Dilarang Syariat : Puasa Setiap Hari

IN
Oleh inilahcom
Jumat 27 Maret 2020
share
(Istimewa)

IBADAH harus dilakukan berdasarkan aturan. Ibadah tanpa aturan, tidak akan membuahkan pahala, bahkan justru menjadi sebab dosa. Sehingga tidak heran, ketika ada orang yang ahli ibadah, namun dia justru menjadi ahli neraka. Sebagaimana yang dialami para rahib, yang menghabiskan hidupnya untuk beribadah di kuilnya.

Demikian pula puasa. Semua orang memahami, puasa adalah ibadah yang nilainya luar biasa. Namun jika puasa ini dilakukan tanpa aturan, puasa ini justru akan menjadi sumber dosa dan bukan pahala. Ada 6 jenis puasa yang terlarang dalam syariat, berikut rinciannya,

Pertama, puasa setiap hari (puasa dahr)

Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu anhuma pernah bertekad untuk puasa setiap hari dan shalat tahajud sepanjang malam. Mengetahui hal ini, Nabi shallallahu alaihi wa sallam langsung menegurnya, "Jika kamu lakukan tekadmu itu, membuat matamu cekung dan jiwamu kecapekan. Tidak ada puasa bagi orang yang melakukan puasa dahr (puasa setiap hari)." (HR. Bukhari 1979).

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Tidak ada puasa bagi orang yang puasa abadi." (HR. Bukhari 1977 & Muslim 1159).

Dr. Musthafa Bagha ulama syafiiyah kontemporer menjelaskan makna puasa abadi yang dilarang dalam hadis, Orang tersebut berpuasa setiap hari sepanjang usianya dan tidak pernah meninggalkan puasa, kecuali pada hari diharamkan untuk berpuasa, seperti hari raya atau hari tasyrik. (Taliq Shahih Bukhari, 3/40).

Bahkan terdapat ancaman keras bagi orang yang melakukan puasa sepanjang usianya. Dari Abu Musa Al-Asyari radhiyallahu anhu, beliau mengatakan,

"Siapa yang melakukan puasa sepanjang masa, neraka jahannam akan disempitkan untuknya seperti ini." Kemudian beliau menggenggamkan tangannya. (HR. Ahmad 19713. Syuaib Al-Arnauth menilai hadis ini shahih mauquf (keterangan Abu Musa). Namun apakah itu sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, diperslisihkan ulama tentang keshahihannya. Tetapi mengingat ini masalah ghaib, tidak mungkin seorang sahabat berbicara murni dari pikirannya, sehingga dihukumi sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam).

Al-Hafidz Ibn Hajar menjelaskan, Zahir hadis, jahanam disempitkan baginya dalam rangka mengekangnya, karena dia menyiksa dirinya sendiri dan memaksa dirinya untuk puasa sepanjang masa. Disamping dia membenci sunah Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan meyakini bahwa selain sunah beliau (dengan puasa sepanjang masa), itu lebih baik. Sikap ini menuntut adanya ancaman keras, sehingga hukumnya haram. (Fathul Bari, 4/222).

[baca lanjutan]

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA