Everything Changes and Ends

KA
Oleh KH Ahmad Imam Mawardi
Minggu 07 Juni 2020
share
 

SEGALA sesuatu akan berubah dan akhirnya musnah. Ini adalah salah satu hakikat hidup di dunia yang harus kita pahami. Judul di atas adalah salah satu dari lima kebenaran hakikat hidup yang dikemukakan oleh David Ricoe, psikolog yang terkenal itu.

Kalimat yang maknanya sama juga dikemukakan oleh para masyayikh, guru dan pakar agama. Mereka sepakat bahwa salah satu yang tetap dan pasti adalah karakter berubah dari kehidupan ini. Dengan meyakininya maka kita akan relatif tenang menghadapi perubahan.

Paparan di atas saya sering sekali menyampaikannya, termasuk dalam kajian beberapa waktu yang lalu yang dilaksanakan secara online oleh salah satu perusahaan besar yang sangat terkenal di Indonesia. Menyadari pastinya perubahan seharusnya menyadarkan kita untuk mempersembahkan yang terbaik di setiap waktu dan tempat. Lebih dari itu, kesadaran itu harus mengantarkan pada kemauan meletakkan posisi diri pada posisi yang layak sesuai waktu dan tempat.

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Di antaranya adalah bahwa semua harus belajar berdamai dengan waktu karena waktu akan selalu memaksa kita untuk berubah, berpindah dan atau pergi. Pada saatnya, muda akan menjadi tua, gagak akan menjadi loyo, cantik dan ganteng berubah menjadi tak lagi catik dan ganteng, sehatpun berubah menjadi sakit. Bersama itu, kekuasaanpun akan berpindah tangan, kejayaanpun akan berpindah pangkuan, keterkenalanpun akan beralih orang, kepemilikanpun akan berganti status.

Semakin banyak hal yang kita klaim sebagai milik kita, semakin perih kita menjalani waktu. Semakin kita mampu menyadari bahwa segalanya adalah secara mutlak milik Allah, maka semakin ringan beban hidup yang akan kita rasakan. Inilah pesan tersembunyi dibalik pernyataan Allah bahwa semua kekuasaan, perbendaharaan harta dan segala sesuatu yang ada atau yang akan ada di langit dan di bumi adalah milik Allah SWT.

Kasihan para mantan orang terkenal yang tak lagi terkenal dan masih ingin terkenal seperti dulu. Bisanya cuma geram dan depresi. Kasihan para mantan pejabat yang tak lagi menjabat dan masih ingin menjabat sampai-sampai lupa bahwa dirinya sudah udzur alias tua. Bisanya cuma geram dan depresi akibat post-power syndrom.

Kasihan pula bagi mereka yang dulu menjadi orang top, selalu dikunjungi dan dijadikan rujukan hidup yang kemudian kehilangan pengikut karena sudah beda zaman dan beda tradisi. Bisanya cuma geram dan depresi serta menyalahkan apa yang ada kini.

Yang paling santai dalam damai adalah mereka yang merasa dan berkeyakinan bahwa satu-satunya yang tak akan pernah berubah adalah Allah sebagai Tuhan dan diriNya sebagai hamba. Hamba adalah dimiliki dan bukan memiliki. Yang ada padanya adalah hanya sekedar titipan dari Tuhannya. Lalu, dimanakah celah untuk menjadi sombong, memamerkan kuasa dan kepemilikan serta mempertontonkan kegagahan dan kecakepan diri?

Tak ada yang abadi. Semua akan dipaksa berubah oleh waktu. Berdamailah dengan waktu dengan mengisinya dengan kegiatan yang disuka waktu. Mari kita serius memanfaatkan sisa waktu bagian akhir dari bulan suci Ramadlan ini. Salam, AIM. [*]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA