Berguru kepada Imam Syafii

KA
Oleh KH Ahmad Imam Mawardi
Selasa 18 Februari 2020
share
(Foto: Ilustrasi)

IMAM Syafi'i yang madzhabnya sangat populer itu adalah sosok yang sangat alim, wara' dan penuh keteladanan. Kalimat-kalimatnya penuh nilai dan kaya manfaat. Sikap dan perilakunya layak digugu dan ditiru. Banyak kitab hagiografi tentang beliau.

Kali ini, ijinkan saya menyampaikan satu hal saja yang menurut saya agak jarang ditiru kita. Kisah ini adalah tentang akhlak beliau saat berguru kepada Imam Malik bin Anas. Beliau berkata: "Saat saya duduk bersama Imam Malik, saya membuka lembaran buku (kitab) dengan pelan dan lembut sekali. Saya takut suara kertas itu mengganggu Imam Malik." Subhanallaah, begitu santun dan halusnya sikap Imam Syafi'i kepada gurunya.

Bagaimanakah dengan santri jaman kini? Sesantun dan sehalus itukah sikapnya pada sang guru? Keberkahan ilmu sungguh erat hubungannya dengan perhargaan kita kepada guru-guru kita. Karena itulah maka di pesantren-pesantren wajib diajarkan kitab "Ta'limul Muta'allim." Kitab ini mengajarkan bagaimana etika baik seorang santri atau pembelajar.

Paman saya, Paman Hasib, pernah bercerita bahwa di pesantren tempat beliau nyantri, tak ada suara santri yang terdengar dari rumah tinggal Kyai. Semua bicara pelan-pelan setengah berbisik. Hanya suara burung yang terdengar, lainnya senyap. Mungkin banyak di antara kita yang menyanggah dengan berkata bahwa zaman telah berkembang dan berubah. Namun, apakah aturan etika juga berubah?

Bagi saya, walaupun ada penyesuaian dengan perkembangan zaman, satu hal yang pasti: "Jangan pernah menyakiti hati guru kita." Kata para ulama, senang hatinya guru kita kepada kita adalah salah satu sebab naiknya derajat kita di dunia dan akhirat. Naiknya derajat juga bermakna naiknya keberkahan dan kebahagiaan hidup. Maafkan kami wahai para guru kami atas segala kesalahan dan ketaksopanan kami. Salam, AIM. [*]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA