Hukum Bayar DP Barang yang Belum Dimiliki Penjual

IN
Oleh inilahcom
Jumat 28 Februari 2020
share
(Foto: Ilustrasi)

DIANTARA bentuk transaksi yang terlarang adalah jual beli utang dengan utang. Dasar larangan ini adalah konsensus (ijma) ulama bahwa transaksi al-Kali bil Kali jual beli utang dengan utang hukumnnya terlarang.

Imam as-Syafii dalam kitabnya al-Umm pernah membahas hukum menjual barang yang masih dalam tanggungan. Beliau mengatakan, "Kaum muslimin dilarang untuk jual beli utang dengan utang." (al-Umm, 4/30)

Pernyataan kesepakatan ulama: Ibnu Qudamah menukil keterangan ijma ulama dari Ibnul Mundzir, "Ibnul Mundzir mengatakan, Ulama sepakat bahwa jual beli utang dengan utang tidak boleh. Imam Ahmad mengatakan, "Ulama sepakat dalam masalah ini." (al-Mughni, 4/186). Ijma inilah yang menjadi landasan kita untuk menyatakan bahwa jual beli utang dengan utang hukumnya terlarang.

Pengertian Jual Beli Utang dengan Utang

Kata alKali secara bahasa artinya sesuatu yang tertunda (nasiah). Dari kata kala-a ~ yakla-u yang artinya tertunda. (an-Nihayah, Ibnul Atsir, 4/194). Dalam kitab al-Muwatha, terdapat penjelasan tentang jual beli al-Kali bil Kali.

"Jual beli al-Kali bil Kali adalah seseorang (si A) menjual barang miliknya yang masih terutang kepada pembeli (si B) dengan pembayaran yang masih terutang di tempat orang lain (si C)." (Muwatha Malik, 2/659)

Diantara menjual barang yang belum dimiliki dengan pembayaran yang tidak tunai. Karena yang terjadi adalah tukar menukar barang yang belum ada, dengan uang yang juga belum ada. Definisi ini dinyatakan an-Nawawi dalam al-Majmu, "Tidak boleh menjual utang dengan utang. Bentuknya ada pembeli mengatakan, "Tolong jual sehelai kain untukku tertunda dengan kriteria tertentu, dan tolong serahkan bulan sekian, dengan harga 1 dinar dibayar kredit sampai tanggal sekian."

Kemudian penjual menerimanya. "Transaksi ini batal, tanpa ada perbedaan pendapat ulama." (al-Majmu Syarh Muhadzab, 9/400).

Bahkan Syaikh Islam membatasi, bahwa bentuk jual beli kalibil kali yang terlarang hanya bentuk ini. Beliau mengatakan, "Adanya larangan jual beli kali bil kali al-Kali artinya tertunda yang belum ada di tangan, ditukar dengan sesuatu yang juga belum ada di tangan. Ini seperti orang yang melakukan akad salam untuk barang yang masih dalam tanggungan dengan bayaran tertunda, sehingga keduannya tertunda. Jual beli semacam ini tidak boleh dengan sepakat ulama. itulah baI al-Kali bil Kali." (Majmu Fatawa, 20/512).

Contoh riil jual beli semacam ini di zaman kita adalah jual beli inden. Pesan barang kepada seorang penjual, sementara si penjual belum memiliki barang, dan konsumen diminta bayar DP. Sebagai ilustrasi,

Mukidi pemilik konter HP. Datang Paijo hendak membeli HP merk JaDe. Saat itu Mukidi tidak punya barang yang dimaksud, dan Mukidi menjanjikan barangnya akan dipesankan ke produsennya dan akan datang sebulan lagi. Lalu Mukidi minta agar Paijo bayar DP dulu 10%. Lalu mereka melakukan akad dan transaksi, deal harga dan berpisah. Ketika Paijo membayar DP, pembayarannya tidak tunai. Sehingga uang terutang. Sementara Mukidi belum memiliki barang. Sehingga barangnya juga terutang. Ketika ini ditransaksikan, jadilah tukar menukar antara utang dengan utang.

Demikian, Allahu alam. [Ustadz Ammi Nur Baits]

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA