati, kita menilai bahwa pendapat yang lebih mendekati adalah pendapat Syafiiyah dan Hambali.

[baca lanjutan]

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA