Tercepat Tapi Bukan Jalan Pintas dari Musibah

KA
Oleh KH Ahmad Imam Mawardi
Minggu 14 Juni 2020
share
 

TAK semua orang memiliki kemampuan untuk menikmati indahnya takdir Allah yang bernama musibah. Sebagaimana nikmat, musibah juga merupakan takdir Allah. Banyak sekali yang bertanya bagaimana cara cepat keluar dari masalah atau terbebas dari musibah. Adalah sebuah kebiasaan baru masyarakat jaman kini untuk selalu mencari jalan pintas, jalan yang dianggap paling cepat karena memotong jalan jalur yang harus biasa dilalui.

Beberapa orang datang kepada saya mengeluhkan deritanya dan meminta cara tercepat keluar dari masalah itu. Saya tak segera menjawab karena saya sendiri belum sampai pada tahap tidak mengeluh sama sekali, Kepada mereka saya jawab dengan menggunakan jawaban guru-guru saya dan orang-orang yang dawuhnya saya baca dan saya dengar. Menurut saya, apa yang disampaikan guru-guru saya itu adalah benar.

Bukan jalan pintas yang disampaikan oleh para guru itu, karena jalan pintas biasanya mengharuskan peniadaan jalur yang harusnya ditempuh. Yang disampaikan para guru adalah jalan pokok atau jalan utama yang terlalu sering dilupakan oleh banyak orang yang ditimpa musibah.

Kebanyakan manusia saat tertimpa musibah adalah sibuk dengan kalkulasi kepalanya sendiri, lalu mereka pening dan sakit kepala, penyakit tambahan yang tiba-tiba ikut menimpanya. Kebanyakan manusia biasanya sibuk dengan mencari pelarian diri untuk melupakan atau menjauhi musibah itu, padahal musibah itu terus saja menempel di hatinya dan tak pernah menjauh dari dirinya.

Jalan pokok atau jalan utama untuk segera terbebas dari musibah, menurut para guru, adalah dengan memperdekat jarak hubungan diri kita dengan Allah yang mengatur semua takdir. eruslah mendekat hingga kita selalu bersama dengan Allah. Saat kita telah bersama Allah, maka semua yang tak nyaman menjadi nyaman, semua yang kusut kembali menjadi terurai rapi, semua yang buruk menjadi indah kembali.

Lalu bagaimanakah cara kita mendekat dan bersama Allah? Mulailah dengan baik keyakinan bahwa Allah adalah Dzat yang senantiasa mengatur dengan aturan terindah dan terbaik dan bahwa selalu saja ada hikmah di balik semua takdirNya. Lalu pasrahkan semua takdir kita kepadaNya dan mintalah selalu kepadaNya agar menjadikan kita sebagai hambaNya yang ridla, penuh syukur dan sabar. Lalu tersenyumlah.

Jangan terlarut dalam indahnya lamunan untuk hidup tanpa ujian dan cobaan. Hal ini tidak mungkin. Namun berharaplah untuk bisa menikmati segenap tetes takdir. Yang seringkali menggelisahkan sebagian kita adalah melihat orang lain sepertinya nyaman-nyaman saja dan yang tak nyaman hanyalah kita.

Prasangka seperti ini adalah salah. Semua kita sama dalam hal lika-liku hidup. Yang berbeda hanya satu, kita mengeluh dan mereka tidak. Ucapkan selamat tinggal pada keluhan dan mari kita belajar untuk mulai mendekat kepadaNya dan ridla atas segala ketentuanNya. Salam, AIM. [*]

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA