Gagal Menebak Maksud Hati Sang Kyai

KA
Oleh KH Ahmad Imam Mawardi
Rabu 13 Mei 2020
share
(Foto: Ilustrasi)

PAGI itu diskusi para santri dan keluarga besar pesantren heboh dengan aksi kiai yang pagi-pagi sekali mengumpulkan banyak jerigen untuk diisi bensin dari POM. Sang kiai mengutus beberapa santri bersama-sama ke POM bensin. Tak ada yang berani bertanya dan berani menolak. Akhlak utama santri adalah sami'na wa atha'na (kami mendengar, kami patuh).

Sebagian santri menduga bahwa perilaku kiainya ini merupakan pertanda BBM akan naik harga dan menjadi langka mengingat negara-negara produksi minyak dunia sedang kalang kabut dengan urusan perang dan ancaman krisis pangan. Dugaan ini dibantah oleh santri yang lain yang percaya sekali bahwa Pertamina masih posisi siap siaga mengamankan supply BBM untuk negeri ini.

Beberapa ustadz di pesantren itu menganggap bahwa sang kiai sedang melaksanakan perintah ghaib yang pasti penuh hikmah. Tidak seperti biasanya, hari itu sang kiai memborong bensin dengan jumlah uang pembelian 5 juta rupiah. Pendapat ustadz ini dibantah oleh ustadz lainnya yang menyatakan bahwa ghaib tak memiliki urusan dengan bensin. Urusan bensin adalah urusan dunia murni. Diskusi semakin menghangat.

Yang menjadikan lebih tak mengenakkan suasana adalah saat aksi borong bensin ini diangkat oleh para santri millenial sebagai kabar atau isu yang viral di media sosial. Ada efek besar berupa pemborongan BBM oleh masyarakat, mengikuti aksi sang kiai. Sebagian wali santri beralih menjadi pedagang bensin eceran, menafsirkan aksi kiai itu sebagai perintah tidak langsung tentang kerja.

Karena tak ada yang berani bertanya langsung kepada sang kiai, beberapa pengurus pondok senior bertanya kepada bu nyai tentang apa motif dan maksud kiai membeli bensin seharga Rp5 juta itu. Sambil memijat betis sang kiai, bu nyai memberanikan diri bertanya. Bagaimanakah jawaban sang kiai?

Lama sekali kiai diam tak menjawab. Lalu beliau berkata bahwa dua malam yang lalu saat beliau berceramah di sebuah pulau yang jauh, beliau disalami tuan rumah amplop berisi uang Rp5 juta. Saat amplop itu disampaikan, tuan rumah berkata: "Terimakasih kiai atas kerawuhannya. Mohon maaf, ini sekadar untuk uang bensin." Kiai taat sekali pada kata-kata tuan rumah, uang itu dibelikan bensin, tidak diberikan kepada bu nyai untuk mengasapi dapur pesantren.

"Makanya kalau kasih uang sama kiai jangan dilengkapi perintah-perintah yang multi tafsir. Bisa bikin heboh dunia." Hahahahaaaa, salam pagi. Beginilah efek lama tak undangan gara-gara Corona, lalu ingat kisah lucu beberapa penceramah. Catatan: "ini bukan pengalaman pribadi." Salam, AIM. [*]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA