Dilarang Syariat : Puasa di Hari Meragukan

IN
Oleh inilahcom
Sabtu 28 Maret 2020
share
(Foto: Ilustrasi)

IBADAH harus dilakukan berdasarkan aturan. Ibadah tanpa aturan, tidak akan membuahkan pahala, bahkan justru menjadi sebab dosa. Sehingga tidak heran, ketika ada orang yang ahli ibadah, namun dia justru menjadi ahli neraka. Sebagaimana yang dialami para rahib, yang menghabiskan hidupnya untuk beribadah di kuilnya.

Demikian pula puasa. Semua orang memahami, puasa adalah ibadah yang nilainya luar biasa. Namun jika puasa ini dilakukan tanpa aturan, puasa ini justru akan menjadi sumber dosa dan bukan pahala. Ada 6 jenis puasa yang terlarang dalam syariat, berikut rinciannya,

Kelima, puasa hari syak (meragukan)

Dari Ammar bin Yasir radhiyallahu anhuma, beliau mengatakan, "Siapa yang puasa pada hari syak maka dia telah bermaksiat kepada Abul Qosim (Nabi Muhammad) shallallahu alaihi wa sallam." (HR. Bukhari secara Muallaq, 3/27).

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan, "Hadis ini dijadikan dalil haramnya puasa pada hari syak. Karena sahabat Ammar tidak mungkin mengatakan demikian dari pendapat pribadinya, sehingga dihukumi sebagaimana hadis marfu (sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam). (Fathul Bari, 4/120).

Apa itu hari syak? Hari syak adalah tanggal 30 syaban, hasil dari penggenapan bulan syaban, karena hilal tidak terlihat, baik karena mendung atau karena cuaca yang kurang baik. (As-Syarhul Mumthi, 6/478).

An-Nawawi mengatakan, "Hari syak adalah tanggal 30 syaban, dimana banyak orang membicarakan bahwa hilal sudah terlihat, padahal tidak ada satupun saksi yang adil, dirinya telah melihat." (Al-Majmu, 6/401).

Salah satu contoh puasa hari syak adalah puasa yang dilakukan oleh kaum muslimin di tanah air berdasarkan hisab, padahal hilal belum kelihatan. Sehingga, sejatinya hari itu adalah tanggal 30 syaban dan bukan 1 ramadhan.

[baca lanjutan]

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA