Beda Menggantungkan dan Membutuhkan

KA
Oleh KH Ahmad Imam Mawardi
Kamis 02 April 2020
share
(Foto: Ilustrasi)

SIAPA yang bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain? Lahirnya kita saja dibantu bidan atau dukun anak. Matinya kitapun nanti digotong orang lain ke lahan kuburan. Namun ada yang merasa dirinya selalu sakit saat membutuhkan orang lain, karena sangat mungkin ia berujung kecewa.

Kepada orang yang mengalami hal seperti ini basanya saya sampaikan: "Jangan-jangan Anda bukan berada pada posisi membutuhkannya, melainkan memposisikan diri sebagai orang yang menggantungkan diri kepadanya. Menggantungkan diri kepada makhluk itu adalah bagian cacat tauhid."

Menggantungkan diri kepada makhluk itu tidak boleh, dan itu seringkali menghadirkan perasaan menyesal dan kecewa. Jangan salahkan orang lain, salahkan saja diri sendiri mengapa tak menata hati sesuai dengan pelajaran para nabi dan rasul. Orang lain tetap kita butuhkan, yang penting orang yang kita butuhkan adalah yang akan menjadikan hidup kita lebih baik.

Lalu saya teringat salah satu kisah lama berikut ini: Suatu hari Umar al-Faruq mendengar seorang lelaki berdoa: "Ya Allah, jadikanlah saya sebagai orang yang tidak lagi membutuhkan manusia." Sayyidina Umar berkata: "Kamu minta mati ya? Cukup engkau berdoa 'Ya Allah, lindungi aku dari kejahatan manusia dan jangan butuhkan aku pada kejahatannya."

Dua poin bisa diambil dari kisah tersebut: pertama, tidak ada orang yang tidak membutuhkan orang lain. Sekaya dan setinggi apapun pangkat seseorang pastilah membutuhkan kehadiran orang lain dalam hidupnya. Tidak semua hal bisa diatur oleh dompet dan telunjuk. Sekali lagi, belum ada ceritanya mayat bisa jalan sendiri dan menguburkan dirinya sendiri. Ia butuh orang lain. Karena itu, teruslah berbuat baik kepada sesama, tutuplah kemungkinan kita menjadi penyebab derita orang lain.

Poin kedua adalah bahwa kita perlu membentengi diri dari kejahatan atau perilaku jelek seseorang. Membentengi diri dengan doa adalah jalan yang sangat mulia karena bermakna kita memasrahkan jalan hidup kita kepada Dzat Yang Maha Pengatur. Bukan tidak boleh secara dhahir memiliki satpam dan atau petugas keamanan lainnya, namun jangan lupakan mohon perlindungan kepada Dzat Yang Maha Tahu atas sesuatu yang belum kita tahu.

Semoga Allah senantiasa bersama kita, menyelamatkan kita dan membimbing kita menuju ridla dan surgaNya. Salam, AIM, Pengasuh Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya. [*]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA