Aku Ingin Semulia Bahagia Rasulullah

KA
Oleh KH Ahmad Imam Mawardi
Kamis 18 Juni 2020
share
 

BAGI semua orang Islam yang beriman, pastilah Rasulullah Muhammad diyakininya sebagai manusia teladan dalam segala hal. Pertanyaannya adalah apakah semua kita berkeinginan untuk meledani beliau? Semua orang Islam yang beriman berkeyakinan bahwa Rasulullah Muhammad adalah tuan dari semua nabi dan utusan, dan karenanya maka Nabi Muhammad adalah manusia paling mulia dan bahagia dari semua makhluk. Beliau diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Peranyaannya, jika kita ingin bersama beliau dan mulia bahagia mengikuti beliau, inginkah kita mengikuti gaya hidup beliau?

Mari kita timbang-timbang posisi gaya hidup kita dengan posisi gaya hidup beliau. Satu hal saja sebagai ukuran paling mudah, yakni hubungan kita dengan harta duniawi. Gunung Uhud menawarkan diri untuk menjadi emas agar bisa dimiliki dan digunakan Rasulullah. Rasulullah menolaknya. Bagaimanakah dengan seandainya batu atau kerikil yang ada di sekitar kita menawarkan diri kepada kita untuk menjadi emas. Apakah kita akan menolak? Ataukah memang keajaiban seperti itu yang kita inginkan?

Banyak yang bertanya mengapa Rasulullah menolak? Ada beberapa jawaban yang bisa dikemukakan yang saya sarikan dari berbagai kitab bacaan saya selama ini. Jawaban pertama dan utama adalah untuk menunjukkan kepada umat manusia semuanya bahwa kepemilikan harta benda itu TIDAK MENJADI UKURAN MULIA BAHAGIA SESEORANG.

Benar bahwa Nabi Sulaiman itu kaya dan mulia, namuan Fir'aun juga kaya jaya namun menjadi manusia yang dilaknat Allah. Benar bahwa Sayyidina Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan Urwah bin Zubair itu kaya mulia dan bahagia, namun Qarun juga kaya tapi tidak mulia bahagia. Kalau kita setuju, berhentilah memandang mulia seseorang karena kepelikan hartanya. Tanyakan dari mana hartanya dan untuk apa hartanya itu. Inilah ukuran mulia bahagia.

Kedua adalah bahwa ujian orang yang memiliki kekayaan harta jauh lebih tinggi atau lebih berat dibandingkan dengan ujian orang tidak memiliki kekayaan harta dunia. Buktinya mudah saja saja, lihatlah betapa yang punya harta banyak itu tidak ada yang menjamin lebih santai dan lebih nyenyak tidur serta tidak stress.

Yang punya potensi kehilangan sesuatu adalah yang memiliki sesuatu. Yang tidak memiliki apapun maka tak akan pernah kehilangan apapun. Yang kehilangan mobil adalah yang punya mobil, yang kehilangan jabatan adalah yang punya jabatan. Demikian juga kepemilikian yang lain. Yang berbagaia adalah yang menyatakan: "SEMUA INI ADALAH MILIK ALLAH YANG SEDANG DITITIPKAN KEPADA SAYA."

Alasan lainnya mengapa Rasulullah menolak gunung UHud menjadi emas adalah karena khawatir umatnya nanti memiliki pekerjaan utama sebagai pencari harta duniawi. Tidak diberikan contoh berburu dunia saja kita bisa lihat betapa banyak manusia yang mengejar harta sampai melupakan teladan Rasulullah yang penting diaplikasikan dalam hidup ini. Termasuk saya, barangkali. Ya Allah bimbing kami menuju ridlaMu.

Masih banyak alasan yang lain yang "nonjok" banget pada gaya hidup kita sebagai umatnya. Lalu, apa yang harus kita lakukan dan bagaimanakah gaya hidup terbaik yang harus kita tampilkan dalam hubungannya dengan harta ini. Apa plus minus kepemilikan harta dan mana yang lebih baik antara menjadi kaya, menjadi miskin dan menjadi sedang-sedang saja. Pertanyaan ini perlu dibahas dalam forum pengajian yang berdurasi panjang. Semoga ada kesempatan. Salam, AIM

# TAG

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA