Pelajaran Berharga dari Lampu PLN Mati

KA
Oleh KH Ahmad Imam Mawardi
Minggu 24 Mei 2020
share
 

SAAT ini PLN sedang mati bersama di wilayah kami. Gelap dan sunyi suasananya. Tadarrus di pondok kami belum selesai, memasak nasi untuk sahur pu belum matang betul. Beginilah hidup, kadang terjadi hal-hal tak terduga. Mau mengeluh? Apakah menyelesaikan masalah? Ataukah akan semakin membuat pening kepala?

Salah seorang anak kami masuk ke dapur mencari makanan. Makan buka puasanya terlalu sedikit, katanya. Kalorinya dibakar dengan melaksanakan shalat tarawih. Dalam gelap dia makan. Saya sampaikan agar makanannya dikunyah yang banyak baru ditelan. Makan malam saat gelap seperti itu mengingatkan saya pada dua hal berikut ini.

Pertama saya ingat pada nasehat: "Jadilah bagai tangan, dalam gelap ia tahu kemana jalan yang tepat menuju mulut untuk memasukkan makanan." Saya tersenyum ingat nasehat ini yang memang memiliki makna sangat dalam, yaitu bahwa walau hidup kita ditempa musibah atau derita, janganlah melakukan hal tak benar. Ikuti saja jalur yang basa yang diyakini sudah benar.

Kedua adalah saya teringat kepada nasib orang miskin yang membeli tiga buah jeruk untuk dijafikan santapan buka puasa. Demi vitamin C peningkat immune tubuh katanya. Setibanya waktu berbuka, begitukecewanya dia saat membuka jeruk pertama. Jeruk pertama ada banyak ulatnya, walau kecil-kecil. Jeruk pertama itupun akhirnya dibuang. Dia buka jeruk kedua, ternyata sama. Semakin dia kecewa. Dia tak berani membuka jeruk ketiga takut kecewanya menjadi tiga kali lipat. Dia menunggu agak malam dan suasana menjadi gelap. Dibukalah jeruk ketiga, tak terlihat ada ulat-ulat, karena gelap. Dia bersyukur memakannya sambil berkata: "Alhamdulillaah, manis juga jeruk ini walau ada pahitya sedikit." Selalulah cari cara untuk tidak kecewa. Selamat menikmati hidup. Lampu menyala kembali. Salam, AIM. [*]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA