Hikmah Pandemi Covid-19 Bagi Umat Islam

RR
Oleh Rinaldi Rais
Jumat 03 April 2020
share
 

...WALAU corona oh mas kawinnya. Potongan bait lagu sang Ratu Dangdut Elvi Sukaesih, itu bukti menolak mahar kawin mobil mewah sedan era 1970-an. Umi Elvi pun sekarang ini, Penulis yakin, menolak walau sangat awam soal virus corona yang kondang digelari Covid-19.

Ketidaktahuan mantan pasangan Raja Dangdut, Rhoma Irama itu juga bahkan diyakini tidak mau tahu dibalik pandemi asal Wuhan, Tiongkok.

Apakah si-virus itu sejenis senjata biologis pemusnah massal negerinya Mao Tse Tung, yang bocor atau dibocorkan, atau malah bagian konspirasi dari ciptaan Sang Dalang untuk mewujudkan syahwat rakus menguasai dunia? Pertanda sebuah kesombongan manusia.

Namun jelas virus corona itu, konon, bagian dari siklus 100 tahunan. Mulai wabah Bubonik alias Sampar (1720), melanda Kota Marseille, Perancis, yang menelan korban mati 100 ribuan jiwa. Disusul wabah kolera (1820) di India, yang merenggut nyawa 100 ribuan orang hingga Asia dan mampir ke Indonesia. Wabah dahsyat lain (1920) bertitel H1N1 dikenal Flu Spanyol, yang menyerang kekebalan tubuh & menginfeksi 500 juta orang se-jagat.

Kendati begitu, persebaran Covid-19 di Wuhan sukses dihentikan pemerintahan komunis yang kapitalis dalam tempo tiga bulan, setelah dipaksa lockdown. Walau sempat sang pemimpin tertinggi meminta fatwa serupa Mahkamah Agung untuk "mematikan" pasien demi menyetop pesebaran virus serumpun influensa.

Banyak negeri adidaya panik. Mikroorganisma berdiameter 0,125 mikrometer itu mumpuni meluluhlantakkan sosial ekonomi Amerika Serikat, Italia, Spanyol, India, Cina, tanpa kecuali Indonesia.

Kendati berbeda taktik penanganannya seperti pilihan lockdown, kecuali Indonesia memilih menerapkan UU darurat sipil plus pembatasan wilayah skala besar & bukan karantina.

Pasukan Allah

Covid-19 itu, diyakini sejumlah agamawan, sebagai pasukan Allah (QS Ahzab:33). Makhluk hidup ini mirip nyamuk yang melabrak pengikut & menyiksa Raja Namrudz bin Kanan, yang menyusup hidung masuk ke kepala, semasa Nabi Ibrahim.

Konon, Namrudz yang tidak pernah sakit selama 400 tahun menguasai wilayah Lebanon-Palestina-Suriah-sebagian Yordania-Mesir, telah menyebut dirinya Tuhan.

Nasib serupa dialami Raja Mesir kuno Firaun, yang juga mengaku Allah, bersama tentaranya tewas tenggelam di Laut Merah, saat mengejar Nabi Musa & kaumnya membelah air laut. (QS Baqarah:50).

Hikmah pandemi Covid-19, bagi Islam, memaksa umat Muhammad bermuhasabah keimanan. Di rumah merenungi makna silaturahim keluarga batih, bertetangga, hingga ibadah berjamaah di lingkungan.

Teknologi semisal gadget dikembalikan fungsinya sebagai alat bantu manusia tanpa harus memutus silaturahim tatap muka, bersalaman, sampai melenakan dari ibadah kepada Sang Khalik.Juga, seperti video unggahan euronews/ESA, sebagai cara Allah SWT memperbaiki alam semesta dengan menebalnya lapisan ozon dan terbentuknya kembali lapisan es di Kutub. Wallahu alam bisawab.

*Rinaldi Rais, Advokat/KAI (Kongres Advokat Indonesia)

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA